Kartini

Koran Merapi SERAMBI JUMAT 24 April 2009
serambi-jumat1
“Sejarah mencatat tindakan kepahlawanan di mana kita belajar agar kehidupan terjaga. Catatan tentang RA Kartini, Dewi Sartika, Rahmah el Yunusiyyah, dan banyak nama lain bukanlah simbol masalalu, melainkan sumber belajar yang menggugah. Rentang jarak ruang-waktu para pahlawan justru menegaskan makna kepahlawanan untuk masakini.”

“Keppres No 108 Tahun 1964 menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus hari lahir beliau, 21 April, sebagai Hari Kartini. Dan menjadi keputusan kita untuk membaca serta menyikapi apa arti kepahlawanan Kartini untuk kehidupan dan keseharian.”

Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian rutin, merumuskan sejumlah kesimpulan awal. Kami duduk melingkar di serambi masjid, sambil melihat tayangan lomba di kampung ”Membaca Surat-Surat Kartini” kemarin. Bertindak sebagai narasumber adalah Pak Yusdani, peneliti PSI UII, dan Mas Agus Utantoro, budayawan yang tinggal di Condong Catur Sleman.

”Kita butuh sumber riwayat hidup RA Kartini yang lain. Saya pernah membaca sejumlah pertanyaan kritis tentang posisi buku Kartini ’Door Duisternis Tot Licht: Gedachten Over en Voor Het Javanese Volk’ (Dari Gelap menuju Cahaya:
Pemikiran mengenai dan tentang Atas Nama Orang Jawa),” kata Mas Agus Utantoro. “Buku itu memuat 61 dari 105 surat Kartini yang yang diterima Mr JH Abendanon dan diterbitkannya pada 17 September 1904, tujuh tahun setelah Kartini meninggal,” lanjut Mas Agus Utantoro. “Saya justru membaca perlawanan Kartini ditujukan kepada kebijakan ekonomi-politik Belanda yang menindas. Jadi, bukan kepada laki-laki Jawa dari bangsanya sendiri.”

“Saya setuju dengan Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini). Judul buku ’Door Duisternis Tot Licht’ lebih tepat dibaca sebagai ‘Dari Gelap Menuju Cahaya’ berdasar semangat minazh-zhulumaati ilan-Nuur. Kita ingat, judul itu merujuk pada surat al-Baqarah ayat 257. Mari kita baca bersama,” kata Pak Yusdani.

“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)  dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

“Jadi yang menghalangi cahaya itu adalah tradisi Jawa yang pat-gulipat dengan kolonialisme Belanda? Setuju!” tegas Pak Edi Safitri. “Sayang beliau mati muda.“

“Bermula dari tanya-jawab beliau dengan Kyai Sholeh Darat, setelah pengajian bulanan yang mengupas tafsir Al-Fatihah di Demak, saya merasakan pembalikan biografis seorang Kartini,” kata Mas Fauzi. “Pertanyaan tentang pentingnya penerjemahan dan penafsiran al-Quran dijawab oleh mbah kyai Sholeh dengan terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), dari Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.”

“Saya akan membacakan surat Kartni kepada Ny. Abendanon, tertanggal 27 Oktober 1902,” lanjut Paklik Sriyono. “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?”

Kami belajar dari Kartini, tentang keyakinan yang dipercayai untuk diperjuangkan, semampu yang beliau bisa. Kami membaca hambatan dan kesukaran beliau yang tak terpermanai. Juga rentetan kegagalan dan kepedihan dari perempuan Jepara yang ketika berumur 12 tahun sudah diarahkan ayah dan kakaknya agar bercita-cita “menjadi istri bangsawan.

“Jangan hidup sembarangan, hiduplah yang layak, berpendidikan otak dan akhlak,” kata Kartini. Wallahu a’lamu
bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: