Di Bukit Selamat, di Pante Bidari

Imam Samroni

ppkd indonesia

Tulisan untuk buletin “Seramoe Gampong,” PPKD Indonesia
Idi, 25 dan 26 Oktober 2009.

Piuh Rakan, Syedara. Jika Rakan dan Syedara ingin menikmati segarnya eu muda, sempatkan mampir di Bukit Selamat, Kecamatan Sungai Raya. Beristirahatlah sejenak untuk melepas penat sembari menikmati sejuknya hamparan kelapa. Tentu dengan eu muda yang ditemani mangat-that sepiring tempe, pisang goreng, atau jajan lain.

Jika Rakan dan Syedara hendak mencari jajan buat oleh-oleh, silakan mampir di Pante Bidari. Jajan apa saja tersedia. Sale pisang yang sungguh terkenal, boh giri yang lagak, dodol nan manis, dan lain-lain.

Pante Bidari, Dok. PPKD Indonesia

Sungai Raya, Dok. PPKD Indonesia

Bukit Selamat, di Kecamatan Sungai Raya, Aceh Timur, tentulah lokasi yang menawarkan rehat bagi pengendara kereta dan motor yang melintas dari Aceh Timur ke Aceh Utara dan sebaliknya. Warung-warung yang terletak di kiri dan kanan jalan, dengan setandan buah kelapa di samping pintu, menjadi tempat mencari rejeki. Ke-35 warung yang sudah berjalan empat tahunan, yang mempekerjakan masing-masing dua tenaga kerja, telah menjadi pengharapan budaya ekonomi warga gampong.

“Kami dikasih numpang dan tidak ada kutipan. Tempat ini milik orang Langsa. Kami buka dari jam sembilan pagi sampai enam petang. Alhamdulillah, kami bisa jual 100 butir eu muda setiap hari. Kami beli 2000 rupiah setiap butirnya,” kata Lia, salah satu penjual. Untuk pisang dan tempe dibeli dari Langsa.

Sungai Raya. Dok. PPKD Indonesia

Sungai Raya. Dok. PPKD Indonesia

Apa yang diikhtiarkan Lia dan penjual lain sepanjang Bukit Selamat menjadi bagian dari dari proses pembangunan yang tengah berlangsung di Aceh Timur. Produksi dan distribusi bertemu di Bukit Selama, sektor jasa yang melibatkan jejaring ribuan tenaga kerja. Dan inilah gerak ekonomi global di tingkat lokal yang tetap disiasati dengan cerdik oleh warga gampong. Peran Lia adalah gerak lanjut budidaya kelapa, jasa panjat, penjualan sedotan plastik, sabun cuci, air mineral, sabit, tukang kayu, atap rumbia, busana muslimah, dan tentunya untuk mencari nilai tambah.

“Lia yatim. Lia tidak punya uang untuk kuliah. Lia kerja dengan jualan eu muda. Kami walnya dibantu modal dua juta untuk usaha. Dan itu kami kembalikan,” sambung Lia.

Di Pante Bidari, di antara deretan warung jajan yang dirintis pada 1990-an, Udin yang bertiga dengan kawannya juga melakukan hal yang kurang-lebih sama. Dengan jam kerja dari pukul 08-20 WIB, Udin berhak menerima honor Rp 30.000 per hari. Udin mencatat transaksi penjualan harian yang berkisar Rp 800.000-1.500.000. Pante Bidari menjadi etalase penjualan produk warga gampong, yang sebagian adalah binaan instansi pemerintah.

Pante Bidari. Dok. PPKD Indonesia

Untuk menghasilkan sebungkus keripik kentang “Mirasa” atau keripik sale pisang goreng goyang lidah “Barona” bikinan Lhok Nibong adalah sebagaimana menjualnya. Di Pante Bidari, pasar lokal itu telah menegaskan matra ekonomi Aceh Timur yang tengah membangun.

Jadi, jika Rakan dan Syedara berlebih rejeki, belilah produk gampong. Insya Allah, Rakan dan Syedara telah menjaga kelangsungan usaha Lia, Udin, dan ribuan tenaga kerja di Aceh Timur dan Indonesia.

Kamus Aceh-Indonesia
Boh giri : Jeruk bali
Eu : Kelapa
Lagak : Baik
Mangat-that : Enak sekali
Rakan : Rekan
Syedara : Saudara

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: