Neolib

Koran Merapi SERAMBI JUMAT 12 Juni 2009
serambi jumat1

“Banyak kisah di balik angka kemiskinan di negeri-negeri muslim, yang berpotensi besar untuk menjadi negara kaya. Senyatanya, orang fakir (faqir) dan miskin (masakin) sebagai mustahik mendapat perhatian terbesar (QS At-Taubah: 60). Kita merasakan ada suasana hati yang menggejala bahwa kondisi kefakiran adalah keputusasaan. Apapun yang diikhtiarkan tetap membenarkan kutukan kemiskinan. Kita berada dalam wilayah kebijakan publik.”

Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian rutin, menyodorkan kesimpulan awal tentang neoliberalisme, yang lazim disebut neolib. Kami duduk melingkar di serambi masjid. Kliping media tentang neolib, yang disiapkan Dik Brahim, sudah beredar di antara kami.

”Sepertinya ormas Islam cenderung stagnan, terutama untuk pemberdayaan sosial. Yang saya ketahui, pemiskinan dan penindasan adalah produk kultur agung kapitalisme. Negara dan terlebih-lebih pasar kerap tidak hadir ketika umat menderita,” kata Pak Yusdani.

”Itulah, … itulah yang menjadikan kosakata neolib menjadi bahasa-gaul yang sulit dipegang. Pokoknya, neolib adalah ketika serba-ekonomi menjadi kaidah pengorganisasian umat, dengan dukungan internet,” tambah Mas Fauzi.

”Umat di negeri-negeri muslim, meminjam istilah Pak AR Fakhruddin, ibarat gajah bengkak. Besar sekaligus berpenyakit. Jadi sulit bergerak lincah. Islam memandang kemiskinan sepenuhnya masalah struktural,” lanjut Paklik Sriyono. “Mari bersama membaca surat Ar-Ruum ayat 40.”

Allah-lah yang menciptakan kamu, memberimu rejeki, mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

”Ada penguatan kisah tentang serba-ekonomi ketika menjadi kebijakan publik. Kita ingat bagaimana perkebunan dari Deli sampai Banyuwangi, dengan keringat dan air mata kuli kontrak, adalah ratusan juta gulden untuk negeri Belanda,” saya urun rembug.

“Itulah kutukan kemiskinan akibat struktur kolonialisme yang tidak dilawan,” kata Mas Agus Utantoro. “Misalnya kisah tentang Amerika Serikat menekan Indonesia untuk mengambilalih hutang Hindia Belanda sebesar US$1,13 milyar. Sekitar US$800 juta hutang itu merupakan pagu biaya perang mencegah kemerdekaan Indonesia.“

Kami tercengang dengan data yang disampaikan Mas Agus Utantoro barusan. Kliping media berkisah tentang aset perusahaan raksasa. Tayangan video pendek bertutur tentang strategi tiga jalur untuk pemulihan ekonomi ketika SBY-JK ketika dilantik, 2004: Pengentasan kemiskinan, percepatan pertumbuhan ekonomi, dan perluasan kesempatan kerja.

”Pat-gulipat Fir’aun, Haman, dan Qarun yang menindas rakyat Mesir di masa hidup Nabi Musa, sebagaimana dikisahkan surat Al-Qashash, adalah model yang juga kita temukan sekarang. Ini tentang terkumpulnya kuasa politik, ekonomi, dan birokrasi di satu atau beberapa tangan. Dan terbukti gagal,” Pak Yusdani meminta Dik Brahim menayangkan indeks kemiskinan negeri-negeri miskin.

”Kefakiran, keputusasaan, kutukan, atau apalah adalah suasana hati umat ketika membincang neolib. Ketidakmampuan umat untuk berperan serta dalam gerak global senyatanya harus menjadi tindakan komunitas agama. Kita juga berharap lembaga OKI, Rabitha Alam Islami, ICIS, dan kita sendiri mampu merumuskan sikap bersama neolib,” simpul  Pakde Adib Susila.

Kami mengakhiri perbincangan neolib dengan membaca janji Allah, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rejekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS Huud: 6). Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: