Berhikmat

Cahaya Ramadan KORAN MERAPI
Senin 7 September 2009

cahaya-ramadan

Syukur walhamdulillah, hari ketiga berpuasa Ramadan 1430 H. Sebagaimana biasanya, selama Ramadan kami menjadi santri kalong ke sejumlah sahabat. Menyiapkan bekal ilmu (I’dad Fikri wa Ilmi) dan roh keimanan (I’dad Ruhi Imani). Tadi malam, kami nyantri di rumah Mas Adib Susila, di bilangan Kotabaru, Yogyakarta.

Di teras rumah yang bersahaja, kami mencerap kepenuhan mimbar ilmu batu ujian. Pertanyaan berjawab dengan pencerahan serta permasalahan bersahut antara ibadah ritual dan ibadah sosial.

”Kita diingatkan munajat Ali ibn Abi Thalib, dalam Nahj al-Balâghah,” kata Mas Adib Susila membuka pembicaraan.

“Tuhanku, aku beribadah kepada-Mu bukan karena takut akan neraka-Mu, bukan karena rakus akan surga-Mu. Aku beribadah kepada-Mu semata-mata karena aku tahu, hanya Engkau yang berhak disembah.”

”Dalam Al Quran, puasa disebut dengan kata shiyam, berakar pada kata sha-wa-ma yang bermakna menahan, berhenti, dan tidak bergerak. Secara syariat, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Secara hakekat, berpuasa adalah menahan atau mengendalikan diri,” lanjut Mas Adib Susila.

”Dalam kotbah menjelang Ramadan, Rasulullah berkata,” sambung Mas Adib Susila, “Muliakanlah orang-orang tuamu, sayangilah yang muda, sambunglah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya, dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarkannya.”

Kami membaca bersama nasehat-nasehat Kanjeng Rasul Muhammad Saw. menjelang Ramadan. Kami teringat catatan-catatan selama menjadi santri kalong, bagaimana orang-orang yang saleh senantiasa berdoa, “Ya Allah, berikanlah kepada kami keberkatan pada bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami kepada Ramadhan.”

“Ramadan adalah bulan yang penuh keutamaan,” tanggap Dik Ramadan Ibrahim Mohammad. “Ketika pintu-pintu surga dibuka, kita meminta agar Allah tidak akan pernah menutupnya. Saat pintu-pintu neraka tertutup dan setan-setan terbelenggu, kita meminta kepada Allah agar setan tak pernah menguasai kita.”

”Allah menganjurkan untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya, terutama tindakan menolong beban kaum fakir miskin,” sambung Mas Latif Fauzi. ”Ah, seandainya muhâsabah ini bisa terus berjalan di luar bulan puasa dan terorganisasikan, tentu sangat bagus.”

“Itulah yang hendak saya sampaikan,” tegas Pak Edi Safitri. “Karena penderitaan fakir miskin tidak hanya terjadi pada bulan Ramadan, bukankah secara tersirat kita membaca pesan kedermawanan dari perintah berpuasa?”

“Kita butuh mawas diri secara ketat tentang praktik berpuasa kita selama ini,” kata Pak Yusdani. “Mungkin ada yang salah dengan ibadah mahdhah kita sehingga bangsa kita masih sering mendapat penilaian yang buruk dalam hal korupsi, kemiskinan, penistaan hak-hak warga, dan sebagainya.”

“Jika pengendalian nafsu hanya bertahan selama bulan Ramadan, mungkin masalahnya adalah cara kita memahami ibadah hanya sebagai kewajiban manusia kepada Allah dan bekal menghadapi Hari Pengadilan,” lanjut Pak Hujair AH. Sanaky.

”Kita butuh panduan ritual beribadah yang juga merujuk kepada kebenaran sosial.”

Pernyataan Pak Hujair membuat kami terhenyak. Mungkin kita tidak ketat saban membaca diri dan mencamkan ayat-ayat Allah. Atau, barangkali kita tidak cukup cara untuk memahami konteks permasalahan bangsa ini sehingga kurang mencerap kembali apa arti hafalan Alquran yang yang terlafalkan dalam shalat.

Alhamdulillah, di Kotabaru kami membaca kembali secara bersama tentang kehadiran Ramadan. Kami berhikmat tentang keutamaan Ramadan. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, peneliti Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: