Mengelola Sampah (2)

serambi-jumat
Koran Merapi SERAMBI JUMAT 27 Februari 2009

“Untuk sementara, diskusi kita memajukan kesimpulan awal bahwa mengelola sampah merupakan praktik ibadah, yang selama ini terlupakan. Untuk itu, dibutuhkan kebijakan pemda agar upaya-upaya lokal dan terbatas yang dilakukan warga mendapat dukungan dari sistem yang lebih besar.”

Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian rutin, merumuskan kesimpulan awal. Kami masih duduk melingkar di serambi masjid.
”Kesadaran untuk membuang sampah di tempat sampah harus menjadi tradisi. Itu tradisi yang baik, yang jika kita kita langgar dampaknya kita rasakan semua,” sambung Pak Muslih Usa. “Senyampang dengan itu, fasilitasi pemerintah harus dibarengi dengan tindakan hukum bagi yang melanggar. Kita terlalu toleran terhadap pelanggaran.”

Dik Brahim lantas menayangkan sejumlah video pendek tentang persampahan. Pertama, sampah yang dihasilkan partai politik saat kampanye terbuka pada 2004. Kami tertawa ketika salah satu partai mengangkat isu lingkungan tetapi para pendukungnya membuang puntung rokok sembarangan.

Kedua, pembungkus ramah lingkungan “Greensulate,” karya Gavin McIntyre dan Eben Bayer, dari Politeknik Rensselaer di Troy, New York, pada 2007. Pembungkus tersebut terbuat dari bahan alam, misalnya tepung, serat jamur, dan campuran mineral, dengan keunggulan antiapi.

Video ketiga yang diunduh Dik Brahim yang paling memikat. Ternyata setiap warga Jerman wajib memisah sampah secara langsung dari dekat rumahnya. Mulai dari jenis sampah gelas, kertas, pakaian tua, atau kompos, lantas membuangnya ke bak sampah berdasar warna kontainer. Juga tentang pengaturan untuk mengembalikan sampah botol kemasan air mineral, bir, dan minuman ringan berkarbonat. Tampak seorang warga yang tengah memasukkan kemasan minuman bekas ke mesin khusus di mal. Kemudian ia mengambil sejumlah uang  sebagai gantinya.

”Itu bisnis sampah di Jerman dengan omset Rp 600 triliun setahun,” ulang Kang Heri Winarto. ”Industri penghasil teknologi pengelolaan lingkungan dan sampah telah memberikan sumbangan yang luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di Eropa.“

”Saya minta maaf belum sempat mengambil gambar tatakelola sampah warga Gondolayu, Jetis Yogyakarta dan Gumuk Indah, Sidoarum Sleman,” kata Dik Brahim.

”Nilai ibadah dari tatakelola sampah adalah jaminan keberlanjutan alam,” kata Mas Agus Utantoro. “Dari tayangan tadi kita belajar betapa tidak seriusnya kita saat membaca tanda-tanda alam. Saya meyakini bahwa lingkungan mempunyai bahasa yang bisa kita pelajari. Dan itu harus menjadi kebijakan publik. Bukan kebenaran masing-masing pribadi. Bagai bom waktu, sampah telah meledakkan kesadara kita sebagai warga yang seakan-akan tanpa negara.”

Mas Agus memaparkan betapa kebanggaan yang tidak sadar-diri tentang nilai-nilai adiluhung dan kearifan menjadi gamang dengan ledakan permasalahan. Tidak terkecuali dalam hal sampah sebagai akibat dari pola konsumsi dan belanja.

“Sudah saatnya kita menggeser pembinaan mental dari individu menjadi komunitas. Kita butuh pengendali konsumsi agar tidak boros berlebih-lebihan (Tubadzdzir Tabdziyran),” tambah Mas Agus.

Pakde Adib Susila mengajak kami untuk membaca bersama Alquran surat Al-Muddatstsir ayat 1-40. Secara bergantian Pak Muslih Usa dan Pak Yusdani membaca terjemahan dan tanggapan singkatnya.

Kami belajar banyak betapa dalam hal tatakelola sampah pun bisa kita pahami sebagai praktik ibadah. Keberlanjutan alam adalah mengelola lingkungan sekitar. Sampah adalah hal remeh yang selama ini kita abaikan. Tanpa risau dengan angka-angka besar tentang pemanasan global, kami lebih memilih hal kecil ini: mendesakkan tatakelola sampah sebagai masalah bersama. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: