Konsep Islam Ramah Diterima Dunia

AGAMA, Rabu, 25 November 2009 | 04:13 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/25/04131620/konsep.islam.ramah.diterima.dunia

Jakarta, Kompas – Konsep Islam rahmatan lil ’alamin atau Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam yang dikampanyekan Nahdlatul Ulama terbukti bisa diterima oleh masyarakat Islam dunia. Konsep Islam yang ramah dengan tradisi serta tumbuh dalam negara yang multireligi dan multikultural itu bisa diterima oleh berbagai kelompok Islam, mulai dari yang radikal hingga liberal.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi di Jakarta, Selasa (24/11). Hasyim baru saja ditetapkan sebagai salah satu dari 500 tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia 2009, di peringkat ke-18.

Pemeringkatan itu dilakukan Pusat Kajian Islam Strategis (The Royal Islamic Strategic Studies Center) Kerajaan Jordania dengan Pusat Kesepahaman Islam dan Kristen Pangeran Al Waledd bin Talal, Universitas Georgetown, Amerika Serikat. Pemeringkatan itu dilakukan terhadap kelompok Islam tradisional, moderat, ataupun radikal. Tiga peringkat teratas diduduki secara berurutan oleh Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Azis al-Saud, pemimpin spiritual Iran Ayatullah Ali Khameni, dan Raja Maroko Muhammad VI.

Dari Indonesia, ada 15 tokoh yang masuk dalam daftar 500 nama itu. Namun, pemeringkatan hanya dilakukan terhadap 50 tokoh, sedangkan sisanya dikelompokkan berdasarkan keahliannya. Selain Hasyim, tokoh Indonesia yang masuk dalam daftar 50 teratas adalah Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin (35) dan dai KH Abdullah Gymnastiar (48).

Menurut Hasyim, untuk diterima dalam komunitas Muslim internasional tidak harus mengorbankan identitas keagamaan yang dimiliki dengan menjadi kelompok fundamental atau liberal. Moderasi Islam yang ditawarkan NU terbukti mampu menjadi jembatan penghubung antara kelompok-kelompok radikal dan liberal.

Iqbal Sulam dari Konferensi Cendekiawan Islam Internasional (ICIS) NU menambahkan, konsep Islam rahmatan lil ’alamin itu dapat dijadikan sebagai alat diplomasi publik yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pemimpin informal yang tidak bisa dilakukan oleh diplomat negara.

Dengan konsep itu, NU bisa menjalin hubungan dengan kelompok-kelompok radikal dan moderat di Timur Tengah, serta dengan negara-negara non-Muslim.

Belum tuntas

Di Semarang, Abdul Mukti dari Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations menilai, kelompok Islam moderat berkembang pesat seusai kejatuhan rezim Soeharto. Namun, kelompok Islam moderat ini belum menemukan bentuk dan baru kuat dalam jaringan. Islam moderat idealnya harus dapat mengadaptasi perkembangan terkini dalam upaya menjadikan dunia yang lebih baik.

Abdul Mukti menyampaikan hal tersebut pada seminar ”Penguatan Islam Moderat di Indonesia”, yang diselenggarakan Pusat Penelitian IAIN Walisongo, Semarang, Jawa Tengah, Senin lalu. (MZW/WHO)

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: