Di Vogier, Nurdini, Tentang Kuasa Bahasa

27 Maret 2009

01

Pagi, menjelang siang. Dalam perjalanan menuju kampanye Gerindra di Sleman, saya mampir ke Samirono. Beberapa tahun yang lalu, 1990-1997, hampir tujuh tahun saya menjadi warga kos, tepatnya di Samirono CT VI/333 Sleman. Dengan induk semang Bapak Ponidi, tetangga induk semang Bapak Girin, oleh si Purwanto (jika tidak salah ingat) nama kos diberi nama “Vogier.” Tidak ada niat untuk gagah-gagahan dengan akronim “Vogier” alias Ponidi-Girin tersebut.

Rentang waktu tujuh tahun lebih dari cukup untuk menulis (sebagian) catatan harian. Bermula dengan Dasro sebagai teman sekamar. Saya menutup kos di Demangan Gondokusuman, Dasro meninggalkan Karangmalang. Menjelang lulus dari jurusan Filsafat dan Sosiologi Pendidikan FIP IKIP Yogyakarta, Dasro mereferensi Kijo untuk gabung di Vogier. Dan sekamar dengan saya, sebab saya belum ada tanda-tanda menyelesaikan skripsi. Dan kamar di pojok barat laut itu semakin ramai. Kasdu Fiddin menggantikan Kijo yang menyelesaikan kursus.

Suatu saat, Jamael Saragih protes ketika tidak menemukan kunci kamar sehingga tidak dapat masuk. Kosakata kamar “demokrasi” pun mulai lazim di telinga. Ada suasana komunal yang kental. Pernah saya masak nasi sendiri, sayur beli di warung. Satu-dua hari jalan, setelah itu justru boros sebab terlalu banyak teman-teman yang bertandang. Tidak ada nada marah, malah keakraban dan arti berkawan terasah. Sumeh Swatono selalu punya tindakan cerdas dalam situasi apapun. Pagi-pagi sudah ada seperempat gula pasir, sebungkus kopi, dan kompor terisi minyak tanah adalah keajaiban kecil. Info tentang jadwal seminar adalah peluang makan bergizi di hotel, makalah, dan berkenalan dengan para begawan yang mumpuni di ilmu. Jejaring inilah yang menjadi akar berdirinya “Argure,” sok kelompok studi. Mas Agung M. Abduh mengakronimkan sebagai “Arena Gunem Rembug.” Arief Wijayanto melacak di kamus filsafat dan ketemu arti kota perak. Mas Yusuf C. Kusarianto yang wartawan Yogya Post bermurah hati ditemani dalam berburu info. Dan saya tengah berbangga di jalan filsafat.

Pagi, menjelang siang. Saya sempat melihat pintu di mana saya menghabiskan waktu di Samirono.
Saya teringat lalu lalang warga kos dengan kesibukan sebagai “manusia Indonesia seutuhnya.” Kejenakaan mas Supri, jam malam dari Elim, Profesor Eko dengan stik drumband, mas dokter Tomo, Alex yang tengah berlatih logat Jerman, Marno dengan Aris Purnawan sang penari, Supri FPOK, koleksi lagu mas Wahid, Romi, Ambar, juga mas katiya, Sugeng, Kasiyanto, juga Anton.

Banyak nama yang harus disulang sebagaimana banyak lembaga yang lahir dari kamar pojok. Mitos mas Nurul yang menerbitkan buku HMI setara dengan secangkir kopi yang dibagi rata dengan mistar. Dan Bagus selalu siap dengan gelas kosong, mas Tomo atau Bondan berbaik hati dengan beberapa sendok gula. Atau, kisah kasih tak sampai dengan kalangan atas atawa penghuni kos putri di lantai atas milik pak Tarto adalah kisah tentang jam beker di balik pohon.

Pagi, menjelang siang.
Saya bertemu Nurdin, yang dulu dipanggil Jenderal Nurdini. Dengan latar sarjana bahasan Jerman dan fasih dengan bahasa Inggris, Nurdin merupakan gambaran profesional muda yang sudah memilih sebagian takdir tentang bekerja.
Saya berhutang banyak dengan Nurdin, terutama ketika memulai proposal ketiga skripsi. Dua judul terbengkalai, saya memutuskan mengambil epistemologi Juergen Habermas. Banyak teks Jerman dan terjemahan Inggris yang oleh beberapa Habermasian selalu disarankan untuk membaca teks Jerman. Saya belajar bagaimana membaca kosakata Jerman, meminta tolong terjemahannya, juga konteksnya. Tanpa bantuan Nurdin, saya yakin skripsi yang sudah dibukukan tersebut akan kehilangan “aura” Jerman.

Sampai suatu saat saya mendengar Nurdin total sebagai penerjemah. Hal yang tak mampu saya lakukan nyatanya. Dengan bendera EGITS, http://egits.blogspot.com/, saya mendukung suatu pilihan dan keputusan, dengan kemungkinan untuk optimalisasi profesi.

3

Di Samirono, ketika papan nama “Vogier” sudah tak terpasang, dengan sebagian catatan yang pernah menegaskan “kematian biografi:” Saya teringat malam-malam tanpa tidur, dengan mesin tik brother pinjaman, juga komputer dekstop ketika Win.3.1.1. berjaya, pinjaman juga. Di Samirono, saya menyelesaikan bendel-bendel L ‘Archeologie du Stimmung, sebelum pindah lagi ke Jalan Kebun Raya.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

2 responses to “Di Vogier, Nurdini, Tentang Kuasa Bahasa

  • idah maulidah

    Ceritamu membuat angan-anganku semasa kita menghabiskan waktu bersama selama 5 tahun saja (aku ga mau lama2 di yogya) di karangmalang terusik. 17 tahun lalu aku ga pernah nyangka kalo aku ketemu orang seserius engkau dan se-playboy-dasro. Sungguh yogya adalah kota yang ingin aku tinggalkan cepat2 waktu itu tapi kini aku ingin menyusuri jalan2 dimana aku pernah menimba ilmu-nya orang gila. Bukan karena aku bosan dengan kehidupanku sekarang, justru dengan tulisan2 engkau, kemudian kutemukan wajahmu di FB, juga blognya dasro, memaksaku mengais-ngais sisa kenangan yang pernah teruntai disana. Maaf bukan kenangan sebenarnya. Kawan lama semasa sekolah merupakan bagian hidup yang tidak bisa diputus. Ada “family bonding” yang tak terceritakan.

    Suka

  • feni

    Salam kenal Om & Tante, saya anaknya Pak Ponidi yang ragil, tahun 1990 itu saya baru lahir,, hehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: