Golput

serambi-jumat1

Koran Merapi SERAMBI JUMAT 30 Januari 2009

“Berdasar hukum negara yang berlaku, memilih itu hak, bukan kewajiban. Oleh karena itu, dibutuhkan gerakan dan program yang cerdas agar warga sadar memilih. Karena warga menggunakan hak pilih, maka partai politik mampu mengirim wakil rakyat yang berkualitas sebagai anggota DPR/DPRD. Kita berharap tugas legislasi dan pembuatan kebijakan publik menawarkan barakah bagi warga.”

Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian rutin, mengajukan kesimpulan awal. Kami duduk melingkar di serambi masjid. Tayangan video pendek tentang kampanye partai politik di sejumlah negara mampu menghadirkan pencerahan. Pak Yusdani dan Mas Fauzi bergantian menerjemahkan tayangan yang berbahasa Inggris dan Arab, yang sudah disiapkan Dik Brahim dari sejumlah situs jejaring sosial.

“Ada suasana hati warga yang kecewa terhadap anggota dan lembaga legislatif. Tiga bulan warga dihargai karena masa kampanye caleg dan 57 bulan berikutnya caleg yang jadi wakilnya berkhianat,” kata Pak Edi Safitri. “Saya kecewa dan tidak memilih para pemimpin di parlemen. Saya golongan putih, Bapak-bapak.”

“Tetapi saya bisa memahami dalil syar’i fatwa haram golput dari MUI,” sambung Bang Sayun. “Bukankah kita merujuk pada asalan bahwa wajib memilih pemimpin yang amanah (bisa dipercaya), sidiq (jujur), tabligh (menyampaikan), dan fatanah (cerdas).”

“Kalau yang terpilih adalah para pengkhianat warga? Bukankah warga menjadi malu dengan pilihannya yang hanya menodai parlemen sebagai institusi publik? Korupsi, skandal asmara, dan lain-lain,” tanya Paklik Sriyono.
“Kembali pada pernyataan wajib memilih calon yang amanah dan haram memilih yang tidak amanah, … bagaimana?” tanya saya.

“Bukankah lebih afdol jika terbit fatwa haram memilih caleg yang terlibat KKN dan membayar denda kaffarah dengan memberi makan kepada fakir miskin dalam jangka waktu tertentu, …” jawab Kang Heri Winarto.

Kami tersenyum mendengar jawaban Kang Heri. Lha-iya, kami sempat menonton tayangan bagaimana politik uang menjadi pilihan wajar berkampanye caleg. Kami terhenyak ketika pengamanan atribut kampanye telah menjadi bisnis. Kami tergugah dengan gerakan pendampingan warga yang dilakukan Sarvodaya di Srilangka.

“Kampanye terbaik tetaplah pendampingan warga untuk menggerakkan kewirausahaan. Bukan jumlah atribut bendera, bukan jumlah amplop uang yang disiapkan,” tegas Mas Ahmad Subagya.

“Dan terlalu murah untuk harga diri warga Jogja. Masak saya hanya dihargai sepuluh ribu dari caleg Senayan, dua puluh dari caleg Malioboro, dan empat puluh ribu dari tim caleg DPRD kabupaten. Ini perniagaan tujuh puluh ribu macam apa pula? Siyasah apa lagi“ tandas Pak Edi Safitri.

Pak Edi Safitri mengangkat tangan kanan bahwa yang disampaikan adalah data lapangan terbaru. Kami saling pandang. Alangkah sulit mencari wakil rakyat. Lanjut Pak Edi, “Jika konteksnya perniagaan, kampanye caleg sekarang akan mematangkan kurikulum golput: Matikan TV-mu jika ada kampanye partai.“

Pakde Adib Susila mengajak kami membaca kembali surat an-Nisaa’ ayat 29 bersama-sama, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Pak Yusdani melanjutkan dengan al-Jumu’ah ayat 11, “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.”

Pakde Adib mengajak kami merumuskan pekerjaan rumah ketika malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah: Maa huwal Iman? Maa huwal Islam, Maa huwal Ihsan? dan Matas-Sa’ah? Sudahkah kita bertanya kepada diri kita sendiri apa itu Iman? Apa itu Islam? Apa itu Ihsan? dan Kapan datangnya Sa’ah? dan sudahkah kita memahami jawaban-jawaban dari Rasulullah yang tidak kita belok-belokkan. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: