Mengkaji Buku

Foto: Ramadan Ibrahim Muhammad

Imam Samroni
Untuk “Risalah Demangan”

Tulisan ini merupakan catatan pribadi terhadap dua kali penyelenggaraan Seri Kaji Buku Studi Islam Nusantara, kerjasama PSI UII dengan MSI UII. Sebagai catatan pribadi, penulis lebih mengapresiasi suasana hati seputar gagasan awal penyelenggaraan program. Jadi,tulisan berikut tidak berniat untuk mengevaluasi dari tatakelola dan kinerja keberhasilan program.

Kajian pertama, Rabu, 10 Maret 2010, adalah buku “Kata Serapan Bahasa Arab dalam Serat Centhini: Kajian Morfosemantis” (Yogyakarta, Safiria Insania Press, 2010) yang merupakan disertasi Dr. Junanah, MIS. Bertindak sebagai pengkaji adalah GKR Wandansari, Pengageng Sasono Wilopo Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang juga anggota Komisi II DPR RI. Kajian yang kedua, Kamis, 18 Maret 2010, adalah buku “Yurisprudensi Peradilan Agama (Studi Pemikiran Hukum Islam di Lingkungan Pengadilan Agama se-Jawa Tengah dan Pengadilan Tinggi Agama Semarang, 1991-1997)” (Jakarta, Badan Litbang & Diklat Departemen Agama RI, 2006) yang merupakan disertasi Prof. Dr. H. Amir Mu’allim, M.A. Pengkajinya adalah Drs. H. Chatib Rasyid, S.H., M.H., Ketua Pengadilan Tinggi Agama Semarang.

Berdasar naskah proposal kegiatan, masih ada tiga buku lagi yang diprioritaskan untuk dikaji pada semester ini, yang merupakan karya sivitas UII dan/atau jejaring. Sebagai bentuk tanggung jawab dan tanggung gugat akademik, kegiatan ini layak diapresiasi berdasar tercukupinya alasan.

Dalam latar belakang penyelenggaraan ditegaskan, bahwa Kaji Buku ini merupakan rintisan Kampus UII Demangan sebagai alternatif kantung-budaya untuk studi Islam Nusantara. Perbincangan tentang UII sebagai kantung-budaya merupakan isu lama, yang secara pribadi pernah penulis sampaikan pada pertengahan 2005. Dengan rintisan kantung-budaya diharapkan tersedianya ruang-waktu di kampus UII untuk melawan yang serba-dipusatkan sembari mengelola agenda desentralisasi budaya. Dengan demikian, di dalam dunia yang tunggang-langgang, meminjam ungkapan Anthony Giddens (1999), masih ada oase untuk berhikmat dan berjejaring bersama masyarakat, terhadap gerak yang serba-modal sebagaimana amalan modernism. Pada Oktober 2006/Ramadhan 1427, gagasan ini diterjemahkan dengan program iqra@demangan.

Sehingga, alih-alih pengujian secara akademik, Kaji Buku sebagai bagian dari kantung-budaya justru hendak menyigi kebermaknaan karya akademik tersebut sebagaimana kebutuhan masyarakat. Senyampang dengan posisi tersebut, keterhubungan antara karya akademik di kampus perguruan tinggi dengan masyarakat adalah seberapa jauh olah-karya disertasi dan tesis mampu menjawab permasalahan dan kebutuhan masyarakat, sepanjang bertautan dengan hal-ihwal Islam Nusantara. Keterhubungan, tak lebih dan tidak kurang, menjadi kriteria, yaitu kondisi entrofis antara kampus dan kampung: Kampus menjadi lampus di dalam klaim pertanggungjawaban akademis tanpa relevansi dengan kebutuhan kampung.

Kebermaknaan dan keberhasilan kajian ini justru terletak di dalam pembalikan projek pembelajaran dalam tradisi Jerman abad ke-15: Bagaimana proses penyusunan disertasi dan tesis sebagai opus spirituale (latihan rohani) kembali memperkuat opus manuale (kerja kasar) di kalangan masyarakat warga? Atau, dengan cara apa data disertasi dan tesis yang sudah dinyatakan lulus di dalam uji-akademik kampus mampu menjawab sebagian permasalahan keseharian masyarakat warga di kampung?

Sudah menjadi kelaziman, data yang terkandung di dalam karya akademik bisa menjadi informasi manakala disampaikan ke masyarakat sebagai pengguna. Opus intelektual kampus menjawab permasalahan kerja manual masyarakat kampung. Dengan sudut pandang kampus, apa yang menjadi perhatian sivitas akademika diikhtiarkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Dan sebaliknya, apa yang menjadi permasalahan masyarakat dijawab dengan karya kampus. Keterhubungan seperti inilah yang hendak dipertanggungjawabkan dalam Kaji Buku, dengan menyediakan sejumlah pengetahuan yang, dalam klaim Karl R. Popper, adalah hadap-masalah. Sudah saatnya kampus menumbuhkan sikap rendah hati terhadap ledakan permasalahan masyarakat. Sebab, dengan sikap inilah kampus sebagai masyarakat ilmiah mampu menyemai pengetahuan yang notabene kebijaksanaan dan keadaban publik.

Program Kaji Buku juga diniatkan untuk terhubung dengan isu peningkatan kemampuan pembangunan –termasuk pengetahuan pembangunan– yang merekomendasikan pendidikan antisipatif. Antisipasi ini senyatanya ditentukan oleh paradigma masyarakat terhadap kecenderungan-kecenderungan yang tengah berlangsung. Secara taktis, bagaimana keluaran dan hasilan Kaji Buku turut memberi alternatif terhadap kecenderungan studi Islam, khususnya dalam agregat kepentingan Islam Nusantara. Secara strategis juga bagaimana membaca basis keabsahan terhadap Studi Islam Nusantara.

Adalah truisme bahwa projek modernitas berbasis pada pengenalan huruf Latin. Hanya yang mampu membaca huruf Latin yang dianggap sebagai pribadi yang tidak buta huruf, berkesempatan masuk ke dalam pesona dunia modern, dan merayakan kuasa kemajuan. Hal ini yang menjadi alasan badan dunia Unesco untuk menetapkan setiap 23 April sebagai Hari Buku Dunia. Dalam naskah proposal kegiatan ditekankan, bahwa Kaji Buku memang membatasi diri pada karya disertasi dan tesis Studi Islam Nusantara yang sudah dinyatakan absah secara akademik di kampus (!) dan sudah dibukukan.

Dalam tradisi pendidikan Jerman selalu diajarkan, bahwa ada satu argumentasi tentang sejarah yang dimulai dengan tulisan. Sejarah itu dimulai dari Sumeria (di lembah Iran-Irak, sekarang), 5.000 tahun yang lalu, yang menemukan tulisan berbentuk piktograf. Piktograf adalah tulisan yang lebih berbentuk gambar, simbolisasi dari informasi tertentu. Muncul juga piktograf China sekitar 3.500 tahun yang lalu, yaitu akar dari tulisan yang sekarang masih digunakan. Piktograf Sumeria digantikan hiroglif Mesir. Yang berkembang kuat adalah tulisan fonetik yang dilahirkan dari kebudayaan Fonesia 3.000 tahun yang lalu, yang menjadi segala tulisan yang kemudian dipakai di Eropa, Timur Tengah, India, Asia Tenggara, Etiopia, dan Korea (Kompas, 1988). Saling pengaruh dari kawasan-kawasan tersebut mampu mengadopsi dan menyempurnakan huruf Latin, yang diwarisi langsung dari kebesaran Romawi dan diklaim sebagai awal sejarah modern. Huruf Latin memegang peran penting di dalam kultur agung modernisme, karena dibesarkan oleh gerak dominan dengan akar desain Eropa.

Kecenderungan strategis yang tengah berlangsung inilah yang menjadi keprihatinan Gusti Moeng, sapaan GKR Wandansari, dalam sejumlah perbincangan pribadi: Bagaimana Indonesia sebagai “keberlanjutan“ gerak Eropa mampu mengapresiasi khasanah bukan-tulisan Latin dan dengan sudut pandang bukan-eksotisme. Membangun Indonesia adalah mengelola agenda daya-cipta, termasuk mengelaborasi basis epistemologi beserta principium identitae studi Islam Nusantara. Kesan Gusti Moeng, sepanjang opus kampus tidak mengenali desain kultur agung modernisme, karya akademik hanya melanggengkan suasana hati “inlander:“ ketaatan bumiputera untuk menerima segala Sabda Penguasa Kolonial. Dan hal tersebut mengingkari perintah Iqra‘ sebagaimana nalar Al-Alaq.

Jamak tahu, nalar itu berdasar riwayat pada tahun 610, tepatnya malam Senin, 17 Ramadan tahun ke-41 dari usia Muhammad ibnu Abdullah dan 13 tahun sebelum hijriyah. Tempat Kejadian Perkaranya di gua Hira,’ di Jabal Nur, kurang-lebih tiga mil dari Mekkah. Hatta, ketika tengah bertahanuts, Muhammad ibnu Abdullah didatangi Malaikat Jibril dengan pernyataan, “Iqra’….” Muhammad menjawab, “Maa anaa biqaari’….” Kemudian, menurut hadits, Jibril memeluk Muhammad sampai berkeringat dan melepas pelukannya. Jibril kembali menegaskan, “Iqra’…” dan Muhammad pun tetap menjawab, “Maa anaa bi qaari’…” Pada kali ketiga Jibril memerintahkan, “Iqra’ bismirabbikalladzii khalaq,” maka Muhammad mulai mengikuti ucapan Jibril.

Kita seyogyanya menelaah model pembelajaran yang diperlihatkan Jibril dengan proses memeluk dan melepas Muhammad serta ummat (Djamhari Maskat, 1997). Kita niscaya menemukenali ranah belajar antara Muhammad bersama Jibril dalam “Sami’na wa-atha’na.” Yang dapat ditegaskan, dengan paradigma “sami’na” inilah matriks pembelajaran modern mewarisi sejumlah sikap: Tahu dan mau, tahu tidak mau, tidak tahu tetapi mau, tidak tahu juga tidak mau, dan tahu tetapi pikir-pikir dahulu.

Dinyatakan secara berbeda, matriks pembelajaran dalam proses Kaji Buku adalah bagaimana tidak terantuk dengan obrolan dan menjaganya sebagai proses pengkajian, bagaimana mengkaji buku sebagai pengorganisasian data dan informasi yang turut mencerahkan opus manuale yang selama ini terabaikan, sekaligus mendedahkan bahwa masih ada kantung-kecil di UII yang tengah menuju kelas dunia. Di tengah hujatan kampus yang minus tradisi ilmiah dan di dalam gugatan terhadap kinerja pengelolaan perguruan tinggi yang jauh dari opus akademia inilah, Seri Kaji Buku Studi Islam Nusantara diselenggarakan.

Sleman, 23 Maret 2010

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: