Bisnis Tidak Biasa Anita Roddick

Ninuk M Pambudy & Dahono Fitrianto
Kompas, Minggu, 09 April 2006

Antusiasme dan energinya meluap-luap dan itu menular. Ketika Senin (3/4) pagi kami menemuinya di Hotel Shangri-La, Jakarta, Anita Roddick (63) lebih tampak seperti aktivis yang penuh semangat daripada pendiri bisnis kosmetik yang berhasil. Dalam balutan kaus lengan panjang hitam dan celana hitam, Anita Roddick memulas wajahnya dengan riasan ringan dan tidak berusaha menyembunyikan kerut wajahnya.
Dia adalah wiraswastawati yang berhasil. The Body Shop yang dia dirikan tahun 26 Maret 1976 di Brighton, Inggris, adalah salah satu perusahaan ritel paling berhasil dari Inggris. The Body Shop kini melayani lebih dari 77 juta pelanggan di lebih dari 2.070 toko di 55 negara yang berbicara 26 bahasa berbeda dan berada di 12 zona waktu.
Sabtu (1/4), dari Singapura melalui Medan, dia terbang ke Banda Aceh untuk meresmikan pusat kegiatan masyarakat di Neuheun, Aceh Besar, yang merupakan kontribusi Children on the Edge, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang dia dirikan. Pusat kegiatan itu terdiri dari taman bermain, taman kanak-kanak, pusat kegiatan remaja dan perempuan, serta balai pertemuan warga. Setelah itu dia berada di Jakarta hingga Selasa (4/4), antara lain berbicara dalam Forum Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, bertemu sejumlah tokoh masyarakat, dan ikut meluncurkan kampanye Share for Women-Bersama Berbagi Daya bersama Komnas Perempuan.

Apa pendapat Anda tentang Aceh?
Lebih banyak yang sudah dilakukan di Aceh daripada di New Orleans setelah badai Katrina. Di sana tidak ada kemauan politik untuk membangun daerah itu, masih ada ribuan tunawisma, bahkan rumah darurat pun mereka tidak punya. Yang luar biasa dari Aceh adalah bagaimana komunitas internasional bekerja bersama membangun rumah dan perlindungan untuk anak-anak. Mereka menggunakan sumber daya ekonomi lokal, dan menurut saya itu membuat masyarakat sangat senang.

Itu yang Anda lakukan di Aceh?
Ya, kalau tidak kami hanya akan menjadi konglomerat Barat lain yang hanya menancapkan kaki Anda di mana pun. Saya tidak mau melakukan apa pun yang berkaitan dengan kultur bisnis seperti itu. Bagi saya, ini tentang cara berbisnis yang sangat tradisional dengan masyarakat setempat, dan mengembalikan kepada masyarakat tersebut.

Apa inti dari yang Anda lakukan?
Mencari keuntungan dengan perilaku keadilan sosial. Itu adalah cara kami berbisnis sejak bertahun-tahun lalu. Kami berusaha menunjukkan, bisnis bisa mempunyai wajah yang manusiawi, lebih welas asih.
Menurut saya, setiap bisnis memiliki tanggung jawab membantu masyarakat mana pun yang membutuhkan, karena pemerintah tidak melakukannya. Saat ini bisnis memiliki kekuatan lebih besar daripada pemerintah, lebih kaya dan lebih kreatif dibanding pemerintah!
Setiap bisnis harus memiliki perilaku bermoral dalam segala hal yang mereka lakukan, yang sayangnya sebagian besar pelaku bisnis tidak melakukannya. Orang tidak pernah melihat korporasi transnasional sebagai entitas moral, tetapi sebagai entitas finansial.

Apa yang menginspirasi Anda?
Waktu memulai Body Shop, saya membawa kepribadian saya ke tempat kerja. Saya aktivis pada waktu itu, seperti semua orang pada era 1960-an. Perjalanan ke berbagai tempat memberi saya wawasan bencana terbesar di dunia adalah kemiskinan.
Saya belajar banyak dari kelompok religius Quaker di Inggris. Mereka pebisnis yang sangat baik, menjalankan bisnis tanpa berbohong, selalu mengungkap kebenaran, melindungi tenaga kerja, membangun sekolah dan komunitas, memberi kembali kepada masyarakat. Mereka mendirikan Cadbury dan Kellog. Itu adalah gagasan yang memandu saya.
Pada 1976, saat saya membuka The Body Shop, sampai ke era 1980-an adalah masa yang sangat menarik karena banyak orang seperti saya yang tidak pernah belajar di sekolah bisnis. Kami semua aktivis dan sebagian besar hippie, tetapi beberapa dari kami memiliki gagasan dan kemampuan komunikasi yang bagus.
Yang kami lakukan adalah meredesain bisnis sehingga memiliki wajah manusiawi, apa yang bisa dilakukan dalam masyarakat madani. Itulah permulaan dari menjalankan bisnis dengan tanggung jawab sosial. Kami menerapkan gagasan tersebut dalam agenda bisnis sehari-hari.

Bagaimana dengan bisnis sebagai bisnis?
Tujuan bisnis tentu saja membuat lapangan kerja, mencari keuntungan. Bodoh bila orang berbisnis tidak mencari untung. Tetapi, yang penting adalah apa yang Anda lakukan dengan keuntungan itu, dan kejujuran Anda dalam bisnis Anda. Kami belajar banyak dari kerja sama itu dan kami juga belajar banyak dari cara berbisnis orang Skandinavia. Mereka jauh lebih sosial dan bertanggung jawab terhadap tenaga kerja, khususnya terhadap perempuan. Jadi, jangan pernah berbohong pada orang, pada karyawan, dan selalu transparan.

Anda tidak takut datang ke sini?
Negeri paling berbahaya di dunia sekarang adalah Amerika Serikat. Jika ingin melihat bahaya sesungguhnya, lihat saja AS dengan politik luar negerinya. Saya tidak percaya tempat ini adalah tempat yang berbahaya.

Apa yang membuat Anda datang ke Jakarta?
The Body Shop memiliki bisnis yang sangat besar di sini. Kami memiliki 52 gerai dan toko di sini. The Body Shop di Indonesia adalah contoh ideal menjalankan bisnis ala Body Shop.
Jadi, menurut saya ini adalah negeri yang luar biasa indah, ada energi di sini, ada humor, ada afeksi, komunikasi yang sangat bagus, dan perempuan di sini memiliki suara lebih kuat, lebih terlibat secara politis. Saya belum pernah ke sini sebelumnya, dan saya benar-benar ingin mempelajarinya lebih jauh.

Tahun 2002 Anita dan suaminya, Gordon Roddick, mundur dari posisi mereka sebagai co-chairperson The Body Shop meskipun tetap berada dalam dewan perusahaan sebagai direktur non- eksekutif dan mempertahankan 25 persen saham mereka.
Saat ini Anita Roddick lebih dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia dan lingkungan yang mengampanyekan agar perusahaan melakukan tanggung jawab sosial bukan hanya mengeruk keuntungan, membangun dan berbagi dengan komunitas. Dia melakukannya melalui, antara lain perdagangan komunitas. The Body Shop membeli bahan baku dari 34 komunitas di 23 negara, kadang dengan harga premi 10 persen, dan melibatkan 15.000 keluarga.

Bagaimana memulai perdagangan komunitas?
Setelah bepergian ke banyak tempat (Anita setamat pendidikan guru sejarah sempat dua tahun bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan karenanya pergi ke banyak negara—Red), wawasan terbesar yang saya dapat adalah tentang kemiskinan. Saya melihat sendiri di Brasil, korporasi besar mengirim orangnya ke hutan dan merenggut hak kekayaan intelektual suku asli.
Saya membuat berbagai produk seperti sampo dan kondisioner, apa yang bisa saya lakukan untuk menghapus kemiskinan? Hal sederhana yang bisa kita lakukan, yakni mendengarkan orang miskin, tanpa perantara mengajak mereka sebagai partisipan, membantu ekonomi desa-desa kecil, membantu pertanian keluarga, mendukung kerja sama perempuan, dan mencari cara bagaimana mereka bisa menanam sesuatu yang bisa dipakai di produk kami, seperti minyak kelapa, minyak wijen, dan sebagainya. Duduk bersama, bertanya berapa harga yang mereka inginkan.

Ada rencana melakukan hal serupa di Indonesia?
Kami belum ada rencana, tetapi bukan berarti tidak bisa.

Anda melihat potensinya?
Tentu saja. Hampir tidak ada produsen kosmetik besar menanyakan kepada perempuan tentang resep kecantikan nenek mereka. Semua selalu dikaitkan dengan perkembangan sains dan teknologi. Ide-ide baru selalu datang dari Jepang, Perancis.
Anda seharusnya duduk dengan sekelompok perempuan, menanyakan bagaimana mereka merawat tubuh sebelum dan sesudah menikah? Apa ritualnya saat melahirkan? Bagaimana memperlakukan tubuh saat tubuh itu mulai mati?
Kami sudah membicarakan bagaimana kami dapat menangkap pengetahuan ini karena pengetahuan tradisional semakin hilang dalam obsesi terhadap teknologi. Pasti akan sangat menyenangkan apabila ada universitas progresif yang bisa diajak kerja sama dalam bidang ini. Mewujudkan sebuah imajinasi.

Bagaimana menjalankan prinsip berbisnis Anda di tengah kondisi dunia saat ini? Ada perdagangan bebas, tetapi bukan perdagangan adil.
Yang penting bagaimana menyampaikan gagasan ke orang lain. Anda harus mempunyai “bahasa” untuk menyampaikannya. Anda tidak bisa mempunyai pemikiran tanpa bahasa.
Sekarang nilai-nilai ekonomi mengambil alih semua nilai lain. Contohnya bila Anda menikah dan kemudian terjadi masalah, misalnya perceraian, maka Anda akan mengatakan, sebesar apa waktu dan tenaga yang saya investasikan untuk pernikahan ini? Itu adalah bahasa keuangan.
Yang kita butuhkan adalah bahasa kasih sayang, tanggung jawab, untuk dikembalikan ke dunia bisnis. Kemudian mencari perusahaan yang mau melakukan itu. Perusahaan itu harus untung sehingga membuat orang berpikir melakukan itu dan tetap mendapat profit. Kita harus menunjukkan, inisiatif ini akan menyatukan komunitas di tempat bekerja dan memotivasi karyawan. Pada saat karyawan telah termotivasi, akan terbentuk duta besar luar biasa bagi perusahaan Anda.
Semua tidak diatur pemerintah, sementara pelaku bisnis sendiri tidak terlalu bagus dalam mengatur dirinya dan tidak ingin namanya tercemar. Pihak yang bisa melakukannya hanyalah masyarakat madani, yaitu konsumen yang mementingkan etika, LSM. Sahabat saya di AS, Noam Chomsky, mengatakan kepada saya, tidak akan ada yang berubah di dunia ini sampai lembaga keuangan berubah.

Anita Roddick menulis Business as Unusual, The Triumph of Anita Roddick (2000) yang diterbitkan ulang dan diperkaya, yaitu Business as Unusual, My Entrepreneurial Journey Profit with Principles (2005). Buku ini berisi prinsip hidup dan bisnisnya, jatuh-bangun membangun bisnis yang semula dimaksudkan hanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, pengaruh ayah dan ibunya yang imigran asal Italia, pengalamannya sebagai ibu dua putri, tentangan dari dalam perusahaan ketika dia bersikukuh menyatukan visi dan bisnisnya, tentang tanggung jawab sosial bisnis, dan aktivismenya.

Dalam Forum Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, dia ditanya mengapa The Body Shop mengeluarkan produk pemutih wajah di Asia yang umumnya berkulit gelap, sementara dia menentang praktik industri kosmetik yang disebutnya “mengatur tubuh yang berarti mengatur pikiran dan ujungnya mengatur isi dompet kita”. Tentang ini, dia menjawab, tradisi memutihkan wajah sudah ada pada masyarakat setempat dan bila tidak setuju dengan produk itu tidak usah membelinya.
Ditanya bagaimana kemungkinan rencana pabrik kosmetik besar L’Oreal dengan prinsip yang tidak sama dengan The Body Shop membeli saham The Body Shop akan dapat memengaruhi prinsip bisnis The Body Shop, Anita mengatakan optimistis perusahaan yang dia dirikan dapat tetap mempertahankan prinsipnya. “Coba melihatnya begini, perusahaan besar datang kepada kami dan bertanya, ‘Ajarkan kami melakukan perdagangan komunitas, apa yang bisa kami pelajari dari Anda?’ Saya gembira yang kami lakukan ternyata tidak sendiri. The Body Shop sudah berdiri 30 tahun, dan pasti bila ada yang mendekati dia sudah mengetahui prinsip kami.”
Itulah Anita Roddick, yang selalu melihat segala sesuatu dari cara yang berbeda dari banyak orang dan tidak takut memperjuangkan prinsipnya itu.

Dalam buku Business as Unusual Anda menyebut perempuan memiliki kelebihan dalam membangun bisnis?
Ya, tentu saja. Perempuan tidak suka hierarki, tidak suka membuat regulasi, lebih cenderung membangun jaringan. Perempuan melahirkan dan mengasuh anak sehingga memiliki kemampuan negosiasi yang lebih baik. Memiliki insting lebih tajam yang diperlukan untuk bisnis saat ini yang berjalan sangat cepat. Bisnis juga membutuhkan visi tentang masa depan dan perempuan punya kemampuan itu, sebab mereka terbiasa memikirkan masa depan anak-anaknya.
Namun, sekarang ini kan menjadi pebisnis seolah-olah menjadi selebriti baru. Anak-anak kecil sudah bercita-cita menjadi pebisnis. Saya bilang kepada mereka, mengapa menjadi pebisnis? Saya bilang, “Belajarlah hidup lebih dulu, berjalan-jalanlah sebanyak mungkin melihat berbagai sisi dunia.”

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

2 responses to “Bisnis Tidak Biasa Anita Roddick

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: