Sekolah Daun di Lereng Pegunungan Mantikole, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tenggara

Janji Verifikasi untuk Sumbangan, Diknas Tidak Pernah Datang
Kamis, 15 Oktober 2009
Nur Soima Ulfa, Bora

JP

http://jawapos.co.id/

Kondisinya persis namanya, Sekolah Daun. Berdinding ilalang dan beratap daun kelapa. Begitu dimunculkan dalam sebuah film dokumenter, banyak pihak yang menaruh perhatian. Namun, sekadar perhatian. Fisik sekolah tetap sama dengan saat dibangun pada 2007.

LOKASINYA di Topesino, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Berbagai upaya sudah dilakukan para guru untuk ”menarik” perhatian demi mendapat perbaikan.

Dibantu sekelompok anak muda kreatif yang tergabung dalam Jemari Hitam Putih, para guru membuat film dokumenter yang mengisahkan Sekolah Daun tersebut. Film itu pun diputar saat upacara peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI di kecamatan pada 17 Agustus 2008.

Respons serta perhatian pun bermunculan. ”Yang paling perhatian adalah kalangan dokter. Mereka langsung menyumbang obat-obatan,” ungkap guru honorer sekolah itu, Indrawati Sambow AMa.

Film dokumenter tersebut terus bergulir sampai ke Depdiknas di Jakarta. Seorang dermawan asal Jakarta menyumbangkan seragam sekolah dasar, merah putih. Patut disyukuri, meski hanya cukup untuk lima siswa.

Bagaimana dengan respons dinas pendidikan setempat? Indrawati hanya menghela napas panjang. ”Dinas bilang sabar saja. Kami pun hanya bisa menunggu dengan sabar,” katanya.

Dia menyatakan pernah beberapa kali mendatangi Dinas Pendidikan Sigi untuk menanyakan realisasi bantuan untuk sekolahnya. Dinas menyatakan siap membantu dengan syarat akan memverifikasi ke lokasi sekolah dulu.

Jika dianggap layak mendapat bantuan, tidak ada alasan untuk menunda. Masalahnya, sampai sekarang belum pernah ada petugas dinas pendidikan yang berkunjung ke Sekolah Daun untuk memverifikasi. ”Kami hanya bisa menunggu karena memang belum pernah didatangi dinas,” ujarnya.

Keinginan Indrawati dan guru-guru di Sekolah Daun sebenarnya tidak muluk-muluk. Mereka tidak berharap bangunan sekolah ilalang itu diganti dengan bangunan permanen dari batu bata dan semen. ”Kami hanya berharap dinding ilalangnya diganti papan. Itu sudah layak,” tegasnya.

Yang penting menurut dia adalah lokasi sekolah. Dia berharap bisa dipindahkan dari lokasinya yang sekarang di lereng bukit yang terjal. Posisi itu membuat sekolah tersebut berisiko longsor.

Jika kondisi bangunan seperti itu, bagaimana dengan buku-buku pelajarannya? ”Biasanya pinjam dari sekolah induk di bawah (SD Inpres Mantikole, Red),” jelasnya.

Seberapa pentingkah peran sekolah tersebut bagi warga sekitar? Menurut Indrawati, sekolah itu seakan menjadi ikon perjuangan dusun-dusun lain di sekitarnya yang kondisinya tidak jauh berbeda.

Dia yakin perubahan sekolah tersebut akan berdampak pada perbaikan serta peningkatan derajat hidup 48 KK yang mendiami jajaran pegunungan Mantikole. Diharapkan, nurani para pejabat Pemerintah Kabupaten Sigi tergugah untuk membantu.

Yang dikhawatirkan, kurangnya perhatian terhadap warga yang tinggal di wilayah terpencil itu bisa menyulut benih separatisme. ”Saya khawatir, paham separatisme bisa masuk dengan mudah seperti yang terjadi di Papua. Saya bertekad mendidik anak-anak mereka. Tapi, apalah artinya kami, kalau tanpa bantuan dan perhatian pemerintah,” ujar Indrawati. (*/jpnn/ruk)

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

2 responses to “Sekolah Daun di Lereng Pegunungan Mantikole, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tenggara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: