DIS butuh political will

Kamis, 11 Februari 2010 , Hal.B

http://edisicetak.solopos.com/zindex_menu.asp?kodehalaman=h48&id=55458

Menurut sejarahnya, Surakarta sebenarnya menyandang status daerah istimewa seperti halnya Yogyakarta.
Perbedaannya, Yogyakarta bisa terus eksis menyandang status daerah istimewa sampai sekarang, sebaliknya Daerah Istimewa Surakarta (DIS) tidak bisa seperti itu.

Semua itu tidak terlepas dari perjalanan sejarah kedua daerah tersebut. Terutama di Surakarta, ada kejadian sejarah yang kurang lebihnya menyebabkan terlepasnya status daerah istimewa tersebut. Di Surakarta, tahun 1946, terjadi kerusuhan sosial akibat gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang disusul pemberontakan PKI Madiun tahun 1948. Ketika itu DIS ditetapkan pemerintah dalam keadaan darurat.

Untuk mengatasi situasi tersebut, karena pemerintah DIS tidak memiliki polisi dan tentara, jalannya pemerintahan untuk sementara waktu diambil alih oleh pemerintah pusat dan dikeluarkan Penetapan Pemerintah (PP) No 16/SD tahun 1946 tentang pemerintahan di DIS dan Yogyakarta.

Berdasar dictum kedua di PP itu ditegaskan, sebelum bentuk susunan pemerintahan daerah Kasunanan dan Mangkunegaran ditetapkan dengan undang-undang, maka daerah tersebut untuk sementara waktu dipandang merupakan karesidenan dan dikepalai seorang Residen.

Pemerintah sendiri sudah berjanji suatu saat nanti akan mengembalikan status DIS dan juga membentuk undang-undang untuk DIS. Sayangnya, sampai pergantian presiden beberapa kali janji itu sampai sekarang tidak pernah dilaksanakan. Karena itulah, sejumlah orang yang memiliki rasa peduli terhadap sejatah Kota Solo dan status DIS yang pernah disandangnya dulu kemudian melakukan penelitian, mengumpulkan data-data yuridis, historis, geografis, filosofis, ekonomis, untuk membedah persoalan tersebut. Orang-orang tersebut diwadahi dalam Badan Persiapan Pengembalian Status Daerah Istimewa Surakarta (BPPS DIS) yang diketuai oleh Imam Samroni.

Setelah di-launching belum lama ini, BPPS DIS langsung gencar melakukan sosialisasi di mana-mana dan sudah mengirim surat resmi kepada Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dan Komisi II DPR, meminta waktu untuk audiensi menyangkut masalah DIS ini. Selain itu, BBPS DIS juga mencoba menjaring suara warga dan pemikiran-pemikiran baru dari masyarakat, dengan cara membuka stan di Pagelaran Kraton Kasunanan Surakarta, selama acara Maleman Sekaten
berlangsung di tempat tersebut.

Saat ditemui di stan BBPS DIS belum lama ini, Imam Samroni menyatakan bahwa DIS itu sudah siap direalisasikan. Kota Solo dan enam kabupaten di sekitarnya sudah bisa mendirikan pemerintahan daerah istimewa, seperti yang pernah disandang di jaman dulu yakni DIS.

“Saya pandang infrastrukturnya sudah siap, landasan budayanya unik, kesatuan kerja pemerintah daerah juga sudah bagus. Karena itu, tinggal kewajiban pemerintah pusat itu bagaimana? Yang dibutuhkan tidak hanya good will melainkan yang lebih penting adalah political will,” tegasnya.

Sepanjang perbincangan dengan warga, dijelaskan Imam, kebanyakan warga merasa antusias supaya DIS bisa cepat direalisasikan secara serius. Jika DIS sudah kembali seperti zaman sebelumnya, diharapkan perhatian pemerintah lebih meningkat, termasuk ke persoalan politik warga di enam kabupaten dan satu kota itu. Selain itu, peran warga untuk membangun daerah juga bisa lebih termotivasi. – Oleh : dsp

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: