Merebut Kembali Cinta

PIALA DUNIA 2010
Jumat, 11 Juni 2010 | 06:01 WIB
Sindhunata

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/11/06014831/merebut.kembali.cinta

Sebentar lagi si kulit bundar ”Jabulani” akan ditendang di Stadion Soccer City, Johannesburg, mengawali perhelatan akbar Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Semua mata dan harapan tertumpah ke sana.

Bagi Benua Afrika sendiri, ”Jabulani” tentu saja adalah berkah yang diharapkan bisa mengubah pandangan dunia tentang manusia-manusia penghuni Benua Hitam, yang sering dinistakan sebagai kaum terbelakang itu.

Ke nako, it’s Africa turn, kinilah giliran Afrika. Ke nako, it’s time to celebrate humanity, inilah saatnya merayakan kemanusiaan. Begitulah semboyan yang mengiringi Piala Dunia 2010. Dan, African Renaissance, begitulah mantan Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki, menyebut perhelatan sepak bola dunia kali ini.

Samuel Eto’o, kapten kesebelasan Kamerun, juga punya harapan yang amat tinggi. Ia yakin Piala Dunia kali ini bisa menghapuskan rasisme yang menghinggapi dunia, juga dunia bola, terutama di Eropa. Karena warna kulitnya, Eto’o memang sudah kenyang cacian bernada rasis, baik ketika ia masih bermain di Barcelona maupun saat di Inter Milan.

Eto’o percaya, pandangan dunia yang melecehkan manusia berkulit hitam akan berubah karena Piala Dunia kali ini. Alasannya, perhelatan bola ini ikut digagas oleh Sang Madiba, Nelson Mandela, tokoh yang lama menderita karena politik apartheid, tetapi juga memaafkan semua lawan yang telah menindas kemanusiaannya dengan politik rasisme itu. Mandela sendiri memang berniat agar dengan adanya Piala Dunia 2010 ini manusia disadarkan untuk bersama-sama memberantas rasisme yang masih merajalela di dunia.

”Kebanyakan orang memandang Afrika dari segi kemiskinan, kelaparan, dan bencana. Piala Dunia kali ini memberi kami kesempatan untuk menunjukkan Afrika yang lain. Saya kira seluruh dunia akan dikejutkan oleh Afrika. Ini dapat menjadi Piala Dunia yang terbaik dalam sejarah,” kata Eto’o, yang mengaku memang sangat mengagumi dan mengidolakan Nelson Mandela.

Semoga bola mengungkapkan kemanusiaan yang sedang tertindas dan tersembunyi. Itu pula yang diharapkan oleh pelatih legendaris Argentina, César Louis Menotti (71). Dalam wawancara menjelang Piala Dunia 2010 dengan mingguan Die Zeit (2 Juni 2010), Menotti mengungkapkan kerinduannya tentang sepak bola yang dipendamnya selama ini.

”Saya ingin melihat sebuah kesebelasan yang tidak menerakan nama perusahaan apa pun di kostumnya. Saya hanya ingin melihat kata ’Tidak’ tertera di dalam kostum itu. Sebuah ’Tidak’ terhadap bisnis yang telah menelan dan melumat sepak bola. Memang, pemain ataupun pelatih harus mendapat imbalan karena jasanya, tetapi bisnis tak boleh mencuri waktu yang dibutuhkan oleh sepak bola untuk menjadi baik,” kata Menotti.

Kata ”Tidak” yang tertera dalam kostum itu semoga juga menjadi jawaban terhadap segala kebohongan besar yang ada di dalam sepak bola, yakni ”atau kamu bermain indah, atau kamu menang”. Menurut Menotti, dunia bola seharusnya mengikuti kaidah maksimalisasi ini, yakni ”kami akan menang justru karena kami bermain dengan lebih indah daripada lawan”.

”Bola membutuhkan visi. Sungguh bukanlah suatu visi jika orang berkata: kita harus menghancurkan dulu permainan lawan, baru kemudian kita melihat apakah kita masih bisa memasukkan bola ke gawang mereka,” tutur Menotti.

Bola indah

Menotti yakin sepak bola indah akan terus menyejarah. Soalnya, angin sudah bertiup ke arah sana. Lihatlah Spanyol yang bermain indah dan berani berisiko. Juga permainan indah Arsenal dan Barcelona, lalu Jerman di Piala Dunia 2006, yang patut dipuji walaupun tidak juara. ”Semoga tiupan angin itu berubah menjadi badai,” kata Menotti. Jika demikian, dunia akan diwarnai dengan kebenaran dan kejujuran bola.

”Jika bola hanya berkenaan dengan hasil akhir, apa gunanya kita bermain? Cukup kita melempar keping uang di lapangan untuk menentukan siapa pemenangnya. Penonton sungguh ingin melihat permainan karena mereka mencintainya. Ya, karena respek akan manusia, sepak bola harus merebut kembali cinta,” papar Menotti.

Menotti memang dikenal amat respek terhadap kemanusiaan dan cinta. Oleh karena itu, ia mengajak kita untuk berani berkata ”tidak”. Tidak terhadap kebohongan yang terang-terangan dari para politikus. Tidak terhadap keberhasilan yang diraih dengan segala cara. Tidak terhadap perang dan kemiskinan. Tidak terhadap ketidakadilan di bidang pendidikan.

Sesudah kita berkata tidak, baru kita bekerja untuk sebuah ”Ya”: Ya terhadap kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Kata Menotti, jalan menuju ”Ya” itu sangatlah sulit dan panjang. Kiranya Piala Dunia 2010 dapat menjadi salah satu jalan meraih impian kemanusiaan itu.

Untuk itu, para aktor bola harus memperlihatkan bahwa mereka tidak akan bermain dengan kebohongan dan kecurangan. Mereka harus menunjukkan respek kepada sekian juta mata yang mengharapkan kejujuran dan sportivitas dari mereka.

Karena itu pula, mereka jangan hanya bermain untuk asal menang. Semoga mereka bermain indah dan mencintai kebenaran dan kejujuran yang terkandung dalam bola. Hanya dengan demikian, seperti kata Menotti, sepak bola akan mampu merebut kembali cinta.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: