PSI UII: Cyberbullying Pada Pelajar Bagaikan Fenomena Gunung Es


http://us.wap.vivanews.com/news/read/330067

Siapa yang tak kenal dengan situs jejaring sosial Facebook? Tentu semua orang akan mengenalnya bahkan tak jarang memiliki lebih dari satu account facebook. Sejak situs jejaring sosial ini diperkenalkan pertama kali di dunia maya oleh Mark Elliot Zuckerberg tahun 2004 yang lalu, hingga saat ini pengguna facebook di Indonesia diperkirakan mencapai 65 juta orang di Indonesia telah memiliki account facebook termasuk diantaranya adalah kalangan pelajar SMP hingga SMA. Seiiring dengan semakin murahnya harga telepon genggam yang juga dipastikan menyediakan fasiltas facebook dalam menunya semakin memperbanyak pengguna  facebook di kalangan pelajar di Indonesia termasuk juga di Yogyakarta. Namun tanpa disadari menggunakan facebook khususnya di kalangan pelajar akan rentan terhadap kekerasan dalam dunia maya.

Cyberbullying yaitu segala bentuk ‘kekerasan’ yang dialami anak melalui media cyber atau internet. Tindakan cyberbullying merupakan aksi di mana pelaku bertindak di luar batas kepada orang lain dengan cara mengirim, memposting materi yang dapat merusak kredibilitas, menghina dan serangan sosial lainnya lewat internet.

“Nah di Indonesia khususnya di Yogyakarta ini tindakan cyberbullying ternyata seperti fenomena gunung es. Banyak kejadian cyberbullying namun korbannya enggan melaporkan kejadian tersebut kepada aparat kepolisian,” kata Imam Zamroni, Peneliti dari Pusat Studi Islam, Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, di sela-sela sosialisasi Fabebook-an Sehat dan Tolak Kekerasan kepada pelajar SMK I Kasihan Bantul, DIY, Selasa malam, 26 Juni 2012.

Maraknya cyberbullying yang terjadi pada kalangan pelajar di Yogyakarta ini terjadi disebabkan karena pengawasan dari orang tua dan juga Guru Bimbingan Konseling sendiri tidak mengetahui cara menggunakan Facebook bahkan terkadang mereka tak mempunyai account facebook.

“Di sisi lain siswanya justru telah memiliki account facebook dan juga mungkin handphone yang jauh lebih canggih dari Guru BK itu sendiri. Ini fakta yang ada di lapangan,”paparnya.

Dilihat dari korban cyberbullying khususnya kalangan pelajar di Yogyakarta lebih banyak menimpa pelajar putri dan sayangnya lagi pelajar putri ini enggan melapor kepada orang tuanya atau guru pembimbing konseling di sekolahnya.

“Selama ini kasus cyberbullying yang hingga ke ranah penyidik adalah jika terjadi kekerasan secara fisik menimpa pengguna facebook atau orang tua yang melapor ke polisi bahwa anaknya telah dibawa lari teman facebooknya,”tandasnya.

“Sementara pada kasus bertindak di luar batas kepada orang lain dengan cara mengirim, memposting materi yang dapat merusak kredibilitas, menghina dan serangan sosial lainnya lewat internet sama sekali luput dari jeratan hukum,”tambahnya.

Polisi sendiri dalam kasus cyberbullying ini tidak dapat berbuat apa-apa apabila korban tidak melaporkan tindakan kekerasan melalui dunia maya. Polisi sendiri meski punya penyidik cybercrime namun jarang yang menangani kekerasan melalui dunia maya.

“Kita mungkin tahu polisi menangani kasus cyberbullying hanya karena membaca koran atau membaca berita melalui media online. Namun di luar kejadian yang ditangai polisi sangat banyak. Sayangnya pihak aparat kepolisian dalam hal penanganan cyberbullying ini juga sangat tertutup sehingga data pasti penanganan pelajar yang tersangkut cyberbullying di Yogya ini sangat minim,” tandasnya.

ML Fauzi peneliti lain dari PSI UII Yogyakarta menegaskan dari sosialisasi kepada pelajar di 8 Kabupaten-Kota di DIY dan Jawa Tengah meliputi, Kabupaten Bantul, Gunungkidul, Kulomprogo, Sleman dan Kota Yogyarta serta kabupaten Klaten, Magelang dan Purworejo di Jawa Tengah ditemukan fenomena yang sama yaitu cyberbullying merupakan fenomena gunung es yang harus segera ditangani agar para pelajar ini dapat menggunakan facebook secara sehat.

“Seharusnya pelajar dapat menggunakan FB untuk saling tukar ilmu pengetahuan, mempromosikan sekolahnya masing-masing namun justru terkadang menjadi ajang untuk saling menghina antar sekolah, memposting gambar yang tidak senonoh yang pada akhirnya bisa memicu tawuran antar pelajar,” katanya Menurut Fauzi agar siswa dapat menggunakan facebook secara sehat maka ada beberapa langkah yang bisa ditempuh oleh siswa yang memiliki account FB diantaranya, jangan menanggapi dan meneruskan pesan dari pelaku, minta pelaku untuk menghentikan aksinya, beri peringatan jika aksi tersebut masih berlanjut, simpan atau cetak bukti kekerasan, hapus akun pelaku dari daftar teman

“Bisa juga membicarakan dengan teman dan guru Bimbingan Konseling di sekolah, melaporkan masalah kekerasan ini ke Kepolisian Resort atau Kepolisian Kota Besar setempat jika aksi sudah mengarah tindak kekerasan, dengan melampirkan salinan bukti kekerasan,”katanya.

Lebih Lanjut Fauzi menyatakan kekerasan di Facebook hanyalah salah satu perkara dari ancaman yang bisa menimpa siapapun. Ketidakcepatan atau ketidakmampuan menolak kekerasan di Facebook hanya akan menambah berita tak sedap di media massa. Facebook sebagai media sosial dapat difungsikan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat.

Facebook memungkinkan kita untuk berbagi informasi beasiswa, mengabarkan prestasi sekolah kita, mendukung kepedulian kita terhadap warga yang tengah berkesusahan, dan masih banyak lagi. Dengan ber-Facebook, kita berjejaring sebagai netizenship (warga siber) yang menyatakan keindonesiaan. Sungguh, Facebook adalah media kita untuk terhubung dan berbagi prestasi. Dan itu bukan ihwal kekerasan yang hanya merusak silaturahmi dan dilarang agama. Facebook-an itu sehat dan menyehatkan kekitaan,” pungkasnya.

I Ketut Idep Sukanaya, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, SMK I Kasihan Bantul, DIY menyatakan hampir 80 persen pelajar di SMK I Kasihan telah memiliki account FB dan setiap hari mereka menggunakan FB tersebut. Apalagi dengan fasilitas internet yang ada di sekolah yang dapat diakses siswa maka semakin banyak siswa mengakses FB.

“Untuk kasus kekerasan yang menimbulkan perkelahian pernah sekali terjadi namun dapat diselesaikan secara baik-baik dengan melibatkan guru bimbingan-konseling,”katanya.

Ketut mengungkapkan kekerasan dengan menggunakan FB mungkin lebih banyak terjadi di SMK I Kasihan namun demikian tidak bisa terungkap karena kekerasan di dunia maya tersebut sifatnya bukan fisik namun bisa komentar-komentar di FB yang pedas dan menghina atau membuat status yang menyinggung perasaan orang lain.

“Kita berharap melalui sosialisasi Facebook-an Sehat diharapkan siswa memanfaatkan situs jejaring sosial FB untuk meningkatkan prestasi siswa, berbagi pelangaman dalam belajar dan bisa mempromosikan bidang kejuruan yang ada di SMK I Kasihan, Bantul ini,” pungkasnya.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: