Tawaran Kemudahan Pemungutan Suara dari Jembrana

PEMILIHAN ELEKTRONIK (1)
Rabu, 5 Mei 2010 | 03:12 WIB
Dewi indriastuti dan M zaid wahyudi

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/05/03123615/tawaran.kemudahan.pemungutan.suara.dari.jembrana

Putusan Mahkamah Konstitusi pada 30 Maret lalu yang memperbolehkan penggunaan layar sentuh atau electronic voting (e-voting) dalam pemilu kepala daerah telah memberikan pijakan bagi kemajuan penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Penerapan sistem pemilihan elektronik itu diyakini akan membuat penyelenggaraan pemilu lebih efisien, hemat biaya, serta hasil pemilu dapat diketahui dalam waktu kurang dari 24 jam.

Pemilihan elektronik itu melengkapi cara pemberian suara dengan mencoblos dalam pilkada, seperti diatur dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Namun, putusan MK itu disertai catatan sebagai syarat kumulatif, yaitu sistem dapat digunakan selama asas pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, serta jujur dan adil tidak dilanggar.

Putusan MK itu didasarkan atas uji materi yang diajukan Bupati Jembrana, Bali, I Gede Winasa beserta sejumlah kepala dusun (banjar) di daerah itu. Selain pasal tentang tata cara pemberian suara dengan mencoblos, mereka juga mengujimaterikan pasal tentang kartu pemilih. Dengan pemilihan elektronik, kartu pemilih tak lagi diperlukan, tetapi membutuhkan adanya kartu tanda penduduk dengan nomor induk kependudukan tunggal dan sesuai dengan sistem informasi administrasi kependudukan (KTP SIAK).

Permohonan itu didasarkan atas keruwetan data pemilih dalam Pemilu Legislatif 2009. Selain itu, Jembrana juga telah berhasil melaksanakan pemilihan kepala dusun (kelihan dinas) secara elektronik. Sebagian warga Jembrana juga telah memiliki KTP SIAK yang telah dilengkapi dengan chip atau keping data.

Mudah

Sepanjang November-Desember 2009, pemilihan kepala dusun secara elektronik telah dilaksanakan di 31 banjar/dusun yang ada di 18 desa/kelurahan di Jembrana. Bagi sejumlah warga, proses pemilihan baru ini dirasa jauh lebih memudahkan. Pemberian suara tak lagi dilakukan dengan mencoblos atau mencentang di atas surat suara, tetapi cukup menyentuh atau menekan gambar dengan jari pada salah satu foto calon yang terpampang di layar monitor komputer. ”Tidak repot membuka kertas, lalu membaca semua tulisan. Kalau ini, tinggal colek, selesai,” kata I Nengah Suwela, warga Dusun Terusan, Kelurahan Lelateng, Jembrana, Jumat (9/4).

Suwela membandingkan proses pemberian suara secara elektronik itu dengan pemberian suara pada pemilu legislatif. Saat itu, ia direpotkan dengan ukuran kertas surat suara yang sangat besar. Pemberian suara dalam pemilihan kepala dusun dan pemilu legislatif memang tidak bisa disamakan. Selain sistemnya berbeda, pemilu legislatif sangat kompleks karena ada empat jenis pemilu yang dilakukan secara bersamaan, yaitu pemilu DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Ukuran surat suara sangat besar karena dalam satu surat suara untuk pemilu DPR dan DPRD bisa terdapat 400 pilihan nama yang tersebar dalam 38-44 partai politik.

Model pemilihan yang mirip dengan pemilihan kepala dusun adalah pemilu kepala daerah atau pemilu presiden yang hanya diikuti beberapa peserta. Namun, perbedaan aspek politik di antara ketiga jenis pemilu itu tentu tidak bisa dibandingkan.

Meski demikian, tahapan persiapan menuju pemilihan secara elektronik yang mudah itu tidaklah sederhana. Ida Bagus Putu Utama (65), warga Dusun Baler Bale Agung, Kelurahan Baler Bale Agung, Jembrana, menuturkan, beberapa hari sebelum ikut pemilihan kepala dusun pada Februari lalu, petugas datang ke rumahnya menanyakan kepemilikan KTP SIAK. Karena belum punya, petugas pun membuatkan KTP SIAK dadakan.

Namun, saat ini, jumlah pemilik KTP SIAK di Jembrana diperkirakan masih sangat terbatas. Dari lima kecamatan di Jembrana, Ketua Komisi Pemilihan Umum Jembrana I Putu Wahyu Dhiantara memperkirakan, hanya dua kecamatan saja yang penduduknya sudah memiliki KTP SIAK secara merata, yaitu Jembrana dan Negara.

Prinsip kerahasiaan

Kepala Bidang Komunikasi dan Informatika Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Jembrana Dewa Gede Ary Candra menyatakan, prinsip kerahasiaan dalam pemilihan elektronik sangat dijamin. ”Dengan e-voting, akurasi data pemilih disempurnakan. Pemilih harus terverifikasi lebih dulu sehingga hanya pemilih yang ada dalam daftar pemilih yang bisa memberikan suara,” katanya.

Dalam pemberian suara secara elektronik itu terdapat tiga monitor, yaitu server, verifikasi, dan bilik suara. Namun, komputer yang digunakan pemilih hanya dua, yaitu komputer verifikasi dan komputer bilik suara. Komputer server hanya untuk petugas. Komputer verifikasi digunakan untuk mengecek data pemilih dengan cara meletakkan KTP SIAK di atas reader, sebuah alat yang berfungsi membaca data yang ada di dalam kartu dan terhubung dengan komputer untuk menampilkan hasil verifikasi data di dalamnya.

Jika nama pemilik KTP tidak muncul, ada dua kemungkinan, yakni KTP rusak atau memang nama pemilik KTP tidak terdaftar dalam DPT. Petugaslah yang kemudian akan memastikan nama pemilih tersebut dengan data manual.

Setelah nama pemilih terdeteksi, pemilih berpindah ke komputer bilik suara. Setelah meletakkan lagi KTP pada alat pembaca sejenis yang terhubung dengan komputer bilik suara, akan muncul daftar peserta pemilihan kepala dusun. Pemilih tinggal menyentuh gambar calon kepala dusun yang ia dukung dan proses pemberian suara selesai.

Tersedia waktu sekitar 15 atau 30 detik bagi pemilih untuk menyentuh gambar peserta pemilihan. Jika waktu itu terlampaui, layar akan menutup. Pemilih memiliki sekali lagi kesempatan untuk memilih. Jika kesempatan kedua tak juga digunakan, dianggap ia tak menggunakan hak pilihnya.

Setelah proses pemungutan suara ditutup, petugas pemilihan dapat memperoleh hasil penghitungan suara seketika. Hanya dengan menyentuh beberapa petunjuk di layar sentuh server, secara otomatis komputer akan menunjukkan hasil pemungutan suara.

Kepala Seksi Pos, Sandi, dan Telekomunikasi Dishubkominfo Jembrana I Nengah Sukadana mencatat, setiap satu komputer dapat mengakomodasi 100 pemilih per jam. Candra mengakui, saat ini Pemkab Jembrana baru memiliki 21 set mesin pemilihan elektronik. Alat itu digunakan bergantian untuk pemilihan kepala dusun dengan cara diangkut ke lokasi-lokasi tempat pemilihan.

Penggunaan mesin pemilihan elektronik dalam pemilihan kepala dusun memang memudahkan. Namun, dalam pemilu yang lebih besar, seperti pilkada, tentu banyak hal yang harus ditata dan dipersiapkan sistem dan alatnya.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: