Monopoli

Koran Merapi SERAMBI JUMAT 20 Maret 2009

serambi-jumat1

“Hari ini, 407 tahun yang lalu, tepatnya 20 Maret 1602, sidang Staten Generaal (semacam Dewan Perwakilan) Amsterdam memutuskan bahwa VOC mendapat hak monopoli atas perdagangan di seluruh Asia. Selain Verenigde Oostindische Compagnie atau Kompeni, perusahaan lain tidak boleh berniaga, terutama rempah-rempah, sehingga Belanda dapat bersaing dengan Portugis dan Inggis.”

”Berbekal hak octrooy yang nyaris tak terbatas, VOC adalah perusahaan dagang sekaligus negara yang mempunyai senjata, mesiu, dan serdadu. VOC juga membangun pangkalan dagang di Jepang, Yaman, Iran, dan Indonesia. Dengan kekuatan 100 kapal dagang/perang yang dibangunnya sendiri, VOC mengelola benteng, mengumumkan peperangan, dan bersiasat bisnis dengan cara monopoli. Periode inilah yang membangkitkan perlawawanan dari warga, yang untuk sebagian berbasis agama.”

Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian rutin, memulai kisah tentang keterlibatan muslim dalam ruang sosial. Kami masih mengingat sejumlah kesimpulan dalam kajian saur-manuk ini, bagaimana Islam berdialog dan menjawab permasalahan umat. Bahkan bagaimana muslim melawan kekuatan kolonialisme yang menjajah.

Di tembok serambi masjid, dik Brahim tengah menayangkan sejumlah film dokumenter pendek tentang sepak-terjang VOC. Beberapa kliping tentang sejarah perlawanan local selama 200 tahunan melawan kezaliman VOC beredar di antara teman-teman.

”Bagi Belanda, berdirinya VOC menjadi tahapan dimulainya orientasi global berbasis bangsa maritim, perdagangan, dan geopolitik sebagai pintu gerbang Eropa. Inilah masa keemasan (De Gouden Eeuw van Nederland) berkat jasa-jasa VOC, yang buat kita menjadi masa perlawanan tiada henti di Nusantara,” tutur Pak Yusdani.

“Saya teringat pendapat Hartingh, staf ahli Gubernur Jendral Mossel, bahwa tiap-tiap kerusakan dan kekalutan Mataram merupakan keuntungan bagi VOC,“ kata Mas Agus Utantoro. “Terdapat 111 perjanjian dagang antara VOC dengan Mataram sampai tahun 1705 dan perjanjian-perjanjian politik sesudahnya. Kita membaca dari sejarah tentang kondisi-kondisi warga Mataram yang tidak manusiawi sekaligus perlawanan terhadap VOC.“

“Itulah jaman perang mesiu,” tanggap Pak Edi Safitri. “Kalau sekarang ‘kan lebih canggih. Yaitu bagaimana membaca dan berperang dalam kompetisi ekonomi pasar bebas. Sekarang ’kan jaman neoliberalisme.”

”Wah, kampanye anti “cinta harta” (hub-u `l-dunya), Pak edi?” canda Paklik Sriyono. “Ya begitulah kita membaca jaman neolib. Ada kepercayaan ekonomi yang kuat untuk mengabarkan kebaikan umum, yang diboncengi ajaran pasar bebas dan sempurna serta persaingan terbuka.”

“Repotnya, rakyat yang berjumlah lebih banyak justru yang paling menderita, Paklik,” komentar Mas Fauzi. “Kita butuh skema zakat untuk melawan monopoli global ini, dengan pemerataan dan mencegah tertumpuknya modal. Itu pendapat almarhum Pak Kuntowijoyo.“

“Al-Qur’an mengingatkan tentang cinta harta yang berujung pada penguasaan dunia,” kata Pakde Adib Susila. “Mari kita bersama membaca konteks surat as-Shaff ayat 10-11,”

“Wahai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan kamu suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan dirimu dari siksaan nan pedih? Berimanlah kepada Allah, utusan-Nya, dan berjuanglah di Jalan Kebaikan dengan harta dan potensi pribadimu. Itulah yang lebih baik bagimu, sekiranya engkau tahu.”

Kami membaca-kembali tentang lapisan-lapisan sejarah yang mendewasakan keindonesiaan. Kami mengkaji babad tanah Jawa dengan risalah yang berbeda, betapa kekuatan yang zalim dan memiskinkan umat niscaya dilawan. Kami meyakini, bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan, bukanlah pernyataan tanpa makna. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: