Tontonan, Tuntunan, dan Good Governanve

Sugiman
Wakil Ketua DPC Partai GERINDRA Kabupaten Sleman
Sleman, DIY, Minggu 19 Mei 2008
sugiman

Pengalaman delapan tahunan mengelola paguyuban campursari “Cindelaras,” yang berstudio di Karangmalang, Sleman, membawanya ke sejumlah pertanyaan dasar: Adakah keterhubungan antara mengelola tontonan campursari, transformasi menjadi tuntunan, dan tatakelola pemerintahan (good governanve). Sugiman “Kidang Alit,” demikian ia disapa di komunitasnya, berbagi cerita berdasar praktik lapangan. Menjadi Ketua Pemuda Karangmalang (1994-1999), Ketua Ketoprak “Setyo Budoyo” (1990-1995), juga Direktur CV Gunung Mas Wisata, mematangkan pengalaman hidupnya dengan sejumlah alternatif jawaban dan tindakan untuk mengelola keseharian. Berikut ini adalah sebagian catatan pembicaraan dengan Wakil Ketua DPC Partai GERINDRA Kabupaten Sleman, tengah malam (19 Mei), di lantai 2 Redaksi GERINDRA Forum.

Sebagai salah satu genre musik, popularitas campursari telah menjadi bahasa pergaulan di kalangan penikmatnya. Bisa Anda ceritakan?
Pertama-tama, campursari merupakan tontonan yang disukai masyarakat. Campursari telah menjadi tontonan yang menghibur, yang dengan pengelolaan tertentu, sekaligus mampu menjadi tuntunan. Dengan demikian, menonton campursari adalah mempraktikkan bahasa pergaulan, yaitu melibatkan diri dalam proses belajar berbudaya agar nomatif lebih baik. Popularitas campursari merupakan apresiasi penonton dalam kerja seni pertunjukan.

Apa pengelolaan tertentu itu?
Pengelolaan yang mampu menghubungkan kepentingan antara guyubnya campursari dengan para penonton. Dari panggung pertunjukan, MC (Master of Ceremony) harus mampu mengoptimalkan kerjasama penyanyi dan penabuh (pemain musik) sekaligus dengan para penontonnya. Itu adalah pengelolaan minimal. Dan akan menjadi tuntunan jika pengelolaan pertunjukan mampu “menyentuh” penontonnya dengan dasar-dasar etik yang menggugah. Ini yang tadi saya katakan sebagai proses belajar berbudaya agar nomatif lebih baik.

Bagaimana pengalaman Anda untuk “menyentuh” penonton?
Ini masalah tatakelola pertunjukan yang mampu mengoptimalkan kerjasama. Jika dilihat dari parapihak yang terlibat dalam pertunjukan, kerjasama meliputi MC, tim campursari, penonton, dan yang mempunyai hajat.
Keseluruhan kerjasama tersebut mampu menghibur sekaligus menuntun, bahwa pertunjukan campursari nyata-nyata merupakan praktik tindakan komunikatif. Bagi penonton, menikmati pertunjukan campursari menjadi pengalaman tersendiri yang mencerahkan. Bisa dari penyegaran memaknai syair lagu, mencerap panggung pertunjukan, juga menyikapi diri dari mau menonton sampai menyudahi tontonan.

Penjabarannya?
Pertama, MC harus pandai membaca situasi dan kondisi penonton. Ini lebih menyangkut seni pengelolaan. MC adalah penghubung kepentingan parapihak.
Kedua, performance penyanyi dan penabuh. Butuh pengaturan dan kesepakatan untuk penampilan dan pengelolaan panggung. Untuk penampilan, misalnya dalam hal pemilihan kostum penyanyi dan penabuh. Demikian juga pengaturan jarak antara penyanyi dengan penonton justru untuk menjaga kepenuhan pertunjukan agar tetap inspiratif.

Ketiga, kemampuan mengakomodasi permintaan penonton. Mengakomodasi berarti mencari titik temu kepentingan parapihak. Terhadap permintaan penonton, misalnya dalam hal mengatur ritme lagu. Jika waktu pertunjukan malam hari, lebih tepat jika awalnya adalah langgam klasik, selanjutnya semi, terakhir adalah campusari yang “full.”

Bisa lebih dijabarkan ritme pengaturan lagu tersebut?
Untuk langgam klasik misalnya “Yen Ning Tawang Ana Lintang,” “Caping Gunung,” “Nyidam Sari,” dan sebagainya. Untuk yang semi contohnya “Joko Lilur,” “Bojo Loro,” “Sengit,” “Tukang Becak,” dan lainnya. Sedangkan yang full (dangdut-jaipong) yaitu “Manten-Mantenan,” “Mendem Wedokan,” “Malam Terakhir,” dan masih banyak lagi.
Berdasar pengalaman, dengan mengurutkan seperti tadi, mampu menjembatani dan mengendalikan pertunjukan agar berjalan optimal. Dukungan alat musik yang baik, tatasuara yang tidak stooring, juga mekanisme pengamanan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan menjadi syarat dalam tatakelola pertunjukan. Katakanlah penonton sudah datang dengan permasalahan masing-masing, dengan pengaturan ritme lagu maka pertunjukan mampu menjadi penurun dan penawar emosi penonton.

Kasus penonton tawuran, sebagai misal, merupakan akibat dari banyak hal dan bukan melulu karena pertunjukan campursari. Dengan pengelolaan ritme lagu, potensi tawuran dapat dikendalikan.

Bagaimana dengan pengaturan alat musik?
Pertunjukan campursari membutuhkan seperangkat peralatan musik. Yaitu demung (1), saron (2), gender (3), gong (1), kendang batangan (1), kendang bem (1), kendang jaipong (1 set terdiri 3-4 kendang), dan siter (1). Juga Keyboard (2), cuk (1), bas gitar (1), dan drum (1 set). Saya tidak pernah menggunakan kendang surung/ketipung dalam pertunjukan campusari.

Kelengkapan alat musik berhubungan dengan jumlah penabuh. Untuk gamelan, bahan menentukan kualitas suara dan performance. Jadi ada perbedaan antara bahan besi dan perunggu. Catu daya listrik juga berpengaruh.

Ada kebijakan khusus dalam pengaturan kostum pemain?
Ya. Saya menghadirkan citraan kejawaan dalam pertunjukan campursari. Ini menyangkut reputasi saya tentang kerapian dan bonafid tidaknya paguyuban campursari. Oleh karena itu, kostum menjadi bahasa visual dan sangat diapresiasi penonton. Saya sering mendengar komentar, campursari kok kaosan (penabuh dan penyanyi berkostum kaos, Red.).

Untuk penabuh, kostum standar adalah beskap Metaraman termasuk nyamping (jarik), tetapi tidak menyelipkan keris dhuwung. Untuk pertunjukan di pondok pesantren, pakaian penabuh adalah berbaju koko, peci, sarung dilipat, dan celana panjang. Khusus penyanyi perempuan adalah berkebaya; dan berkerudung untuk pertunjukan tertentu. Pengaturan ini juga berlaku untuk bintang tamu. Sekali lagi, dasar etis pemilihan kostum adalah rapi, sopan, serta mampu mengantarkan pertunjukan campusari sebagai peristiwa budaya agar penonton mengalami dan mampu menyelenggarakan bahasa pergaulan yang normatif lebih baik. Pernah terjadi, kita mendapat order untuk mementaskan lagu “Kokorotomo” dicampursarikan. Untuk itu, penyesuaian dalam hal kostum adalah pemilihan beskap tanpa blangkon tapi sleyeran untuk penabuh dan baju Jepang untuk penyanyi.
Kembali ke tuntunan, bagaimana pengalaman Anda?
Dengan pengaturan awal seperti di atas, kondisi kita lebih siap untuk mentransformasi pertunjukan campursari dari tontonan menjadi tuntunan. Dalam hal ini, lantunan “Shalawat Badar” bukan sekedar identitas, melainkan fungsi untuk mentransformasi itu sendiri. Kemudian dilanjutkan dengan “Podho Elingo” dan tembang-tembang sinom yang sudah disiapkan.
Campursari mempunyai kekuatan yang dasyat untuk mentransformasi justru dalam beat dan ritme yang santun dan tidak meledak-ledak. Campursari merupakan pertemuan sekian alat musik dan mazhab, dengan kriteria keselarasan dan harmoni yang berorientasi penonton. Sebagai pemegang kendali, tugas dan fungsi MC sungguh sangat berarti.

***
Sugiman dilahirkan di Gunungkidul pada 18 Juni 1960. Ia juga kerap dipanggil dengan Kang Giman “Kidang Alit.” Sebagai pelaku dunia pariwisata, Sugiman menjadi manusia “lintas-dapil” (Daerah Pemilihan), yang terentang dari Nusa Tenggara, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan sejumlah propinsi di Sumatera dan Kalimantan. Perjumpaan dan perenungannya tentang Indonesia, Kejawaan, dan bisnis wisata menjadikannya manusia yang berbuat. Tidak terkecuali berbuat untuk dunia seni. Tentang dunia pariwisata yang digeluti, laki-laki berkumis tebal ini menyoal pentingnya kerjasama antara pemerintah kabupaten Sleman, pelaku usaha, dan masyarakat.
“Sejauh ini belum ada pengaturan dan fasilitasi dari Pemerintah Kabupaten Sleman untuk meningkatkan profesionalitas pertunjukan campursari. Ada potensi besar, misalnya dengan menata Telaga Putri Kaliurang, objek wisata di Sleman, sebagai panggung pertunjukan musik campursari. Sejauh ini, PCS (Paguyuban Campursari Sleman) telah menjadwal dan mengatur untuk pemerataan pentas dari masing-masing paguyuban campursari, khususnya di Kaliurang.
Permasalahan tentang tidak seimbangnya fee dalam pertunjukan, fasilitasi dan kebijakan untuk alat pertunjukan, juga sinergisitas antar-instansi bersama masyarakat untuk mengoptimalkan kunjungan, mestinya dapat terselesaikan.”

Didhudhuk, didhudhah, dan digugah
Kemanfaatan sumur adalah seberapa banyak airnya mampu memberi penghidupan warga. Tanah digali (didhudhuk), dicari sumber air (didhudhah), dan dikelola distribusinya (digugah) merupakan pandangan dasar tentang membuat sumur yang barakah. Demikian halnya dengan pengalaman memimpin paguyuban campursari “Cindelaras” merupakan praktik pengelolaan yang berorientasi kepada kepuasan warga:

Nulodho laku utomo
Wong agung ing Ngeksigondo
Panembahan Senopati

“Sinom parijotho mengajak penonton untuk menyegarkan pemahaman tentang laku keutamaan. Ada proses menemukan harmoni setelah tahapan-tahapan panjang mencari alternatif jawaban dari lingkaran permasalahan. Dalam pertunjukan campursari, sinom parijotho merupakan tuntunan bagaimana keterhubungan antara manusia di dalam ruang sosial-politik merupakan representasi dari makhluk yang dikreasi oleh Allah.”

Indonesia dewasa ini adalah gambaran jalan-jalan yang berkelok licin dan terjal. Ada pertentangan antara detradisionalisasi dan kosmopolitanisme. Merujuk Stuart Hall (dalam Kate Nash, 2000), keadaan ini memicu lahirnya identitas baru yang lebih politis, dalam lindungan berbagai identitas budaya serta agama. Dalam studi budaya, apresiasi terhadap identitas baru tersebut dipahami sebagai keunikan, keragaman, atau identitas budaya.
Dalam pengalaman Sugiman, keunikan, keragaman, atau identitas campursari mampu menawarkan hal-hal baru yang menggugah. Sebagai musik yang mengkomunikasikan beragam alat, identitas campursari justru terletak dalam tontonan dan tuntunan itu sendiri. Kepuasan penonton (costumer’s satisfaction) menjadi kriteria keberhasilan pertunjukan. Manajemen pertunjukan campursari adalah sebagaimana klaim-klaim tatakelola pemerintahan: Agenda dayacipta dan proyek besar yang tengah digadang-gadang di Republik ini sebagai alternatif penyelesaian masalah bangsa.
Menurut Sugiman, pengelolaan pertunjukan campursari yang mampu menuntun penonton merupakan model untuk pengembangan tatakelola pemerintahan. Dan sebagai partai baru, GERINDRA (Gerakan Indonesia Raya) sudah ketiban sampur untuk mengembangkan model tatakelola pemerintahan yang berpihak kepada masyarakat warga. Pilihan ber-GERINDRA adalah keputusan berarti di saat dan tempat yang tepat untuk Pemilu dan Pilpres 2009. Dalam ungkapan Jawa lama terumuskan, Sajroning jiwangga Kalingga Surya, Buwana Pinanggul Arsa, di salam sosok pribadi yang mengandung hikmat sinar surya yang menebarkan cahaya kehangatan, daya hidup, dan kemuliaan, maka dunia akan terengkuh dengan lembutnya. Sebagai suatu sistem, tatakelola pemerintahan akan memberi garansi berfungsinya pengelola yang memancarkan pengayoman sekaligus meluluskan segenap permohonan warga, terutama dalam hal kedamaian, ketentraman, kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemakmuran yang merata. Inilah panggilan GERINDRA. Mangga, Sedulur! (imam samroni).

Sumber: http://gerindra-forum.or.id/tontonan-tuntunan-dan-good-governance/

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: