Membaca Madinatul Munawarah: Bertanya kepada Tuan Hujair AH. Sanaky

Hujair AH. Sanaky
Visi Indonesia 2030,” (Yayasan Indonesia Forum, 2007), memajukan empat capaian utama, yaitu pendapatan/kapita (2030) mencapai 18.000 dollar AS, pengelolaan kekayaan alam yang berkelanjutan, perwujudan kualitas hidup modern yang merata dan mengantarkan sedikitnya 30 perusahaan Indonesia masuk daftar Fortune 500. Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi kelima di dunia.

Saya sempat larut dalam debat Visi itu di sejumlah tempat di Jogja. Rachmat Gobel, salah seorang pemangku lembaga tersebut begitu menggugah dengan pernyataan-pernyataan tentang perlunya visi Indonesia. Jika kita sepakat untuk menuju visi 2030, insya Allah Indonesia yang adil dan makmur terwujud. Dan bukankah setiap bangsa membutuhkan visi ke depan untuk bergerak maju? RRC 1980-an bervisi untuk 2020, 2050, dan 2080. Lee Kuan Yew pada 1959 memimpikan Singapura yang menyamai negara-negara Eropa Barat pada 1980.

Dan saya juga melibatkan diri dalam debat ngalor-ngidul dengan Tuan Hujair AH. Sanaky, yang tengah menyusun disertasi tentang pertautan pendidikan dan model Madinatul Munawarah di UIN Suka, Yogyakarta. Saya sungguh beruntung bisa menjadi santri-kalong, menimba ilmu dari cendekia muslim dari FIAI UII Yogyakarta tersebut. Dan senyatanya saya tetap membincang Visi Indonesia, dengan model peradaban Madinah, yang pernah teruji dan terbukti.

Senyatanya saya muallaf untuk studi pemikiran pendidikan Islam, apalagi dengan data beliau yang ensiklopedis. Pertanyaan-pertanyaan tentang pendidikan adalah hutang-biografis yang belum terlunasi, bahkan setelah bertahun-tahun harus meninggalkan kampus Karangmalang. Penyikapan tentang ber-Islam memajukan labirin yang niscaya terjawab saban ke Kota Baru, Yogyakarta, juga menjadi santri-kalong kepada Tuan Adib Susila dkk. Jadi, adakah sesuatu yang dapat saya nyatakan tentang cita Madinatul Munawarah dan jalan pendidikan?

Saya mengiyakan ketika Tuan Adib Susila, dalam “Menuju Abad Belum Bernama” (Yogyakarta, Komunitas Kaoem Saroengan, Yayasan NUN-XXV, tanpa tahun) berkisah: Peradaban Islam yang penaka satu tubuh (kal jasadil wakhid) adalah akibat logis dari Iman yang lahir dari proses belajar (iqra). Ibarat seorang anak manusia, periode al Alaq adalah embrio (alaqah) peradaban Islam. Atau seperti halnya matahari, saat itulah fajar Islam menyingsing terang, menghapus kegelapan malam (dzulumat) menuju Madinatul Munawarah (peradaban yang gilang-gemilang penaka surga yang diimpikan seluruh umat manusia).

Tuan Adib menegaskan, betapa dalam al Quran terdapat ayat-ayat yang berbunyi: “afalaa tubshirun” (apakah kamu tidak mengamati?), “afalaa tandzurun” (apakah kamu tidak menganalisis?), juga “afalaa tatadabbarun” (apakah kamu tidak meneliti?). Dan “Sesungguhnya Allah beserta Malaikatnya berharap agar manusia dalam memilih model kehidupan ini menurut seperti pilihan Nabi. Hai orang-orang mukmin berharaplah kalian agar dapat hidup menurutnya. Islamkanlah seluruh jiwa, raga, harta dan sanak serta saudara kalian dengan sungguh-sungguh, agar apa yang anda harapkan dapat menjadi kenyataan” (al Ahzaab ayat 56).

Pada wilayah inilah, ledakan pertanyaan tentang pendidikan sebagai alat-menuju-tujuan belum terjawab. Ini tentang restrukturisasi ilmu pendidikan yang dengan kejelasannya (a unified body of knowledge). Jika kesibukan pegiat pendidikan melulu untuk menjawab perilaku dan perkembangan peserta didik, betapa panjang jalan yang niscaya disiapkan Tuan Hujair untuk menembus lapisan-lapisan pejal menuju Madinatul Munawarah sebagai model pendidikan.

Sejarah (pendidikan) boleh jadi adalah perebutan antar-rezim untuk memberikan makna. Jika klaim-klaim filsafat pendidikan masih berkutat tentang ihwal sifat spekulatif, analitis, dan preskriptif, lantas dimanakah kemandirian filsafat pendidikan dengan ilmu-ilmu yang lain? Sebaliknya, saya belajar bahwa berfilsafat “hanya” mampu menentukan sifat Tuhan, yaitu bahwa Tuhan itu adalah Tunggal Mutlak dan Dia adalah Prima Causa. Filsafat tidak mampu menemukan “who is the one God.” Butuh jembatan-jembatan untuk mempertautkan filsafat pendidikan –sebagai alat– dengan rancang-bangun Madinatul Munawarah. Dalam klaim saya, Tuan Hujair akan bersibuk dengan pertanyaan ontologis ini sebelum bergeser ke sosialitas Madinatul Munawarah.

Saya bermimpi Visi Indonesia 2030 dengan khasanah Madinatul Munawarah. Di antara peradaban besar, risalah-risalah Indonesia yang modern, yang dimulai dari rapat Indonesische Vereeniging di Rotterdam, 8 Februari 1925, tetap memajukan pertanyaan, tidak terkecuali untuk Ibu Megawati dan Pak Prabowo Subianto selaku pribadi yang maju Capres dan Cawapres. Bukankah menjadi Indoesia adalah dengan menolak kutukan sejarah? Bilakah Indonesia Raya? Adakah sesuatu yang dapat ditegaskan bahwa gerak pendidikan adalah senyampang dengan pelacakan yang tulus tentang Visi Madinatul Munawarah?

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

3 responses to “Membaca Madinatul Munawarah: Bertanya kepada Tuan Hujair AH. Sanaky

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: