Bangkit

Koran Merapi SERAMBI JUMAT 22 Mei 2009
serambi jumat
“Penjajahan memisahkan antara kaum penjajah dan yang dijajah di mana nasib keduanya tidak dapat saling dipertukarkan. Selalu ada warna-warni ketidakadilan, keseme-menaan, juga pemiskinan. Mengutip sahabat Ali bin Abi Thalib, ’Andaikata kemiskinan berujud manusia, maka dialah musuh pertama yang akan kupancung kepalanya.’ Nah, bagaimana jika ujudnya bukan manusia? Butuh semangat dan terlebih-lebih kebijakan negara.”

Pakde Adib Susila, takmir yang mengasuh kajian rutin, menyodorkan kesimpulan awal tentang membaca kebangkitan nasional. Kami duduk melingkar di serambi masjid.

“Apa yang kita diskusikan adalah bagian dari panggilan Allah untuk memakmurkan bumi-Nya (ta’mir al-ardl),” lanjut Paklik Sriyono sembari mempersilakan Mas Agus Utantoro, budayawan yang tinggal di Condong Catur Sleman, selaku narasumber.

”Saya mengapresiasi kepeloporan perkumpulan orang Jawa yang bernama Boedi Oetomo tentang persatuan dan pertumbuhan serta kemajuan dan keserasian kaum bumiputra di tanah jajahan Hindia Belanda. Kita dapat membaca catatan para siswa Sekolah Pendidikan Dokter Boemiputra (School ter Opleiding van Indische Artsen) di Jakarta Pusat, 20 Mei 1908,” kata Mas Agus Utantoro.

“Konteks sejarah berdirinya Boedi Oetomo tersebut, oleh Bung Hatta dijadikan sebagai hari Kebangunan atau Kebangkitan Nasional sejak 1948. Pokok soalnya adalah bagaimana merubah keadaan atau nasib umat, setidak-tidaknya untuk meraih hidup yang layak, dengan kebebasan di bawah perlindungan hukum. Negara harus hadir untuk melawan pemiskinan ini,” tambah Mas Agus Utantoro.

Dik Brahim ternyata sudah menyiapkan risalah pendirian Boedi Oetomo di komputer. Dari layar, kami menyimak enam jenis usaha yang akan ditempuh perhimpunan priyayi Jawa tersebut. Yaitu (1) Memajukan pendidikan, (2) Memajukan pertanian, peternakan dan perdagangan, (3) Memajukan teknik dan industri, (4) Menghidupkan kembali kebudayaan bangsa yang hampir musnah akibat pengaruh Barat, (5) Mempertinggi cita-cita kemanusiaan dan (6) Segala yang perlu untuk menjamin kehidupan sebagai bangsa yang terhormat.

“Ini tentang membaca dan bertindak sebagaimana dipesankan Al-Qur’an surat ar-Ra’d ayat 11, ’Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaannya sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya. Dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.’ Butuh ikhtiar dan ridla Allah untuk merubah keadaan, yaitu ketidakadilan dan pemiskinan,” komentar Pak Yusdani.

“Mari kita bersama membaca surat at-Taubah ayat 105,” sambung Mas Fauzi. “Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

“Saya kok membacanya sebagai permasalahan perdagangan yang berkeadilan,“ Kata Pak Edi Safitri. “Awalnya adalah berdagang. Lantas, menjajah untuk mengamankan dan lebih membesarkan perdagangan. Kongsi dagang itu bisa VOC, bisa kongsi-kongsi lain pada saat ini.“

“Siapa yang berdagang dan apa yang diperdagangkan?” tanya saya. “Jika kekayaan negara yang menyangkut hajat hidup umat jadi barang dagangan, kok ya bisa-bisanya ngomong berkeadilan?”

“Segala yang perlu untuk menjamin kehidupan sebagai bangsa yang terhormat ya butuh berkeadilan,” jawab Pak Edi.

“Negara hadir agar pesan kebangkitan nasional terselenggara. Dan kita bisa berkonsultasi dengan Al-Qur‘an, yang nyata-nyata memerintahkan untuk memakmurkan bumi-Nya.”

Kami belajar, penjajahan dan terlebih-lebih perdagangan yang tidak berkeadilan hanya memiskinkan salah satu kaum. Kaum itu adalah kami, di belahan bumi bagian selatan, yang bernasib masih tertinggal dan termiskinkan. Kami butuh harapan baru untuk bangkit, dengan membaca ayat-Nya, dengan membaca risalah Boedi Oetomo. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: