Klaim Etis Manifesto Keberagamaan Keluarga Jogja

Catatan “Bersikap Adil Jender: Manifesto Keberagamaan Keluarga Jogja”
ISBN 979-3921-96-X (453 + xxvi) halaman Yogyakarta, PSI UII, 2009 Penyunting: Yusdani, Imam Samroni, M. Latif Fauzi. Penyelia Penyuntingan: Edi Safitri. Kurator Foto: Ramadan Ibrahim Muhammad

Saya menerima draft tulisan untuk penutup buku “Bersikap Adil Jender: Manifesto Keberagamaan Keluarga Jogja,“ dari Pak Yusdani. Dalam diskusi singkat itu, saya sampaikan untuk memilah dalam kategori simpulan fikih dan konsekuensi etis. Pak Yusdani menyetujuinya dengan sejumlah catatan. Kami sepakat, kami akan total-football, berapapun jumlah halamannya. Klaim bahwa PSI UII sudah saatnya menerbitkan text-book, yang kaya data kuantitatif beserta elaborasi kualitatif, menggerakkan niatan ini.

Saya kembali membuka-buka sejumlah buku etika. Saya terbantu dengan referensi terbaru dari Gigapedia. Saya rindu dengan sejumlah perbincangan di Karangmalang. Diskusi terakhir tentang konsekuensi etis dalam kajian jender terlalu jauh dalam pemahaman saya. Dan inilah tulisan hasil kompromi itu.

Untuk pengembangan fikih adil jender, ke depan, berdasar hasil sejumlah diskusi, diharapkan juga didialogkan dengan klaim etika. Etika dalam hal ini adalah sikap-bertujuan (teleologis) yang mampu menciptakan pandangan hidup yang juga menjamin kebutuhan terhadap perubahan dan pengembangan masyarakat. Klaim etis ini niscaya lebih mampu untuk menakat kesejamanan, di mana perubahan dan percepatan jaman menjadi gerak kultur agung neoliberalisme.

Dengan demikian, reinvensi menjadi agenda yang amat penting. Dalam klaim fikih di atas, “teks” fikih harus diciptakan serta direposisi kembali ketika bertemu dengan konteks kebudayaan dan matriks sosial yang berbeda-beda serta tak terhindarkan.

Dasar pijak yang hendak ditegaskan kembali adalah bahwa untuk menjaga hubungan keluarga perlu diarahkan kepada kerjasama dan saling mengisi di antara suami, isteri, dan anggota keluarga yang lain. Dasar pijak ini membutuhkan dialog dan keterbukaan. Dengan demikian, manifesto yang ternyatakan menjadi berbeda dengan pernyataan yang cenderung menempatkan perempuan sebagai pihak yang selalu dirugikan dalam lembaga perkawinan dan keluarga. Dengan klaim fikih adil jender, pembacaan terhadap konteks sosial dan budaya dari teks-teks kitab suci lebih mempertimbangkan argumentasi sejarah dan hermeneutik. Argumentasi sejarah dipakai untuk mengungkapkan karakter politik tekstual dan seksual, karakter yang berdasar suasana hati yang menggejala di kalangan warga. Suasana hati ini, yang dalam risalah-risalah diskusi, telah menghasilkan kuasa penafsiran di dalam agama, yang memiliki kecenderungan sikap patriarkhis. Sedangkan argumentasi hermenetik dimaksudkan untuk menemukan apa yang disebut sebagai epistemologi egalitarianisme.

Sebagai Sabda Tuhan, kitab suci tidak dapat ditiru, diubah, dan digugat. Namun, hal ini menjadi berbeda dalam hal pemahaman manusia tentangnya. Itulah sebabnya mengapa ideologi agama membedakan antara “wahyu Tuhan dan perwujudan duniawinya.” Hal ini meniscayakan pengakuan keterbatasan pemahaman manusia sekaligus menegaskan watak imperatif dari “Sabda yang Disucikan.”

Pembedaan ini memunculkan kemungkinan bahwa penafsiran sabda Tuhan berarti menyesuaikan pesan (Tuhan) dalam berbagai tingkatan. Teks-teks Tuhan memang bersifat kekal, tetapi kreativitas penafsiran manusia tidak ada batasnya. Proses penafsiran inilah sangat bersifat tidak akurat dan tidak lengkap serta membuka ruang untuk dikritik. Penafsiran tersebut, sebagaimana manifesto, menemukan adanya empat sumber utama penyumbang bias jender, yaitu penafsiran atas teks agama, budaya patriarkhi, tatakelola pendidikan, dan kebijakan negara.

Pergeseran dari klaim fikih ke etika, senyatanya untuk mempertimbangkan titik-temu aspirasi warga. Aspirasi warga, sebagai pemegang daulat dalam proses belajar sosial untuk bersikap adil jender, menjadi manifesto yang mensyaratkan adanya kedudukan yang setara dalam keterhubungan antara laki-laki dan perempuan. Klaim etika menjadi bermakna sepanjang menyertakan dan menempatkan warga yang mempunyai roh (der volksgeist) dan bukannya sebagai gerombolan (das volk) semata.

Klaim etika berdasar keberagamaan menegaskan betapa beragama adalah soal keyakinan dari konteks. Dengan dasar keberagamaan, warga terbantu untuk menemukan kedirian, bertindak mulia, serta menegakkan nilai-nilai keabadian.

Adil dan setara jender, dengan demikian, mewarisi konteks tradisi agama-agama yang baik dan selaras. Klaim etis ini juga memperkuat pengharapan karena agamawan niscaya akan menggerakkan pengikutnya untuk bersikap adil dan setara jender. Modal dasar inilah yang tak tergantikan dalam sejarah peradaban dan kemanusiaan.

Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga yang mengatasnamakan penafsiran agama, meskipun lebih dikenali karena faktor ekonomi, menemukan klaim etika yang lain. Bahwa fungsi etika (dan juga fikih) adalah untuk mengenali pertautan agama di dalam ruang sosial warga dan keluarga. Ketika pelaku kekerasan rumah tangga mengatasnamakan penafsiran agama untuk membenarkan tindakannya, proses belajar sosial mampu mengajukan penafsiran lain, yang tidak membolehkan tindakan tersebut. Dengan proses belajar sosial inilah warga mengalami, bahwa bersikap adil jender dengan sendirinya adalah benar sebagaimana Sabda Tuhan. Dan dengan klaim etis, warga terus belajar untuk mengelola pemaknaan tentang tatanan sosial yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan. Belajar dari ketidaksetaraan dan ketidakadilan hubungan inilah, warga mengenali dan mampu menolak situasi sosial yang merugikan keluarga dan masyarakat itu sendiri.

Proses pemaknaan di atas terus meluas, berubah, dan berkembang sebagaimana gerak situasi sosial. Dalam konteks kepentingan keberagamaan, klaim etis untuk bersikap adil jender membutuhkan hadirnya negara yang mampu menjamin daulat warga. Sebaliknya, dalam kebijakan publik –yaitu anggaran yang pro-jender– manifesto tidak merumuskannya dengan jelas. Risalah diskusi mencatat, dasar budaya yang bertautan dengan penafsiran teks kitab suci, yang menginternalisasikan nilai-nilai diskriminatif terhadap perempuan, semakin menyulitkan posisi perempuan ketika harus menghadapi permasalahan di ruang publik.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: