Sejahtera

Koran Merapi SERAMBI JUMAT 19 Juni 2009

serambi jumat1

“Apa yang kita pahami dan alami ketika penyikapan serba-uang menjadi prioritas dibanding kebutuhan ekonomi yang lain? Inilah saat transaksi uang telah menjadi perbincangan sehari-hari. Kita juga dihardik dengan kabar kesengsaraan orang-orang yang kalah dan terlempar dalam persaingan. Kita melihat eksploitasi gila-gilaan terhadap daya tahan alam.“

”Ayat-ayat Makiyah, sebagai dasar keimanan, mengecam dengan sangat keras hal ini. Al-Takatsur ayat 1-2 misalnya, ‘Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai masuk ke dalam kubur.’ Gerak ekonomi tidak menjawab rasa kesejahteraan umat.”

Pakde Adib Susila, takmir yang mengasuh kajian rutin, memajukan tema tentang kisah-kisah penyejahteraan umat. Kami duduk melingkar di serambi masjid. Mas Agus Utantoro, budayawan muda yang menekuni budaya kolonialisme, sudah membagikan makalah diskusi. Sedangkan Dik Brahim siap dengan dukungan dokumentasi audio-visual.

“Tema negara kesejahteraan, yang berkembang mulai 1880-an, bertujuan untuk memberi ‘rasa aman’ warga negara sejak lahir sampai mati. Tema ini berhubungan dengan kebijakan sosial melalui perlindungan, baik jaminan maupun jaring pengaman sosial. Kita bisa belajar dari Otto von Bismark (Jerman), Von Tappe (Austria), Napoleon III (Perancis), dan Uskup Agung York (Inggris),” kata Mas Agus Utantoro.

“Gagasan Pieter Brooshooft dan C. Th. Vandeventer tentang Utang Budi (een eerschuld) yang menyoal moralitas kesejahteraan dan kemajuan Belanda berkat pengorbanan bumi putra mengajukan tiga jalan untuk penyejahteraan. Pembangunan irigasi untuk pertanian, pendidikan untuk menjawab keterbelakangan, dan transmigrasi untuk menyukseskan pemberlakuan UU Agraria,“ tambah Mas Agus Utantoro.

“Politik etis adalah jawaban terhadap politik stelsel tanam paksa Van den Bosch, semacam kritik terhadap kemakmuran sebagai hasil pemiskinan tanah jajahan,“ tanggap Pak Edi Safitri, pengelola pengajian bisnis Al-Kautsar.

“Lebih dari 10 abad yang lalu, kita sudah mempunyai rumusan hak-hak dasar manusia yang mencakup hak-hak untuk hidup, berkeyakinan, berpikir/berpendapat, pemilikan materi, dan berketurunan. Imam al-Ghazali bahkan menambah hak untuk tidak dirusak kehormatannya,” kata Pak Yusdani.

“Dan kita hidup dalam dunia yang digambarkan surat Al-Humazah ayat 2-3, yaitu masyarakat yang selalu berdaya upaya untuk menghimpun kekayaan sebanyak-banyaknya karena mengira kekayaan itulah yang bakal menjamin kelangsungan hidupnya. Ada dukungan sistem ekonomi-politik, budaya, pengetahuan, dan agama,“ sela Paklik Sriyono.

“Berarti kesejahteraan adalah jaminan keberlanjutan nafsu tamak terhadap kekayaan materi?” Tanya Mas Fauzi. “Kalau umat sudah tidak mampu membeli barang berarti penjualan macet, produksi berhenti, laba tidak ada, dan ekonomi berjalan di tempat.“

”Saya tertarik dengan hak pemilikan materi yang disampaikan Pak Yus,” kata saya. “Apa kitab rujukannya?”

Al-Muwafaqat karya Syathibiy, terbitan Mesir, juz I, hal. 14. Juga karya Sa’id Ramadhan yang berjudul Dlawabithul Mashlahah,” jawab Pak Yusdani.

“Kasanah yang luar biasa,“ kata saya. “Kita sudah mempunyai doktrin yang harus kita hadapkan dengan kenyataan keseharian.“

“Jika kolonialisme dipahami perdagangan, surat As-Shaff ayat 10-11 sudah memberi penyelesaian,” kata Dik Brahim. “Mari kita baca bersama, Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

“Itulah klaim tentang keseimbangan dan keberlanjutan perdagangan, dengan latar belakang kolonialisme yang tidak manusiawi,” kata Paklik Sriyono. “Dan menjadi sejahtera bukanlah melulu tentang adalah keberlanjutan prioritas serba-uang.”

“Inilah garansi tentang kesejahteraan sebagai keseimbangan gerak ekonomi,” tutup Pakde Adib Susila. “Mari bersama kita membaca Al-Baqarah ayat 261, Ibarat sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, di dalam setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah menggandakan pahala bagi siapa saja yang menghendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha tahu.” Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: