Menulis Sejarah Kontemporer Pergerakan

Drs. Sudartoyo
Wakil Sekretaris DPD Partai GERINDRA Propinsi DIY
Bantul, DIY, Rabu, 28 Mei 2008

sudartoyo
Dari sejumlah perkakas pencari (search engine) di internet, begitu kita menulis “Partai Gerindra,” maka yang muncul paling atas adalah http://pakyok.wordpress.com. Desain dan tataletaknya standar, bahasa yang berkembang demikian ramai –bahkan sangat gaul– tetapi sekaligus menegaskan keseriusan sang kerani. Kerani itu adalah Drs. Sudartoyo, yang akrab dipanggil Masdaar, Om Yoyok, Pakyo,’ atau Pakdar.

Untuk membincangkan sejarah pergerakan di Indonesia, Sidang Redaksi GERINDRA Forum mewawancarai sejarawan dari kampus Sonosewu tersebut. Beberapa cangkir kopi “klothok” mengakrabkan wawancara dengan kesibukannya yang tiada henti.

Bagaimana Anda mengapresiasi sejarah Indonesia sebagai kearifan kaum pergerakan?
Salah satu pertanyaan dasar yang menemani para pencari kebenaran dalam lintasan sejarah adalah “apa yang menggerakkan seseorang dalam hidupnya?“ Gerak seseorang dalam ruang-waktu inilah yang menyatakan lapisan-lapisan keseharian dan kehidupannya.

Indonesia modern, misalnya, merupakan lapisan-lapisan panjang kesejarahan yang mampu menjawab agenda manusia Indonesia dewasa ini. Dengan demikian, Indonesia yang ber-bhineka dan ber-ika merupakan agenda terbuka. Kita akan lebih menghargai apa arti dialog dan keterbukaan. Jadi, sejarah bukanlah data dan fosil yang gamang dengan perubahan dan percepatan perubahan.

Bukankah ingatan manusia cenderung selektif, sehingga lebih menyukai satu kearifan sejarah dan melupakan yang lain?
Pada awalnya memang kolektif. Peristiwa yang tengah berlangsung dan manusia yang melibatkan diri di dalamnya akan mengalami sejarah yang bergerak. Tetapi dengan bergantinya waktu, ingatan cenderung selektif.

Ambil kasus ketika sejumlah elemen masyarakat cenderung bersikap non-kooperatif terhadap pemerintah. Model ingatan kolektif-selektif akan menghadirkan lapisan peristiwa sejarah kaum pergerakan, misalnya, dengan berdirinya Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) pada 24 Mei 1937. Suasana hati saat itu menyadarkan betapa gaya pergerakan yang membentur tembok justru tidak menjanjikan perubahan. Partindo (Partai Indonesia) yang bergaya politik agitasi serta konfrontatif pun berakhir buntu dan bubar. Kita dipaksa untuk arif dalam menyikapi dan memilih gaya kooperatif atau nonkooperatif.

Sejarah pergerakan 1930-an memang sumber belajar sosial yang mencerahkan dalam hal gaya kooperatif atau nonkooperatif…
Pada akhirnya, Agoes Salim melakukan “politik hijrah,” perpindahan jalur perjuangan ketika dikeluarkan dari PSII (Partai Sarikat Islam Indonesia) pada 1937. Salim lebih memilih kooperatif ketimbang nonkooperatif. Kita mencatat, Gerindo menjadi salah satu pelopor berdirinya GAPI (Gabungan Politik Indonesia), gabungan dari Parindra, Gerindo, Persatuan Minahasa, Partai Islam Indonesia, Partai Katolik Indonesia, Pasundan, dan PSII.
Nah, adakah keterhubungan antara masalalu, kekinian, serta masadepan kaum pergerakan yang menyerukan perubahan demi Indonesia Raya?

Jika keterhubungan tersebut adalah masalah penafsiran sejarah untuk merubah Indonesia Raya yang lebih baik, apa yang menjadi prioritas kita?
Kita harus cerdas untuk membuat prioritas kooperatif atau nonkooperatif dan dengan siapa kita melakukan perlawanan. Ingat, ”lawan” berbeda dengan ”musuh.”

Karl Marx dalam “Thesen über Feuerbach“ (Pernyataan-pernyataan tentang Feuerbach, 1844) menuliskan betapa Die Philosophen haben die Welt nur verschieden interpretiert. Es kömmt aber darauf an, sie zu verändern (Para filsuf telah menafsirkan dunia hanya secara berbeda-beda. Namun yang terpenting adalah mengubah dunia itu). Bukankah pergerakan dan perubahan berbeda tipis?
Jika Marx dan kawan-kawan cenderung berkonflik, bahkan bermusuhan, kita juga belajar bahwa ada gaya yang berbeda. Sejarah Gerindo atau “politik hijrah”nya Agoes Salim merupakan gaya perlawanan terhadap rezim dominan yang cenderung nonkooperatif. Sama halnya dengan manusia, bahwa di samping konflik juga ada kebutuhan untuk berdialog. Pada sisi penafsiran inilah Marx melupakan keseimbangan ini dan hanya mau mengubahnya. Melupakan satu hal ternyata berakibat panjang dalam jejak perjalanan umat manusia. Pergerakan dan perubahan merupakan proses untuk meng-Indonesia yang lebih baik.

*** *** ***
Sudartoyo yang lahir di Kudus, Jawa Tengah, merupakan hasil dari sejarah pergerakan dan perubahan. Ada niat untuk mendaftar ke STM (Sekarang SMK) dan menjadi siswa SMA Negeri 3 Kudus, setelah setahun sebelumnya terdaftar di SMA Negeri 1.
Tetapi rentang jarak antara Kudus dan Bantul –tempat tinggalnya– bukan merupakan “politik hijrah” semata. Sebagaimana kegiatan mengajar di Pendidikan Sejarah UPY (Universitas PGRI Yogyakarta, dulu IKIP PGRI Yogyakarta) bersamaan dengan kesibukan sebagai pengorganisasi pameran, Sudartoyo tetap pengelola blog yang gigih. Hobinya sebagai orang teknik, menjadikan blog sejarahnya mampu hadir dengan data paling mutakhir.
Sarjana (S1) pertama yang dibanggakan di desanya itu tetap menulis tentang tempat-tempat bersejarah yang dikunjunginya. Visinya tegas, “mari kita membangun mulai dari diri sendiri untuk masa depan kita.” Ketika secangkir kopi hampir habis, Sudartoyo mengutip Artistoteles, dalam kitabnya yang lumayan berat, Metaphysics:
“Walau demikian mustahillah kita menciptakan atau memusnahkan gerak, ia pasti telah hadir sepanjang segala masa. Demikian pula dengan waktu, yang tidak dapat dimulai dan tidak dapat dihentikan, karena tidak mungkin ada ‘sebelum’ dan ‘sesudah’ di mana waktu tidak hadir. Dengan demikian, gerak juga kontinyu dalam makna yang serupa dengan waktu, karena waktu adalah salah satu: Sama dengan gerak, atau merupakan salah satu dari hakikat gerak itu sendiri, sehingga gerak harus terus berlanjut seperti mengalirnya waktu, dan jika demikian ia harus bersifat lokal dan sirkular. Gerak tidak dapat lahir dan tidak dapat mati: Demikian pula waktu tidak dapat lahir atau mati.”

*** *** ***
Bagaimana kita membangun GERINDRA mulai dari diri sendiri untuk masa depan kita?
Kita bisa menyebut bahwa sejarah kaum pergerakan hadir sepenuh-penuhnya melalui GERINDRA. Sebagai partai politik, kepengurusan GERINDRA sudah terbentuk di 33 propinsi, 408 kabupaten/kota, dan 2.323 kecamatan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini merupakan bukti dari kerja bersama yang saling mencerdaskan. Dari diri kita secara bersama kita tuliskan sejarah kontemporer GERINDRA. Ini yang dapat saya sampaikan melalui blog pribadi.

Sejarah GERINDRA adalah risalah pergerakan siang-malam. Dengan berasaskan Pancasila dan UUD 1945, partai ini barusan menyerahkan dokumen pendirian partai berdasar akta notaris Ny.Liena Latief di Jakarta pada 6 Februari 2008. Sejarah 3,5 bulan GERINDRA sampai saat ini adalah catatan kinerja, bahwa kita niscaya membangun mulai dari diri sendiri. (Imam Samroni)

Sumber: http://gerindra-forum.or.id/menulis-sejarah-kontemporer-pergerakan

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

3 responses to “Menulis Sejarah Kontemporer Pergerakan

  • Aditya

    saya baru tahu kalimat jerman Marx tentang tugas untuk mengubah dunia. Terimakasih untuk postingnya

    Suka

  • Hadi

    Kami dari caleg-diy.com. caleg-diy.com merupakan portal informasi tentang caleg yang ada di DIY. Untuk itu kami menawarkan portal ini kepada seluruh caleg dari partai GERINDRA.
    Untuk keterangan lebih lanjut bisa hub
    Telephone:
    (0274) 4333.896
    Mobile Phone:
    0878.3820.4939
    atau klik di Caleg-Diy.com

    Hormat kami,

    Hadi

    Suka

  • wardoyo

    semua sejarah unsurnya sama to pak, untuk apa kita agung-agungkan toh kita manusia juga bisa buat sejarah sendiri, sekarang atau hari esok toh menjadi catatan terpenting dalam hidup kita.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: