Demokrasi ala Warung HIK

KEINDONESIAAN JAWA TENGAH/DI YOGYAKARTA (5-HABIS)
Sabtu, 7 November 2009 | 04:41 WIB
Oleh Susana Rita/Sonya Hellen Sinombor

kompas_white

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/07/04414377/demokrasi.ala.warung.hik

Winarso menyeruput pelan wedang jahe hangatnya. Jahe wangi orisinal buatan tangan Karso, salah satu pemilik warung HIK di salah satu jalan utama Solo. ”Seger. Bikin sendiri to, Mas?” tanya Winarso.

Karso, warga biasa sepertinya halnya Winarso, pun mengiyakan dan menjelaskan caranya. Namun, ia masih sibuk merampungkan pesanan jadah (uli) bakar bagi tamunya yang lain. Tangan Karso membolak-balik jadah (makanan dari beras ketan yang dicampur santan) yang diletakkan di atas bara arang hitam.

Winarso kembali mengisap rokok yang tinggal separuh. Sesekali keningnya berkerut ketika bercerita tentang munculnya gejala perilaku primordial yang dirasanya mengental di masyarakat tempat tinggalnya.

Malam itu, Jumat (22/10) wage, ia menghabiskan waktu bersama dua teman perempuannya di salah satu warung hidangan istimewa kampung (HIK). Warung itu menyajikan beragam camilan, seperti jadah bakar, beragam gorengan, cakar (kaki ayam), tahu, tempe, sate telur puyuh, dan sebungkus nasi dengan dua pilihan lauk (salah satunya adalah ikan teri).

Pembeli tinggal meminta piring, lalu mengambil camilan yang diinginkan. Duduk lesehan di tikar yang disediakan. Kalau tak ingin jauh dari lauk-lauk itu, pembeli bisa duduk di bangku yang sekaligus difungsikan meja untuk menggelar dagangan.

Di Solo atau Yogyakarta, warung HIK semacam ini bertebaran. Bahkan, di Solo hampir di setiap ruas jalan ditemui warung HIK. Pembeli tinggal memilih, ingin yang remang-remang dengan cahaya dari teplok (lampu tradisional dengan bahan minyak tanah) yang menjadi ciri atau memilih warung HIK yang sudah dikelola dengan agak modern, dengan tambahan hiburan penyanyi jalanan yang memang stand by di warung itu. Pemusik menyambut tiap tamu dengan dua-tiga lagu kenangan.

Warung HIK, misalnya, terdapat di seputaran kampus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, seputar RRI Surakarta, dan GOR Manahan Solo. Tiap-tiap warung menjadi favorit bagi kelompok masyarakat tertentu. Misalnya, di seputar kampus STSI, banyak mahasiswa datang ke warung HIK untuk ngobrol atau mengerjakan sesuatu. Tidak heran, tampak di sana-sini mahasiswa berlaptop.

Warung HIK memang menjadi alternatif tempat bertemu dari berbagai kalangan. Tak cuma orang Jawa, berbagai etnis, seperti Tionghoa dan Arab, yang tinggal juga menyempatkan diri untuk makan dan berbincang di warung itu. Tidak cuma pejalan kaki, pengguna sepeda motor ataupun pengendara mobil pun menyukai warung tersebut.

Tradisi demokrasi

Pengamat budaya MT Arifin menjelaskan, warung HIK berasal dari Klaten, kawasan pertengahan antara Solo dan Yogyakarta, yang lalu menyebar ke berbagai kota. Semula hidangan itu dijajakan berkeliling keluar masuk kampung dengan cara dipanggul. Lampu teplok menjadi ciri yang paling khas. Demikian pula suara pedagang memanggil pembelinya.

Bentuk asli warung HIK, model keranjang pikulan, masih dapat dijumpai di seputaran RRI Solo atau di Nggilingan, Solo. Menurut Arifin, tradisi warung HIK merupakan tradisi demokrasi masyarakat bawah.

Karakter masyarakat Solo yang terbiasa kritis dan berpikir bebas membutuhkan tempat penyaluran. Warung HIK menjadi tempat orang berbicara segala isu, seperti politik nasional atau lokal, persoalan kampung, atau sosial kemasyarakatan lainnya.

Keberadaan warung itu, kata Arifin, efektif mewadahi cara berpikir masyarakat yang antistruktur. Antistruktur karena masyarakat Surakarta cenderung melihat segala persoalan dalam terang kebebasan dan keterbukaan. Masyarakat cenderung tak bersedia menuruti kata-kata pemerintah begitu saja, tanpa mengkritisinya.

Oleh karena itu, posisi pemerintah tak dipandang lebih tinggi oleh warga Solo. Masyarakat merasa memiliki kekuatan yang seimbang dengan pemerintah sehingga jika pemerintah membuat kebijakan yang tidak pas akan menuai protes.

Winarso, yang juga aktivis Lembaga Pengabdian Hukum (LBH) Yaphi, membenarkan pandangan Arifin. Setidaknya, hal itu dialaminya sendiri ketika melakukan rapat dengan sejawatnya dari sesama LSM. ”Kami bisa merencanakan aksi di warung HIK. Kami akan mengevaluasinya di HIK juga,” katanya.

Menurut dia, fungsi warung HIK sebagai sarana berdemokrasi masih relevan. Meski sudah terdapat berbagai peranti teknologi, seperti telepon seluler atau situs jejaring sosial, kebutuhan untuk berkumpul dengan sesama aktivis tetap memerlukan pemenuhan.

Namun, kata Winarso, tradisi kebudayaan itu mendapatkan ancaman yang serius pascakeluarnya Peraturan Daerah (Perda) Kota Surakarta Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pedagang Kaki Lima (PKL). Pasal 15 perda itu mengatur, orang tidak boleh bertransaksi dengan PKL di tempat yang dilarang pemerintah kota. Jika transaksi dilakukan, diancam denda Rp 5 juta.

Selain itu, tambahnya, ada ketentuan yang mewajibkan pedagang untuk berkartu tanda penduduk (KTP) Solo. Padahal, pedagang itu kebanyakan berasal dari luar wilayah Solo.

Winarso mengatakan, pihaknya sedang mengadvokasi pedagang itu. Keberadaan warung yang adalah warisan layak dipertahankan. Sebagai sarana berkumpul dan berdemokrasi, warung HIK masih menjanjikan.

Romantisme

Selain itu, keberadaan warung HIK juga menjadi daya tarik romantis bagi orang yang berasal dari luar kota atau mereka yang pernah tinggal di Solo atau Yogyakarta. Weli asal Sumatera, misalnya, mengaku kadang rindu dengan suasana warung HIK. Ia yang sempat tinggal di Solo selama lima tahun dan di Yogyakarta sekitar 10 tahun mengaku sering ke warung HIK untuk makan dan bertukar ide dengan teman-temannya.

Meskipun kini tak lagi bisa ke warung HIK karena menetap di Sumatera, ia mengaku punya gantinya. Situs jejaring sosial mampu menggantikan keberadaan warung tradisional itu.

”Sekadar untuk romantisme, warung HIK cukup berharga untuk dikenang,” ujar Wili. Warung HIK menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: