Lingkungan Kita

Koran Merapi SERAMBI JUMAT 27 Maret 2009

serambi-jumat11

“Apa yang Panjenengan bayangkan tentang pertumbuhan, … misalnya, pertumbuhan bisnis? Coba diganti dengan kata pembesaran, perluasan, penguasaan, dan yang semakna. Setelah itu, cobalah dipertautkan dengan pembatasan, kemanfaatan, juga kearifan. Bisnis tidak dapat dilepaskan dari lingkungan justru karena sifat bisnis itu sendiri.“

“Kita mengamati dan sekaligus mengalami, betapa lingkungan terus berubah. Kita bisa mengatakan bahwa lingkungan sekitar sudah tidak ramah lagi. Senyatanya, pergerakan bisnis juga mengalami keadaan yang kurang-lebih sama, berdasar ukuran, cakupan usaha, dan keuntungan yang diraih. Bahkan pertumbuhan bisnis justru berakibat tidak berkelanjutan dan merusak lingkungan bisnis itu sendiri.”

Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian rutin, memulai untuk merumuskan pertautan agama dan lingkungan. Beliau meletakkannya dalam kasus berbisnis, apapun pemahamannya. Beliau memaparkan bahwa adanya keterhubungan antara Islam dan lingkungan. Dan sebagaimana kajian-kajian sebelumnya, Dik Brahim sudah menyiapkan sejumlah film dokumenter. Kami tengah menyaksikan tayangan tentang kisah para pemulung yang mencari hidup di Smokey Mountain, gunung sampah di Manila, yang telah menjadi simbol dari kemelaratan Dunia Ketiga.

“Saya kira, yang menjembatani kemanfaatan berbisnis adalah isu keberlanjutan. Untuk itu butuh kearifan dan sekaligus keterahahan. Inilah klaim agama, yang pernah kita simpulkan bersama sebagai kemaslahatan lingkungan (maslahah al-bai’ah),“ tanggap Pak Yusdani.

“Tanpa bermaksud mempertentangkan, titik tekan kajian ini adalah agama yang membela manusia,” komentar Pak Edi Safitri. ”Kita sudah sering menelaah hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) dan sesama manusia (hablum minannas). Ternyata kita juga membutuhkan nasehat tentang hubungan manusia dengan alam.”

“Bukankah bencana dan musibah adalah azab yang berlaku kolektif, tidak peduli si Fulan terlibat atau tidak tahu tentang pemanasan global?” tanya Paklik Sriyono. ”Menjaga lingkungan dari kerusakan jelas fardhu kifayah. Tak percaya, banyak kasus azab Allah yang berbentuk bencana dan musibah.”

”Senyatanya, tujuan syariat adalah mewujudkan kesejahteraan umat. Mengarahkan lingkungan agar terjaga jelas untuk mengelola kesejahteraan,” kata Mas Fauzi. ”Masalahnya, bagaimana jika berbisnis justru merusak lingkungan sementara pebisnis lebih berhitung untung-rugi. Kita butuh ketegasan hukum dan kebijakan untuk menindak perusak lingkungan.”

”Setahun setelah anjloknya harga minyak dunia, pada tahun 1983 kebijakan deregulasi mulai diberlakukan di Indonesia. Ada perluasan dan juga pemindahan kewenangan dari pemerintah ke masyarakat dan pebisnis. Ada pengaturan baru yang memberi keleluasaan lebih ke pebisnis,” sambung Kang Heri Winarto. “Kita mencatat isu lingkungan akibat bisnis semakin mengemuka.”

“Ternyata kita justru membayar mahal untuk mengatasi bencana. Mari kita bersama membaca Al-Quran surat Ar Rum ayat 41,“ sela Pak Yusdani.

Muncullah bencana di darat dan di laut akibat tangan-tangan manusia. Demikian dirasakan kepada mereka (oleh Allah) sebagian yang mereka kerjakan. Mudah-mudahan mereka kembali ke jalan yang benar.

“Mari kita lanjutkan dengan surat Ar Rum ayat 24,“ tambah Pakde Adib Susila. “Dan diturunkan-Nya hujan dari langit, dan dengan itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya, sesungguhnya dalam hal ini adalah ayat-ayat bagi kaum yang mempergunakan akalnya.”

Saya mengkaji ulang tentang pertautan agama dan lingkungan. Ternyata kita harus melepas selimut yang selama ini menutupi diri. Kita Bukankah pengelolaan lingkungan hari ini menjadi pengharapan masadepan kami? Bukankah telinga mendengar kebaikan yang telah dituliskan, mata melihat kebenaran diserukan, dan nurani menyimak proses keberlanjutan dari Allah yang Mahabenar? WaLlahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: