Fantasmagoria KAMI, Kepulangan

(koleksi Imam Samroni April 20, 2009)

(koleksi Imam Samroni April 20, 2009)

Bermula dari telpon Mas Endra Bawono (14/10), yang mengabarkan bahwa Mas Wafiek meninggal dunia. Saya langsung menghubungi Mas Adib Susila tentang keabsahan informasi tersebut. Mas Adib sendiri tengah menunggu kebenaran dan keterangan rincinya. Sampai akhirnya ada pesan singkat dari mas M. Sobirin tentang benarnya kabar.

Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali (Al-Baqarah ayat 156). Saya tertegun dalam kalimat istirjaa tersebut. Pada akhirnya, Allah menyiapkan jalan terbaik-Nya untuk sahabat M Wafiek (25 Januari 1961- 14 Oktober 2009). Pada akhirnya, Allah menjawab dengan kemahakuasaannya dengan ruang-waktu keabadian.

Saya mengenal almarhum melalui jejaring Kotabaru, Yogyakarta, pertengahan 1990-an. Jejaring itu bernama komunitas NUN-XXV, yang dengan metamorfosisnya turut menandakan sejarah-sejarah kecil.

Sebagaimana masalalu mempunyai pertautan dengan masadepan, saya pun memahami sejarah sebagai projek masadepan. Sebagian sejarah komunitas NUN-XXV adalah lapisan-lapisan peristiwa yang menandakan adanya Partai KAMI (Kebangkitan Muslim Indonesia) di Jogja, 1999-2004. Dan almarhum adalah salah satu penyaksi sekaligus pewarta. Jika mesin pencari di internet hanya mampu menjawab sepanjang data sudah tersedia, almarhum mempunyai beberapa data dan bahkan info yang layak menjadi alternatif jawaban.

Ketika mulai akrab, saya pernah bertanya kepada almarhum tentang pilihan profesi sebagai wartawan dan mengapa tidak menjadi guru di kelas. Jawabannya adalah pertanyaan-balik yang menyoal saya yang juga tidak mengajar di sekolah. Saya menyebut beberapa nama teman kuliah di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY, Universitas Negeri Yogyakarta) yang tidak menjadi guru sebagaimana batasan UU Sistem Pendidikan Nasional. Dan perbincangan tergugah ketika memerikan perjalanan Madrasah Aliyah Kejuruan “Ummatan Wasathan” di Ngijon, Sleman. Kami mengapresiasi perjuangan mas Ajib Setyabudi dkk., satu almamater di kampus Karangmalang, yang pada saat itu tengah menghidup-hidupi projek yang dilepas dari PPM-nya mas Adi Sasono.

Poros Kotabaru-Mangkubumi-Jetisharjo mengakrabkan kami. Kotabaru adalah komunitas NUN-XXV, Mangkubumi adalah kantor Kedaulatan Rakyat, dan Jetisharjo adalah DPC Partai KAMI Kota Yogyakarta. Itu adalah penjelasan yang resmi. Yang tidak resmi dan lebih bermakna adalah Kotabaru sebagai simpul berjejaring: Boleh jadi adalah “Komunitas Kaum Sarungan,” barangkali adalah kantor DPD Partai KAMI Propinsi DIY, mungkin ruang diskusi yang meskipun sangat mendadak tetapi mampu menjamu Greg Barton ketika di Jogja.

Poros Kotabaru-Mangkubumi-Jetisharjo pun menjadi “masalalu yang sangat pribadi” setidak-tidaknya dalam penafsiran saya. Saya mengalami proses belajar politik yang terlibat dan melibatkan diri. Cita-cita saya sampai SMA yang ingin menjadi perencana wilayah atau desainer yang tidak tercapai justru mendapat kepenuhan pemaknaan ketika lima tahun menjadi politisi di Malioboro. Ketika saya bercerita bahwa politisi adalah profesi yang kelak sebagai kayu bakar di neraka, almarhum hanya tersenyum. Di wilayah fiqih siyasah inilah, almarhum M. Wafiek menunjukkan kepakarannya yang tepat waktu. Saya belajar dengan metode “trial and terror.” Saya membaca dan menulis, juga bertindak, bahwa “buta warna” politik berpotensi menjadi penghuni neraka.

Saya masih mengingat ketika berada dalam situasi dilematis menjelang pemilihan pimpinan DPRD Propinsi DIY, September 1999. Dengan latar belakang saya yang golput (sampai Pemilu 1997) dan suasana hati melawan nalar partai eks-Orde Baru, saya harus memilih. Merujuk dari raihan jumlah kursi, dari PDI Pejuangan diajukan nama pak Surasmo Priyandono, PAN adalah pak Totok Daryanto, PKB mas Nur Ahmad Affandi, sedangkan partai gabungan berkonflik. Bermula atas nama projek masadepan komunitas, pada akhirnya saya menjadi peniup terompet “perseteruan” antara mas Boedi Dewantoro (PK, sekarang KS) vis a vis kang Abdurrahman atau pak Syukri Fadloli (PPP) yang sama-sama dari gabungan partai. Ketika saya mendukung kandidat PKS, saya merasakan gencarnya pemberitaan KR. Saya tidak mempunyai koleksi kliping KR periode tersebut yang nyaris memunculkan pernyataan saya saban hari di halaman politik.

Almarhum mas Wafiek yang termasuk menyarankan saya untuk mencari perlindungan di kampus dengan garansi aman. Bermula dari pernyataan saya di salah satu koran Jogja tentang kepemimpinan daerah, dan dianggap melukai hati rakyat Jogja (!), pagi-pagi sekali (alm.) Khairuddin mencari saya di ruang Komisi E. Beliau mengingatkan saya untuk sangat berhati-hati terutama karena saya bukan orang Jogja aseli. Saya sempat berkilah bahwa politisi di Fraksi Partai Golkar juga banyak yang bukan aseli Jogja. Kang Khairuddin yang politisi senior Golkar tidak ingin berdiskusi dan dengan sangat mempersilakan saya untuk tidak mengikuti rapat-rapat komisi pada hari itu.

Saya tidak mempunyai cukup data dan informasi tentang ancaman tersebut. Saya pernah mengalami beberapa situasi ganjil tersebut sebagai warga pergerakan. Pembubaran rapat di Mangkunegaran sebab tempat sudah dikepung intel, kekacauan ketika menonton demo di depan Kantor Pos Besar Jogja, juga ketika saya memasang bendera putih di fakultas dengan pengamanan Menwa. Ketika menelpon almarhum, saya diminta ke kampus saja dan tetap tidak ada penjelasan yang memadai. Saya menjawab bahwa saya akan ke PSI UII (Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia), yang saat itu masih berkantor di jalan Suroto, Kotabaru. Mas Wafiek mendukung pilihan saya dengan canda bahwa UII adalah kampus Islam terakhir yang masih menjaga keragaman sikap beragama Islam. Saya langsung berkabar ke mas Adib Susila, ketua DPD Partai KAMI DIY sekaligus kepala suku. Saya juga menelpon isteri dengan pokok soal yang sama.

Saya berikhtiar mengelola “masalalu yang sangat pribadi” ketika bersahabat dengan almarhum. Waktu yang bergulir, ruang yang mengalir, halaman politik KR yang mewartakan tentang –meminjam Walter Benjamin– fantasmagoria. Media memberitakan tiap keseharian politisi dan projek politik yang tak stabil dan mendesakkan ketergesaan. Sesuatu yang sangat pribadi adalah dorongan untuk tetap mengupayakan “abad yang belum bernama.” Dengan analisis sok berfilsafat yang saya anggap tidak mendalam, almarhum memajukan banyak pertanyaan terhadap buku terjemahan Max I. Dimont “Desain Yahudi atau Kehendak Tuhan,” yang diterjemahkan mas Toro. Saya hanya memajukan plesetan pembalikan, bahwa bukannya kehendak Yahudi melainkan Desain Tuhan.

Fantasmagoria KAMI (dan bukan melulu klaim partai politik) adalah lapisan peristiwa yang sangat kecil dalam jejaring Kotabaru. Di depan jenazah mas Wafiek, dalam doa, saya mencerap ruang yang menghadirkan rasa-sunyi: Juga tentang utang biografis, pernyataan terimakasih untuk lapisan peristiwa perpolitikan, dan pengharapan ketabahan untuk ananda Mufti dan Mifta bin M. Wafiek. Dengan segala puja dan puji kepada Allah, doa dan pengharapan ini juga terlantun kepada almarhum bapak Khanafia (ayahanda mas Yusuf CK, Jetisharjo), almarhum kang Budiyo di Godean, almarhum mbah M. Bakir (ayahanda mas Adib Susila).

Bersama mereka, yang telah berpulang, saya berkesempatan membaca sejarah-sejarah kecil yang begitu nyata dan mewujud. Dan di dalam lapisan peristiwa ini saya belajar untuk melawan ketidaksabaran.

Sekarsuli, Sleman, 16 Oktober 2009

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

2 responses to “Fantasmagoria KAMI, Kepulangan

  • Toro

    Mas, buku Dimont yang lain (The Indestructible Jews) juga sudah diterjemahkan dan diterbitkan dengan judul:
    Dilema Yahudi, atau Suratan Nasib? Drama Eksitensialis dalam 4.000 tahun Sejarah Dunia

    Hubungi Mas Adib untu mendapatkannya …

    Salam,
    Toro

    Suka

  • imam samroni

    Maturnuwun, mas Toro. Saya secepatnya menghubungi kepala suku Kotabaru. Masih di Indonesiakah?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: