Internet dan Politik

Bayu Adhitya Nugraha – suaraPembaca
Jumat, 20/03/2009 09:55 WIB

detikpemilu

http://suarapembaca.detik.com/read/2009/03/20/095548/1102350/471/internet-dan-politik

Jakarta – Selama ini saya mengenal e-Commerce yaitu bagaimana orang-orang dapat menggunakan media internet sebagai alat untuk membangun suatu bisnis (baca: berdagang). Melalui internet mereka bisa melakukan aktivitas promosi menawarkan produk sampai dengan bertransaksi secara online.

Di bidang internet untuk pendidikan saya juga mengenal e-Learning. Sebuah proses pembelajaran virtual menggunakan Learning Management System untuk merepresentasikan system bejalar riil di kelas secara online menggunakan media internet. Kebetulan untuk e-Learning selama 2 tahun ini saya sudah aktif sebagai salah tim instruktur pengajar e-Learning di Bandung.

Media internet untuk kepentingan bisnis dan pendidikan telah memberikan daya ungkit /leverage luar biasa karena terbukti lebih efektif dan efisien. Penggunaan internet sebagai sarana berbisnis dan pendidikan tentunya bukan hal yang aneh di Indonesia –bukan aneh di sini karena sudah dilakukan sejak dahulu. Namun, penggunaan internet sebagai tools di bidang politik sepertinya baru tahun 2008 inilah ramai kita rasakan.

Bukan berarti tahun-tahun sebelumnya tidak. Namun, saya melihat tahun 2008-2009 ini tim sukses masing-masing partai dan juga capres (calon presiden) lebih serius menggunakan media internet sebagai alat kampanye. Di antaranya ditandai dengan kemunculan berbagai Blog/ Website Capres dan calon anggota legislatig (caleg) yang mencoba berdagang visi misi dan program-program untuk meraih dukungan masyarakat Indonesia melalui internet.

Beberapa yang kreatif bahkan telah membuat akun dan menjaring dukungan di Facebook, sampai membuat aktivitas lomba blog, dan lain-lain. Jadi kalau ada elit yang menggunakan media elektronik dalam hal ini teknologi internet sebagai sarana membangun komunikasi dengan konstituen.

Mungkinkah itu kita sebut sebagai e-Politics? Entahlah. Tetapi, yang pasti di era mabuk teknologi sekarang ini penggunaan teknologi dan keterbukaan internet untuk semua kalangan dan semua bidang sudah saatnya terjadi di Indonesia. Termasuk di bidang perpolitikan negeri ini tentunya.

“Conversation” Antara Pengguna Internet Vs Elit Politik
Basis massa pengguna internet dalam beberapa tahun belakangan ini –khususnya di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Menurut data proyeksi akan ada sekitar 33 juta orang pengguna internet di Indonesia pada tahun 2008 (meningkat 8 juta dari tahun 2007 – 25 juta). Dan, para pengguna internet pastinya akan bertambah setiap tahun.

Kalau dengan proyeksi dan perkembangan yang terjadi mungkin tahun 2009 pengguna internet akan mencapai 40 juta lebih. Tentunya angka 40 juta bukan angka yang sedikit dan akan sangat menggiurkan untuk dijadikan target voters pada pemilu parpol (partai politik) dan capres 2009 nanti.

Jadi, siapa pun elit yang terjun lebih dulu ke ranah dunia maya maka dia akan memperoleh porsi kesempatan yang lebih besar untuk lebih dulu membangun massa/ komunitas yang nantinya akan menjadi para pemilih dalam Pemilu. Ibaratnya captive market para pengguna internet yang sudah memberikan dukungan kepada salah satu parpol/ calon presiden akan mengajak teman-teman dekat, saudara, tetangga, dan lain-lain untuk mendukung pilihannya tersebut.

Sebuah kesempatan yang tentunya harus dimanfaatkan oleh masing-masing elit. Semakin banyak dan menggurita pengguna internet di Indonesia. Maka seharusnya dibarengi dengan semakin banyaknya elit yang ikut terjun menggunakan media ini tidak hanya sebagai alat untuk membangun komunikasi politik satu arah. Tetapi, juga menjadi alat membangun conversation (percakapan) atau diskusi antara masyarakat dengan elit (pemimpin atau calon pemimpin).

Ya, inilah yang menjadi beda antara media televisi, radio, koran/ majalah jika dibandingkan dengan penggunaan media internet. Dengan media internet maka akan terjalin satu hubungan yang lebih personal dan mendalam dalam bentuk komunikasi 2 arah. Setiap orang bisa membaca informasi dan mendapatkan apa yang diinginkan lebih mudah dan menuliskan kembali tanggapan secara langsung tanpa hambatan dengan batasan netiket yang benar.

Campaign Strategic and Community Development
Saya percaya jika penggunaan teknologi itu seharusnya dapat memberikan nilai tambah (value added) bagi siapa pun dalam pengerjaan fungsi apa pun. Khususnya bagi para elit bangsa Indonesia (partai politik, caleg, capres, dan lain-lain) penggunaan teknologi pasti akan menambah daya guna dalam rangka proses kampanye yang dilakukan.

Dan, pada pemilu 2009 saya kira teknologi internet akan menjadi sarana /media efektif dan efisien untuk meraih Goal mereka dengan memanfaatkan konten-konten yang dibuat sendiri (Portal Website, Forum, dan lain-lain) atau dengan memanfaatkan situs-situs atau Portal Jejaring Sosial terkenal (Facebook, Youtobe, Friendster, dan lain-lain) sebagai alat untuk menjalankan taktik membangun massa untuk meraih calon konstituen pengguna internet yang jumlahnya saat ini sudah mencapai 33 juta lebih di Indonesia.

Contoh nyata adalah bagaimana seorang Obama sang presiden Amerika terpilih telah berhasil menggunakan media social networking di Internet sebagai sarana membangun basis massa dukungan dan fund raising (penggalangan dana). Keberhasilan Obama ini bisa menjadi role models penggunaan internet oleh elit terutama capres-capres di Indonesia.

Saya sangat mendukung para elit yang menggunakan internet sebagai media kampanye, menyampaikan komunikasi politik (visi, misi, program-program) kepada masyarakat. Saya bahkan berharap para elit khususnya para calon presiden itu tidak hanya berdebat di televisi karena TV hanya menyajikan slot waktu yang terbatas. Tetapi, juga bisa saling berdebat di internet dalam sebuah forum yang dimoderasi misalnya oleh Tim IT KPU atau diinisiasi oleh Tim Sukses masing-masing.

Ayo, nih. Siapa yang mau buat portal/ situs debat presiden 2009? Pasti kalau portal ini nanti benar-benar ada akan sangat menarik dan dikunjungi banyak pengunjung.

Internet dan Alam Demokrasi Indonesia

Penggunaan internet sebagai sarana membangun komunikasi politik tentu saja akan membangun cakrawala demokrasi di Indonesia yang saat ini sedang dalam masa mencari jati diri untuk semakin terus berkembang. Kenapa? Karena membangun demokrasi dengan cara membangun komunitas –meraih konstituen di internet itu lebih “tak beresiko” daripada di dunia nyata. Lebih murah dan langsung ke sasaran/ target audience.

Dan, yang terpenting, impact yang ditimbulkan pun tidak akan seperti di dunia nyata. Saat ini betapa miris kita melihat peperangan atau keributan-keributan akibat kegagalan seorang calon parpol menjadi pemimpin atau kepala daerah. Berita-berita kisruh pemilihan kepala daerah (pilkada) seolah tiap hari mewarnai televisi kita. Memberikan satu wajah muram demokrasi di Indonesia.

Melalui internet para elit akan menemukan para calon pemilih yang cerdas dan rasional untuk memilih. Mereka tidak akan memilih berdasarkan emosional belaka. Melainkan benar-benar akan melihat visi misi, track records, dan program-program dari para elit tersebut. Saya pun meyakini kalau para pengguna internet adalah konstituen yang lebih dewasa dalam berpolitik. Dalam membangun demokrasi di Indonesia ini saya kira point ini sangatlah penting.

Siapa Presiden Indonesia Pertama di “Era of Internet Presidency”
Barack Obama telah berhasil menggunakan media social networking untuk meraih dukungan dan membentuk komunitas pendukung (supporter) selama kampanye pemilihan presiden AS lalu. Hal ini menjadikan Obama sebagai presiden pertama AS di “Era of Internet Presidency”.

Ya, tim sukses Obama (tentunya dengan persetujuan dan arahan Obama) berhasil memanfaatkan internet sebagai alat kampanye yang efektif dan efisien. Strategi yang digunakan sangat brilian karena Obama memanfaatkan jejaring sosial populer dan menggunakan Portal Obama sebagai interface dari situs-situs jejaring sosial tersebut. Dan, strategi ini terbukti sukses karena Obama berhasil meraih mayoritas pengguna internet di Amerika.

Di Facebook Obama berhasil menggaet lebih dari 1,5 juta supporter. Melalui Youtube, Obama berhasil menggaet 59 juta orang pengakses. Hal ini menjadikan Obama mengungguli jauh rivalnya Mcain dalam kampanye melalui internet. Impact lainnya adalah Obama berhasil menggalang dana (fund raising) yang jauh lebih besar dari Mcain.

Dari fakta Obama ini menurut saya para capres di Indonesia bisa belajar banyak dari Obama. Keberhasilan Obama menggunakan internet untuk menggalang massa sekaligus menggalang dana telah menjadikannya sebagai presiden Amerika kulit hitam pertama dengan jumlah dukungan dana paling besar sepanjang sejarah.

Sekarang ini saya jadi bertanya-tanya. Siapa kira-kira yang akan menjadi presiden Indonesia pertama dalam Era of Internet Presidency?

Apresiasi Para Pengguna Internet (Rakyat Indonesia)
Bagi para pengguna internet, jangan heran kawan-kawan, kalau nanti para elit kita sudah terjun ke dunia kita ini –terjun dalam arti sebenar-benarnya (baca: serius menggarap para pengguna internet). Jangan heran kalau dalam beberapa bulan –tahun ke depan kita tidak hanya akan menerima email spam penawaran beragam produk tidak jelas seperti yang selama ini kita terima. Tapi, kita juga akan menerima beragam email spam yang berasal dari parpol, tim sukses capres, caleg, dan lain-lain yang mengharap mengiba dukungan dari para pengakses internet.

Ketika masa itu benar-benar terjadi saya kira kita semua patut menanggapi hal ini dengan senyuman kecil saja (minus kesal) dan berkata, “oh, setidaknya calon presiden kita ini tidak gaptek, dan pastilah dia sosok yang cerdas”. Selanjutnya, itu benar-benar terserah saya, anda, dan kita bukan? Walaupun harapannya mereka bisa lebih kreatif lagi tentunya membuat konten-konten kampanye via internet yang lebih kreatif.

Sebagai rakyat Indonesia yang pada saat ini sedang mabuk demokrasi hal ini lumrah terjadi. Dan, harus kita nikmati. Bumbu-bumbu demokrasi dalam percik bingkai teknologi sungguh sesuatu yang harus kita dukung dan kita pun akan menjadi bagian dari pelaku sejarah itu.

So, untuk Indonesia yang lebih baik, kita lihat saja para elit itu bergentayangan di dunia maya. Kita tunggu apa yang bisa mereka berikan, katakan, dan … kita apresiasi demi perkembangan demokrasi di Indonesia, dengan sudut pandang dan cara kita masing-masing.

Anda setuju?

Bayu Adhitya Nugraha
ComLabs USDI ITB Gedung TPB Lantai 1
Jalan Ganesha No 10 Bandung
bayu.adhitya@gmail.com
085624692578
http://bayuadhitya.wordpress.com

(msh/msh)

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: