Sehat

serambi jumat1
Koran Merapi SERAMBI JUMAT 17 Juli 2009

“Setiap bangsa mempunyai impian. Warga Amerika bermimpi tentang hak untuk kehidupan, kebebasan, dan kebahagiaan melalui persaingan otonomi individu. Sebaliknya orang Eropa lebih menekankan hubungan antarmanusia. Dan kita mempunyai khasanah dan impian peradaban yang luar biasa tentang Madinatul Munawarah, tidak terkecuali untuk mengelola kesehatan.”

Pakde Adib Susila, takmir yang mengasuh kajian rutin, memulai bahasan sistem kesehatan warga. Di serambi masjid, kami duduk melingkar. Sejumlah artikel tentang kesehatan dan kesejahteraan sudah disiapkan Dik Brahim, termasuk video pendek yang diunduh dari internet.

“Allah beserta para malaikat-Nya berharap agar manusia dalam memilih model kehidupan ini menurut pilihan Nabi. Islamkanlah seluruh jiwa, raga, harta, dan sanak serta saudara dengan sungguh-sungguh, agar apa yang kita impikan menjadi kenyataan Mari kita bersama membaca surat al-Ahzaab ayat 56,” kata Pakde Adib:

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

“Kita menyatakan pendidikan, kesehatan, dan pendapatan menjadi dasar peradaban. Hadits yang diriwayatkan al-Bukhari sungguh sangat bermakna,” tambah Paklik Sriyono. “Siapa saja di antara kalian yang berada di pagi hari sehat badannya, aman jiwa, jalan, dan rumahnya, serta mempunyai makanan untuk hari itu, maka seakan ia telah diberi dunia seisinya.”

“Suatu ketika, Kanjeng Nabi Muhammad Saw. memerintahkan agar delapan warga Madinah yang tengah sakit mendapat perawatan di Dzi Jidr dengan pembiayaan dari negara. Mereka meminum susu onta yang merupakan aset baitul mal hingga sehat,” tambah Pak Yusdani.

“Kanjeng Nabi juga menugaskan dokter pribadinya, hadiah dari raja Mesir, untuk melayani seluruh warga, dengan pembiayaan dari baitul mal dan bukan dari uang pasien,” tambah Mas Fauzi.

“Dalam peradaban Islam di Jazirah Arabia, rumah sakit menjadi bagian dari sistem kesehatan. Terdapat himpunan peraturan perundang-undangan beserta kebijakan layanan dan pemeliharaan kesehatan untuk kemaslahatan umat,” kata Pak Hujair AH Sanaky, yang tengah meneliti model Madinatul Munawarah.

“Karena mimpi Amerika lebih individual, maka untuk memelihara kesehatan warga bebas memilih perusahaan asuransi swasta. Yang tidak mampu, pemerintah federal menyediakan dana melalui Medicaid dan Medicare. Sebaliknya, sistem Eropa berdasar solidaritas sosial, yang kaya membantu warga miskin,” kata Pak Edi Safitri. “Model kita yang bagaimana ya?“

”Modelnya ya, … pokoknya orang miskin dilarang sakit,” kata saya.

Kami membaca cepat kliping koran tentang Puskesmas, yang awalnya adalah kebijakan untuk meningkatkan kesehatan rakyat berganti menjadi balai pengobatan untuk yang sakit. Penyebabnya adalah anggaran untuk pencegahan penyakit yang nyaris tidak tersedia.

Kami melihat tayangan video pendek tentang mahalnya layanan rumah sakit karena tingginya biaya pemeliharaan fasilitas fisik. Ternyata, layanan kesehatan yang tidak bermutu, meskipun murah, membuat biaya pemeliharaan kesehatan umat secara keseluruhan menjadi mahal. Juga, kebijakan publik tidak mampu memaksa pengusaha untuk memelihara kesehatan pekerjanya melali asuransi.

“Ini risalah Indonesia Sehat 2010. Dan kita sudah menetapkan target 80.000 Desa Siaga tahun kemarin. Bagaimana merujuk model Madinatul Munawarah tentang lingkungan, layanan kesehatan, dan masyarakat yang mengikhtiarkan iklim hidup sehat?” tanya Mas Agus Utantoro.

Kami ternyata membincangkan impian yang bersahaja tentang menjadi sehat. Dan itulah sebagian permasalahan sehari-hari yang niscaya dijawab. Kehidupan yang terpuji serta paling hebat tiada tara hanyalah jika diatur sesuai dengan ilmu Allah sebagai satu-satunya pembangun hidup seimbang saling kasih. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, peneliti Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: