Mengelola Sampah (1)

Koran Merapi SERAMBI JUMAT 20 Februari 2009
serambi-jumat1
“Abaikan Protokol Kyoto yang mengikat optimalisasi pengelolaan limbah sampah semua negara. Abaikan Afrika Selatan, Irlandia, Paris, Rwanda, San Francisco, Taiwan, dan Zanzibar yang melarang/mengurangi penggunaan tas plastik bagi pembeli atau perusahaan. Lupakan daya tampung TPA Piyungan Bantul yang hanya sampai tahun 2012. Senyatanya, bagaimana kita membaca dan menyikapi limbah sampah sebagai masalah keseharian?”

Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian rutin, menyampaikan kesimpulan awal. Kami duduk melingkar di serambi masjid. Perhatian kami masih tertuju pada tayangan sejumlah video pendek tentang tatakelola sampah di sejumlah negara, yang disiapkan Ramadan Ibrahim Mohammad, yang akrab kami panggil dik Brahim.
Alhamdulillah, Mas Agus Utantoro dan Pak Muslih Usa berkenan hadir. Mas Agus adalah budayawan yang yang tinggal di Condong Catur Sleman. Sedangkan Pak Muslih adalah guru agama dan pegiat warga di sejumlah lembaga kemasyarakatan, yang tinggal di Bodon, Jagalan Bantul. Dulu kami lebih mengenal beliau sebagai penulis dan penyunting buku.

“Kita masih menganggap sampah adalah sesuatu yang tak berguna. Wong sampah, apa pun bentuknya ya kita lempar ke jalan atau sungai,” komentar Mas Latif Fauzi. “Lucunya, kita juga pengimpor sampah. Pada Juni 2005, kita mendatangkan 1.000 ton limbah B3 ke Pulau Galang dari Singapura. Itu kan zat radiaktif yang berbahaya.”

“Namanya sampah ya menjijikkan. Termasuk pemulung dan tukang sampah. Jika pemda tidak jijik, Jakarta tak rugi sampai Rp 5 triliun saat banjir rutin Februari 2007 kemarin,” lanjut Pak Edi Safitri.

“Tayangan tentang TPA Bantargebang Bekasi, TPA Leuwigajah Cimahi, juga TPA Rancamaya Bogor, yang menewaskan puluhan orang sungguh mengusik kemanusiaan kita,” sela Pak Yusdani. “Masalah tahunan, dari dulu sampai sekarang, minus penyelesaian, apalagi sampai akarnya.”

“Kita sepertinya belum menganggap serius tatakelola sampah. Tayangan tadi membenarkan bahwa kita baru pilah-kumpul-angkut-buang. Pemilahan sampah adalah pengalaman baru,” kata Kang Heri Winarto. Beliau memaparkan data yang baru buat kami.

“Jepang menjadi negara yang bersih karena mampu mensosialisasi warga. Pemilahan 17 jenis sampah, satu bak sampah untuk 50 KK, dan empat waktu pungut sampah dalam sepekan. Jerman yang sejak 1972 mengatur sampah sekarang mengelola aset Rp 600 triliun setahun,” tambah Kang Heri.

“Kita memang terlambat, Bapak-bapak,” kata Pak Muslih Usa. “Tapi mari kita simak keseriusan warga RW 10 Dusun Gondolayu, Cokrodiningratan Jetis Yogyakarta. Juga warga Gumuk Indah, Klajuran Sidoarum Sleman. Ini mewakili pergerakan warga, bahwa tatakelola sampah adalah ibadah.”

“Peran warga menjadi sia-sia jika tidak didukung kebijakan yang integral. Apa artinya upaya-upaya lokal dan terbatas jika tidak sesuai dengan sistem yang lebih besar?” tanya Mas Agus Utantoro. “Komunitas sudah oke, tetapi pemda tidak taat dengan kebijakannya sendiri. Kraton juga tidak memberi pembelajaran bagaimana mengelola sampah. Inilah kisah lama tentang kejahatan perusahaan yang membayar gaji kecil dan meraup laba besar di negara miskin. Ini globalisasi polusi, sampah, juga bisnis bencana.”

Pakde Adib Susila mengajak kami membaca Alquran surat Ar-Rum 41, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Kami melanjutkan dengan Al Baqarah 11-12, “Dan bila dikatakan kepada mereka: ”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.“

Kami mengelola diskusi sampah sebagai ibadah yang selama ini terlupakan. Ya Allah, perlihatkanlah pada kami yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: