Suap

Koran Merapi SERAMBI JUMAT 7 Agustus 2009

“Praktik suap dapat kita temukan dalam pemerintahan, bisnis, juga agama. Bahkan ada kajian, betapa suap sudah tersistem dan terlembaga sebagai bagian dari keseharian. Tanpa suap, sistem tidak berjalan, sebagaimana suap membuat bebal suatu lembaga untuk tidak belajar dari kesalahannya sendiri.”

“Politik uang (money politics) jelas merupakan suatu jenis suap. Dalam bahasa syariat, kita mengenal risywah, suatu
pemberian yang bernilai material, dengan maksud memengaruhi keputusan pihak penerima agar menguntungkan pihak pemberi dengan melawan hukum.”

Pakde Adib Susila, takmir yang mengasuh kajian rutin, memulai bahasan. Kami sepakat mengkaji sistem uang untuk kemaslahatan secara bersambung. Di serambi masjid, kami duduk setengah melingkar. Ramadan Ibrahim Mohammad, yang akrab kami panggil Dik Brahim, menayangkan video tentang skandal suap Enron Corporation, sebuah perusahaan energi yang berkantor di Houston, Texas, Amerika Serikat.

Kasus Enron menarik perhatian dunia. Fortune menyebutnya sebagai “perusahaan Amerika paling inovatif” selama enam tahun berturut-turut sebelum kebangkrutannya pada akhir 2001. Perusahaan terkemuka dunia dalam bisnis listrik, gas alam, bubur kertas dan kertas, serta komunikasi itu ternyata pailit sebab kehebatannya ternyata didukung oleh aksi tipu-tipu kantor akuntansi Arthur Andersen secara sistematis, terlembaga, dan direncanakan secara kreatif. Bahkan dalam kasus hukum, para direkturnya mengulangkan kesalahan, yaitu menyuap hakim.

“Kesimpulan saya satu. Kasus bangkrutnya Enron menjadi pembelajaran terbaik, juga paling rumit, tentang suap yang
nyata-nyata dilarang hukum dan agama,” tegas Pak Hujair AH Sanaky.

“Kesimpulan saya juga satu. Di sini suap, di sana suap, …. Kita juga mengalami skandal Bank Bali, BLBI, juga kasus-kasus korupsi besar,” tambah Pak Edi Safitri.

“Sejarah penyuapan seakan-akan bukan lagi menjadi sisi gelap peradaban. Suap dipoles dengan perumitan peristilahan dan modusnya. Kita menjadi gamang jika tidak mengkajinya secara mendalam,” kata Paklik Sriyono.

“Syariat menjelaskan, praktik suap adalah tindakan yang dapat mendatangkan siksa dari Allah Swt. bagi pelakunya, baik pihak yang memberi (al-raasyi) maupun yang menerima (al-murtasyi),” kata Pak Yusdani. “Sebaliknya, siapapun yang secara sadar berusaha menghindarkan diri dari suap, baik perorangan maupun bersama, maka Allah menjajikan pahala.”

Kami bersama membaca hadits Bukhari-Muslim, “la’ana Allah al-raasyi wa al-murtasyi” (Allah mengutuk orang yang
memberi suap dan yang menerima suap). Penegasan yang optimal betapa praktik suap merupakan tindakan sangat tercela dan dibenci oleh agama maupun hukum moral.

“Kepentingan bersama sebagai subjek menjadi rugi dengan praktik suap. Apalagi jika kita menelaahnya dengan
kepentingan golongan yang lemah, yang secara teologis bertautan dengan kepentingan Allah, haq Allah atau sabil
Allah. Jadi, suap mengabaikan keberpihakan terhadap kebenaran dan keadilan sebagai kepentingan bersama,” simpul Mas Agus Utantoro.

“Mari kita bersama membaca Al Quran,” kata Pakde Adib Susila.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Al-Dzaariyat: 56).
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqarah: 30).

“Membaca suap beserta dampak kerugiannya, mengkaji peran kekhalifahan manusia, juga menelaah jatuh-bangun peradaban, bisa kita simpulkan bahwa suap adalah kejahatan kemanusiaan. Mari kita lawan,” simpul Pakde Adib Susila.
Kehidupan yang terpuji serta paling hebat tiada tara hanyalah jika diatur sesuai dengan ilmu Allah sebagai satu-satunya pembangun hidup seimbang saling kasih. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, peneliti Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: