Gerakan Politik Dunia Maya

Sunyoto Usman
Senin, 05 April 2010

http://jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=126635

Gerakan politik semakin marak di dunia maya. Kali ini gerakan politik yang muncul di dunia maya dimotori oleh sebuah grup Facebookers yang menyatakan diri sebagai “Gerakan sejuta Facebookers dukung boikot bayar pajak untuk keadilan”. Gerakan tersebut, konon, sudah memperoleh dukungan hampir 6.000 anggota. Jargon boikot pajak tersebut lahir dari ekspresi kekesalan terhadap penggelapan pajak yang dilakukan oleh pejabat-pejabat di lembaga-lembaga peradilan yang bersekongkol.

Akankah gerakan sejuta Facebookers tersebut berhasil membangun kesadaran politik sehingga menjadi gerakan perlawanan rakyat? Tidak mudah menjawabnya. Sejumlah pandangan optimistis percaya bahwa gerakan tersebut memiliki potensi kuat menjadi gerakan perlawanan rakyat. Argumentasinya, saat ini kepercayaan rakyat terhadap pemerintah berada pada titik nadir (terjadi public distrust). Rakyat sudah kesal dengan kelambanan pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang menyentuh kepentingan publik. Karena itu, ketika merebak isu manipulasi dan penggelapan pajak, kesadaran politik rakyat tergugah.

Benar memang, tidak seluruh Facebookers yang tergabung dalam gerakan boikot bayar pajak tersebut adalah para pembayar pajak. Tetapi, dunia maya sudah teruji mampu menebarkan informasi dan pengetahuan tentang berbagai manipulasi dan dominasi secara cepat dan dalam skala luas. Kasus kriminalisasi petinggi KPK Bibit-Candra, misalnya. Protes keras Facebookers melalui dunia maya berhasil mendorong kesadaran melakukan perlawanan politik.

Hal serupa terulang pada kasus Prita Mulyasari. Di samping itu, keanggotaan Facebookers sangat mudah. Tidak perlu melalui prosedur pendaftaran yang rumit, cukup membuka internet dan “klik”, seseorang sudah terdaftar. Tidak perlu ada saringan ideologi yang rumit, cukup berbekal kesediaan memberikan dukungan.

Apabila benar begitu, di negeri ini telah terjadi proses demokratisasi baru. Proses itu adalah pergeseran pola dari semula mengandalkan keterwakilan dalam organisasi politik, deliberasi, serta lobi-lobi menjadi demokrasi online. Demokrasi jenis itu tidak hanya memberikan peluang kepada rakyat untuk melakukan kontrol politik secara langsung terhadap pemerintah, tetapi juga membuka kesempatan menggalang dukungan politik secara masif, cepat, dan biaya relatif murah.

Tetapi, sejumlah kalangan lain justru ragu, gerakan boikot bayar pajak tersebut tumbuh dan berkembang menjadi gerakan rakyat. Ada beberapa argumen yang melandasi pandangan pesimistis itu. Pertama, kendati jumlah anggota Facebookers cukup banyak, mereka pada umumnya hanyalah kalangan pengguna internet. Dalam diri mereka tidak terendap ideologi politik yang kuat. Mereka hanyalah komunitas pertemanan, secara politik adalah “cair”, serta tidak memiliki ikatan dan loyalitas yang kuat untuk melawan. Karena itu, gerakan mereka sangat mudah dipatahkan.

Kedua, gerakan Facebookers tersebut terlihat tidak memiliki koneksi dengan media cetak atau media elektronik yang lain. Dalam liputan kasus penggelapan pajak, media sejauh ini terlihat lebih menonjolkan masalah “perang bintang” di jajaran kepolisian atau modus persekongkolan di antara pejabat tinggi di jajaran lembaga keuangan, kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman. Sedangkan masalah eksploitasi dan pengingkaran hak-hak rakyat atau para pembayar pajak kurang muncul di permukaan.

Ketiga, gerakan Facebookers boikot pajak tersebut terlihat tidak terkoneksi dengan gerakan-gerakan yang dimotori oleh aktivis dan lembaga swadaya masyarakat. Iklim politik yang berkembang bersama gerakan boikot bayar pajak kali ini berbeda sekali dengan iklim politik yang berkembang ketika berguliir gerakan protes terhadap kriminalisasi petinggi KPK Bibit-Candra dan kasus sengketa Prita Mulyasari. Saat itu para politikus, aktivis, dan kalangan profesional bersatu padu melakukan perlawanan dan menempatkan pesan-pesan politik yang terpampang di dunia maya sebagai energi politik.

Keempat, saat ini sebagian besar masyarakat kita belum menganggap manipulasi dan penggelapan pajak adalah persoalan serius. Masyarakat kita masih permisif terhadap korupsi. Karena itu, menjadi mudah dipahami apabila pikiran cerdas dan pandangan kritis yang dilontarkan oleh gerakan boikot bayar pajak tersebut kurang mendapatkan sambutan. Masyarakat, tampaknya, masih menganggap bahwa pajak adalah “upeti” yang pengelolaannya seakan-akan menjadi hak penuh pemerintah. Rakyat menaruh dan mempertaruhkan pengelolaan pajak kepada pemerintah.

Pandangan optimistis dan pesimistis tersebut memang masih debatable. Namun, satu hal yang layak dicatat dan dicermati adalah teknologi informasi dan komunikasi (ICT) di negeri ini mulai menggeser demokrasi deliberasi -yang mengandalkan keterwakilan dan lobi-lobi melalui partai politik atau kelompok kepentingan- menjadi demokrasi online. Seperti telah diungkapkan di atas, demokrasi semacam itu membuka peluang rakyat mengontrol langsung pemerintah dan membuka kesempatan menggalang dukungan politik secara masif, cepat, dan dengan biaya yang tidak terlalu tinggi.

Karena itu, ke depan para birokrat, politikus, kelompok kepentingan, kritikus politik, dan aktivis-aktivis gerakan harus akrab dengan ICT. Mereka tidak boleh gagap teknologi supaya mampu mengikuti perkembangan bentuk-bentuk baru relasi kekuasaan yang berkembang bersamaan dengan kemajuan ICT.

Di negara maju, era ini lazim disebut era demokrasi digital, yang ditandai oleh relasi-relasi kekuasaan yang lebih kompleks, dan kultur politik yang tidak lagi didominasi oleh ikatan-ikatan primodial dan nepotisme. Tetapi lebih banyak diwarnai oleh nilai-nilai politik produk dari kecepatan informasi dan pengetahuan. (*)

*). Sunyoto Usman, guru besar sosiologi Fisipol UGM

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: