Mendaras Harapan

Mendaras Harapan: Kumpulan Kolom Serambi Jumat dan Cahaya Ramadan Koran Merapi 2007-2010
ISBN 978-602-97734-4-6

Penulis: Imam Samroni
Edisi 1, Mei 2011

Penerbit:
Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia dan Yayasan NUN-XXV

Percetakan:
Kaukaba Dipantara

Pengantar Penulis

[1]. Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, [2]. Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. [3]. Dan Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala besar yang tidak putus-putusnya. [4]. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. [5]. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat.
Sungguh kehidupan yang terpuji serta paling hebat tiada tara hanyalah jika diatur sesuai dengan ilmu Allah sebagai satu-satunya pembangun hidup seimbang saling kasih.


Buku ini merupakan kumpulan tulisan kolom ”Serambi Jumat” dan ”Cahaya Ramadan” pada Koran Merapi, juga KR Bisnis, Yogyakarta, selama 2007-2010. Ke-95 tulisan berusaha mencatat dan menanggapi sejumlah peristiwa yang tengah berlangsung, dengan pembalikan posisi, yaitu sudut pandang warga yang belajar menyatakan keislaman dan keberagamaan, bukannya seorang ustad yang tengah mengelola kotbah.

Menulis kolom adalah menyelesaikan tulisan dengan tenggat jadwal yang sudah tersusun berdasar rapat redaksi. Dengan demikian, menyelesaikan ”Serambi Jumat” dan ”Cahaya Ramadan” adalah menyegarkan ingatan dan mengambil suasana pembelajaran keislaman dan keberagamaan, terutama di Kota Baru dan Demangan, Yogyakarta, dengan thalabul ’ilmi-nya yang sungguh menggugah.

Nama-nama para sahabat harus disebut satu per satu untuk menyampaikan terimakasih dan bukannya membebani kekurangan dan kelemahan buku ini, yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Nama-nama para sahabat yang tertulis di halaman persembahan adalah pribadi di mana penulis belajar dan bersama berkhitmat keberimanan yang dari konteks sehari-hari.

Sekali lagi, penulis menyampaikan terimakasih untuk para penggerak di Wisma Sawitsari, kampus UII Demangan, ruang PSI UII, jejaring Kotabaru; juga mas M. Sobirin (Kedaulatan Rakyat), bapak YB. Santosa (Koran Merapi), mas Adib Susila (NUN-XXV), dan mas Agus Utantoro (Media Indonesia/MetroTV). Buku ini dipersembahkan terutama sebagai tanda kasih untuk umi Indah Sri Wulandari dan anak Dafina Rifatu Istiwa. Wallaahul muwafiq ilaa aqwamittariq.

Sleman, Mei 2011
Imam Samroni

Fiqh Sosial Profetk
Yusdani

Fenomena religiusitas masyarakat Indonesia dewasa ini menunjukkan suatu peningkatan yang cukup pesat. Gejala ini dapat dilihat dari masjid yang makin penuh-sesak, jamaah yang menunaikan haji semakin membludak, ramainya aktivitas zikir nasional, dan lain-lain. Di tengah gairah religiusitas masyarakat yang tengah mengalami eskalasi ini ternyata tidak berbanding lurus dengan realitas kehidupan sosial, karena tingkat korupsi juga semakin mengharu-biru. Ini adalah kenyataan yang ironis, sebab kenyataan ini berlangsung di negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Bahkan, kini korupsi merajalela justru di tengah masyarakat semakin santri dan semakin taat secara ritual-formal keagamaan.

Asumsinya adalah pandangan bahwa substansi agama terletak pada ritual-formal-individual setiap pemeluk agama. Amalan-amalan ritualistik ini diyakini sebagai kunci penting menuju surga. Ia akan membawa pada keselamatan dan kebahagiaan eskatologis yang abadi. Akibat pola pemahaman agama semacam ini, seseorang yang makin saleh secara ritual keagamaan justru semakin tak peduli dan apatis terhadap persoalan kemanusiaan.

Karena itu, ikhtiar untuk menumbuhkan semangat dan penyegaran pemahaman keagamaan cukup mendesak dilakukan. Pola keberagamaan seseorang sejatinya baru dapat dinilai utuh (kaffah) apabila dibarengi upaya serius bagi pemihakan terhadap orang-orang yang tesisihkan (mustad’afin). Dengan kata lain, tingkat kesalehan ritual-formal-individual harus bersinergi dengan kesalehan sosial dan perhatian terhadap aspek kemanusiaan.

Untuk menuju sinergitas antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial perlu dilakukan pemahaman, baik terhadap sisi historis agama maupun terhadap sisi doktrin agama itu sendiri. Pertama, dari sisi historis awal mula kelahiran suatu agama, dapat dipahami adalah untuk merespons penderitaan dan kesengsaraan yang mencekam kehidupan umat manusia akibat penindasan dan eksploitasi yang dilakukan komunitas sosial maupun individual yang dominan. Dengan begitu dapat dipahami bahwa agama lahir sebagai bentuk keprihatinan atas realitas sosial yang timpang. Untuk itu, kehadiran agama merupakan upaya kritik dan pembelaan atas upaya-upaya dehumanisasi, penistaan terhadap harkat dan nilai-nilai kemanusiaan.

Kedua, dari sisi doktrinal-normatif agama, teks-teks suci agama yang bersifat normatif perlu dipahami secara utuh, sehingga nilai-nilai substansial agama dapat ditangkap secara keseluruhan. Dalam banyak ayat Alqur’an, misalnya, dapat ditemukan penjelasan bahwa agama mengandaikan keseimbangan antara dua kepentingan, Tuhan dan manusia. Bahkan problem kemanusiaan terkadang lebih penting untuk diprioritaskan.

Uraian di atas cukup dijadikan referensi etis profetik dan menjadi bukti bahwa agama, sejatinya untuk menjaga nilai dan memenuhi kepentingan kemanusiaan, bukan hanya untuk memapankan kekuasaan Tuhan. Dalam kaidah usul fiqh pun disebutkan bahwa amal perbuatan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh orang banyak lebih utama daripada amalan yang manfaatnya hanya dirasakan diri sendiri (al-muta’addî afdlal minal qâsir). Inilah penjelasan cukup valid yang mudah ditemukan, ketika dilakukan pembacaan terhadap beberapa literatur sejarah agama dan sumber doktrinal-normatif agama secara utuh.

Pangkal tolak pemahaman di atas adalah bahwa semua agama pada hakekatnya diturunkan untuk kepentingan manusia, bukan untuk kepentingan Tuhan. Dalam rumusan lain juga dapat dikatakan bahwa agama disebut sesuatu yang bersumber dari Tuhan tetapi diperuntukkan bagi manusia (Ilâhiyatul masdar wa insâniyyatul maudû’). Rumusan ini mengandaikan bahwa pola keberagamaan mempresentasikan terjadinya pergulatan antara pemenuhan kepentingan Tuhan dan manusia. Hal ini dapat pula berarti bahwa pelaksanaan ritual-formal-individual agama seharusnya bersenyawa dengan ikhtiar empati dan pembelaan atas nilai-nilai kemanusiaan.
Karena itu, tulisan yang terekam dalam buku ini dapat menandaskan bahwa kemungkaran sosial lebih berbahaya secara kemanusiaan daripada kelalaian ritual normatif. Esai agama, budaya, politik, dan lain-lain yang ditulis oleh Imam Samroni dalam buku “Mendaras Harapan: Kumpulan Kolom Serambi Jumat dan Cahaya Ramadan Koran Merapi 2007-2010” ini tersaji cukup menarik. Dengan kemasan bahasa yang mengalir dan populer, tema-tema yang diangkat merupakan kenyataan objektif yang terjadi dalam rentang tiga tahun.

Secara keseluruhan buku ini menjelaskan kerisauan penulis ketika melihat agama dimistifikasi dan mistifikasi agama itu dicoba dicampuradukkan dalam kehidupan sehari-hari yang rasional. Sebagai sebuah bacaan popular, penulis buku ini menawarkan wacana untuk memahami Islam dalam konteks kehidupan kontemporer, sehingga cukup mewakili kebutuhan pembaca. Tampaknya penulis buku ini tidak ingin terjebak dalam perdebatan atau diskusi yang hanya berseronok secara intelektual, dengan hanya ingin memperkenalkan sebuah konstruksi berpikir baru, tetapi hal yang sangat menonjol dalam buku ini memang isu-isu sosial dan upaya mempertautkannya dengan nalar agama yang populis.

Yogyakarta, Mei 2011
Yusdani, peneliti Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia

Teruntuk anak dan keponakan:

Aisyah Nurul Insani
Aji Sasono
Amalia Soya Praditta
Caesar Kevin Quesney
Clarissa Tyas Pramesti
Dafina Rifatu Istiwa
Dyah Ayu Dwi Lestari
Dyah Erma Purwarniningsih
Dyah Novita Dwi Yogatami
Faris Ash-Shiddiqie
Vicki Febriansyah
Hasnaura Pratista Saraswati
Muhammad Faizal Soekarno Poetra
Muhammad Satria Putra Rismaya
Nabilla Ariftawidya Kusumastuti
Nindya Septi Hapsari
Zikra Arif Santosa
Zira Alifa Resanti

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: