Yang Diwakili

Koran Merapi SERAMBI JUMAT 17 April 2009

serambi-jumat

“Sambil menunggu penghitungan suara hasil Pemilu kemarin, kita diingatkan hal-ihwal kenegaraan dan kebangsaan sebagai pengalaman sehari-hari. Senyatanya, perubahan dan keterarahan merupakan kewajiban utama, bukan yang lain, apalagi untuk tujuan lain bagi anggota parlemen. Ini masalah moral tentang kepekaan dan pemihakan, agar parlemen mampu menetapkan kebijakan publik yang berorientasi kemasyarakatan dan keadaban.“

”Membincangkan demokrasi adalah nilai yang  menghargai otonomi dan kebebasan, alat untuk mewujudkan nilai tersebut secara politis seperti pemilu, dan lembaga yang layak yaitu parlemen. Kita tengah mengalami, gerak ekonomi semakin menderita jika kekuatan warga tidak diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Kita merasakan betapa kekuasaan yang terlalu besar di tangan pemerintah (atau, beberapa orang) ternyata tidak cukup tangguh dalam krisis belakangan ini.”

Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian rutin, memajukan sejumlah kesimpulan awal. Beberapa dari kami yang kurang tertarik dengan fiqih siyasah perpolitikan pun terpesona dengan tayangan nama-nama partai politik sejak Pemilu 1955, yang disiapkan Dik Brahim.

“Rentang jarak antara yang mewakili dengan yang diwakili kok semakin menjauh. Caleg dan rakyat berangkat bersama, tetapi tidak bertemu di titik akhir,” kata Pak Yusdani. “Orang Melayu berpantun, kata tak berjawab, gayung tak bersambut, dan jawab pun hilang  makna.”

“Rentang jarak itu memang sangat tipis. Tetapi, tidak ada tragedi dan komedi yang lebih besar dari kenyataan bahwa parlemen kurang relevan untuk kita,“ kata Pak Edi Safitri. “Ini masalah komunikasi sosial, baik di dalam parlemen, terlebih-lebih buat warga yang diwakili.“

“Kepuasan warga adalah harga yang harus dibayar oleh parlemen. Dan siapapun tidak bisa mengklaim atas nama warga, sepanjang tidak berorientasi pada warga yang diwakili,“ tambah Mas Fauzi.

“Itulah masalahnya,“ sela saya. “Ada pergesaran dari daulat warga menjadi daulat pembeli. Karena suara warga sudah dibeli caleg, ya transaksi jual-beli selesai. Klaim rakyat yang mana?“

“Waduh, kok begitu, Kang?“ tanya Mas Fauzi.

“Jika caleg sudah menyelesaikan urusan membeli suara warga sebagai pemilih, ya selesai urusan ‘kan?“ jawab saya. “Itu fiqih muamalah yang lazim. Apalagi, jual-beli suara sudah biasa di kalangan politisi. Bahwa jarak antara yang mewakili dengan yang diwakili semakin jauh, ya sudah tentu.”

“Jika acuannya mulai jaman Volksraad, yaitu ketika Graaf van Limburg Stirum membentuk dan melantik Dewan Rakyat, pada 18 Mei 1918, kisah tentang warga yang diwakili kok ya tak terwakili,” kata Mas Agus Utantoro. “Saya sepakat, politik uang hanya merugikan warga itu sendiri.”

“Parpol semakin kuat tapi justru melemah,” sambung Kang Heri Winarto. “Parpol itu ‘kan terikat dengan warga pemilih. Parpol ternyata tidak punya biaya untuk melakukan pendidikan politik buat warganya. Inilah penyebab suburnya praktik politik uang.”

“Bagaimana mau bicara Indonesia Raya jika tidak mampu merampungkan masalah dasar seperti ini?” tanya Pak Edi Safitri. “Sudah jelas ada hadits yang shahih dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang artinya tidak ada dosa yang paling pantas untuk disegerakan siksaannya oleh Allah SWT. terhadap pelakunya di dunia, di samping apa yang Dia simpan baginya di akhirat kelak, seperti ‘al-baghyu’ (perbuatan melampui batas) dan memutuskan silaturrahim (HR. Abu Dawud).”

“Mari kita membaca bersama surat Hud ayat 102,” kata Pakde Adib Susila. “Dan begitulah azab Rabb-mu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesunguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.”

Kami belajar, betapa pengalaman kampanye dan pemilu menjadi pembelajaran terbaik bagi warga yang akan diwakili para anggota parlemen. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: