Gombloh

patung-gombloh

Entahlah, tiba-tiba saya ingin memutar lagu-lagu Gombloh (14 Juli 1948 – 9 Januari 1988). Tidak ada niat untuk menyoal hal-ihwal karya Gombloh, non est disputandum, mengalir saja. Mengambil sejenak jeda-waktu yang kian tergesa bulan-bulan terakhir ini.

Saya melantunkan kembali lirik “Kedamaian-Kedamaian,” mengikuti warna suara Ratih dan Gombloh yang khas.

Kedamaian-Kedamaian

berserak di mega putih
anganku menerawang
di leher merpati putih
harapan kutitipkan

berdebur rasa hatiku
bergetar rasa nadiku
tersentuh rasa rinduku
padamu kedamaian

tercecer berkas puisi
terlampir tak bertanggal
tergugah iman hati ini
selubung fatamorgana

menangis di dalam hati
tersenyum di tengah sepi
biarkan aku cinta engkau
biarkan dan biarkan

terpandang mata telanjang
merah hitam silang menyilang
lembayung di awal senja
mengabur di benakku

memohon di hati ini
bersujud di hari nanti
biarkan aku cinta engkau
biarkan dan biarkan
biarkan dan biarkan

Saya mengenal lagu-lagu Gombloh, atau Soedjarwoto Soemarsono, ketika masih sekolah. Tepatnya pada pertengahan 1982, ketika “camping” bersama beberapa teman kelas 2F SMP 1 Purwodadi di Kopeng, Jawa Tengah. Suroso, Imam, dan kawan-kawan yang menghuni tenda sebelah, rombongan dari Surabaya, tengah senang-senangnya menyanyikan “Kebyar-Kebyar” dan “Berita Cuaca.”

Kebyar-Kebyar

Indonesia merah darahku, putih tulangku
bersatu dalam semangatmu
Indonesia debar jantungku, getar nadiku
berbaur dalam angan-anganmu
kebyar-kebyar, pelangi jingga

Indonesia nada laguku, symphoni perteguh
selaras dengan symphonimu
kebyar-kebyar, pelangi jingga

biarpun bumi bergoncang
kau tetap Indonesiaku
andaikan matahari terbit dari barat
kaupun tetap Indonesiaku
tak sebilah pedang yang tajam
dapat palingkan daku darimu

kusingsingkan lengan
rawe-rawe rantas malang-malang tuntas
denganmu

Indonesia merah darahku, putih tulangku
bersatu dalam semangatmu
Indonesia debar jantungku, getar nadiku
berbaur dalam angan-anganmu
kebyar-kebyar, pelangi jingga

Setelah itu, saya baru memerhatikan ketika beberapa kali, RSPD, radio lokal di Purwodadi menyetel lagu Gombloh. Tetapi yang memerkuat adalah koleksi kaset kakak saya, mas Budi Suparyono. Ketika pulang kampung, saat itu mas Budi tengah berkuliah pada jurusan Senirupa FKSS IKIP Semarang, saya bisa mendengarkan bersama, sekalian belajar gitar. Jadi ketika saya membaca diskografi Gombloh dari tulisan Denny Sakrie (http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=261211&kat_id=383), hanya album ”Sekar Mayang” yang belum pernah saya dengarkan.

1. Nadia dan Atmosphere (Golden Hand, 1978)
2. Mawar Desa (Golden Hand, 1978)
3. Kadar Bangsaku (Golden Hand, 1979)
4. Kebyar Kebyar (Golden Hand, 1979)
5. Pesan Buat Negeriku (Golden Hand, 1980)
6. Sekar Mayang (Golden Hand, 1981)
7. Terimakasih Indonesiaku (Chandra Recording, 1981)
8. Pesan Buat Kaum Belia (Chandra Recording, 1982)
9. Berita Cuaca (Chandra Recording, 1982)
10. Kami Anak Negeri Ini (Chandra Recording, 1983)
11. Gila (Nirwana, 1983)
12. 1/2 Gila (Nirwana, 1984)
13. Semakin Gila (Nirwana, 1986)
14. Apel (Nirwana, 1986)
15. Apa Itu Tidak Edan (Nirwana, 1987)

Soal menyanyi, atau tampil di forum apapun, senyatanya saya mengidap perasaan rendah diri sampai sekarang. Pelajaran senimusik semenjak SD-SMP, apalagi menyanyi, bisa dipastikan nilai saya tidak lebih dari kategori C (Cukup). Bukan melulu olah-suara, melainkan gaya tubuh saya terlalu dan selalu kaku. Tidak enak didengarkan, tak layak ditonton, dan spesialis pembubar penonton. Saya kagum dengan cara dan gaya mas Budi ketika main gitar dan menyanyikan lagu-lagu Gombloh. Sehingga saya kaget ketika mbak Irma Hs, kakak kelas SMA 1 Purwodadi, menulis puisi tentang dan untuk saya yang tengah bermain gitar, saat Temu Karya Siswa SMTA se-Jawa Tengah, 9-13 Desember 1984.

Sebagai bagian dari generasi 1980-an, saya terlalu miskin (dalam arti harfiah) untuk mengikuti trend bermusik dan bergaya. Eep Saefulloh Fatah dan A Tony Prasetiantono beruntung bisa ”grounded” dan menyimpulkan kehidupan dan
budaya populer era 1980-an sebagai hedonis, dinamis, dan demokratis (Kompas, 25 November 2007). Ketika teman-teman SMA bercerita film ”Flashdance” yang tengah diputar di bioskop dan sepeda balap menjadi ikon baru, saya tetap bersepeda jengki atau onta eks RRT. Saat breakdance ”in” di Semarang dan menjalar ke Purwodadi, saya sudah sering pinjam sepatu Hansip kepunyaan bapak untuk bersekolah. Tidak ada niat untuk bersanding dengan sepatu khas tarian-kejang yang dibeli teman-teman tentunya.

Jika 1980-an mengorbitkan banyak musisi dengan ragam genre-nya, mungkin periode di kelas IPA-2 SMA 1 Purwodadi menjadi dasar untuk ”memilih” musik di telinga saya. Ukurannya adalah pertautan antara musik dan lirik. Beberapa kali bertandang di rumah Edi ”Kepeng” Supriyadi di jalan Siswa, teman SMA tetapi berbeda kelas, sekaligus markas GMC (Ganesha Mountaineering Club) adalah kesempatan mendengar musik yang layak dari tape-deck. Dan koleksi kasetnya sangat lengkap. Setidak-tidaknya saya mengetahui duduk-perkara jika Dwi Krisnawati bercerita tentang Queen dan Freddy Mercury. Itupun setelah saya meminjam kaset Tri Wahyu Wardani.

Jadi, pengetahuan saya tentang musik semiskin kemampuan untuk menghapal dan mengiringinya dengan gitar. Tetapi, pilihan ke Gombloh dan Leo Kristi bukanlah karena saya ingin membangun kantung-pelarian yang aman. Saya enjoy dengan Sergio Mendez, Gilberto Gill, Conny Francis, Shakatak, Olivia Newton-John, sebagaimana saya memilih musik klasik Eropa dan gamelan. Saya kurang bersahut dengan pop yang mendayu-dayu ataupun dangdut yang bergenit-genit.

Dan saya senang Gombloh atau Leo Kristi. Itu saja. Mengalir saja.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

4 responses to “Gombloh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: