Seni Bisa Menjadi Medium Kerukunan Antarumat

Tanpa Keragaman Tak Ada Keindahan Di Dunia
Kamis, 17 September 2009 | 16:20 WIB

kompas_white

Yogyakarta, Kompas – Hidup berdampingan dengan umat penganut agama, dan saling membagi kasih sayang, hal yang sangat indah. Jika itu terwujud, manusia merasakan keindahan sejati dalam hidup, merintis jalan menuju kepada Tuhan.

Demikian intisari diskusi “Curah Pandang Pergulatan Iman dan Seni” di Bentara Budaya Yogyakarta, Selasa (15/9).

Diskusi itu menjadi bagian acara pameran lukisan KH Muhammad Fuad Riyadi (38), Pengasuh Pondok Pesantren Rudlotul Fatihah, Bantul. Pameran kiai bertema “Aura Dzikir” ini berlangsung 12-17 September.

Selain Kiai Fuad, diskusi menghadirkan pembicara budayawan danrohaniwan Katolik Sindhunata, musikus dan budayawan Jaya Suprana, Romo Sapto Raharjo (tokoh kejawen dari Paguyuban Tritunggal), Ida Bagus Agung (rohaniwan Hindu). Puluhan seniman dan budayawan Yogyakarta menghadiri acara itu.

“Cita-cita hidup manusia adalah mencapai kesucian dan keindahan.Dan bayangkan jika manusia hidup tanpa dua hal itu. Begitu menyedihkan, bukan?” ujar Ida Bagus. Seni, lanjut dia, dapat dijadikanmedium kerukunan dan persatuan antarumat.

Alasannya, menurut dia, karya seni bersumber dari Tuhan juga. Ida Bagus menyebut lukisan Kiai Fuad “indah” karena ada auranya sehingga membagi keindahan itu ke setiap mata yang memandang.

Jaya Suprana menuturkan, lewat keindahan, manusia menuju Tuhan.Cara mencapai keindahan itu dengan membagi kasih sayang. “Iman, seni, agama, politik, atau apa pun asal muaranya kasih sayang. Itulahkeindahan. Tuhan itu tidak untuk dicari kemana-mana. Tuhan ada kala kita bisa membagi kasih sayang,” tuturnya.

Kiai Fuad menyampaikan, hal mudah jika manusia ingin menuju surga. “Manusia cukup mengasihi makhluk di bumi dan malaikat di langit akan mengasihi manusia. Tuhan memasukkan manusia ke surga karena belas kasihan-Nya. Ibadah manusia di bumi tak cukup; harus ada tindakannyata,” paparnya.

Bermakna

Peringatan hari raya keagamaan, tambah Kiai Fuad, mestinyamenyentuh kepada esensi. “Ada peringatan hari raya sebuah agama yang diwujudkan dengan penanaman 1.000 pohon di Kaliurang. Nah, itu yang saya maksud dengan perayaan agama yang kegiatannya bermakna,” kata dia.

Romo Sapto mengutarakan, melalui seni, keindahan dan kejujuran dibagi. Itulah yang dilakukan Kiai Fuad yang proses melukisnya diawali dari zikir. Zikir itu sendiri tentang keindahan dan kejujuran.

Menurut Romo Sindhu, dunia perlu banyak warna agar manusia belajar dan menghargai keindahan. Tanpa keragaman, dunia akan jadi monoton. Tak akan ada keindahan di dalamnya.

Di situlah, Romo Sindhu melihat pertautan antara Tuhan dan seni. Tuhan sebagai zat agung menciptakan dunia dari beragam-ragam jenis, warna, termasuk agama. “Ada baik, ada buruk. Ada pergolakan, juga ada harmoni. Persis seperti lukisan,” katanya. (PRA/ENG)

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: