“Smart”-Phone

Dulu saya memutuskan untuk memilihnya: Kebutuhan pokok adalah bertelpon dan berkirim pesan singkat. Di samping ada jam, kalender, senter, dan terutama hemat daya listrik. Untuk mengetik sudah diselesaikan laptop: kebutuhan berselancar tinggal dicoloki modem atau bertandang ke teman yang ber-wifi (wireless fidelity). Jadi, begitulah saya mengapresiasi keberadaan dan kebermanfaatan telpon genggam.

Dalam evolusi gangan yang kian singkat, telpon genggam yang saya pilih dilabeli oleh para penyedia sebagai feature-phone, basic-phone, simple cell phone, low-end product, dan deretan istilah lain. Jaringannya tentu 2G (2nd Generation atau teknologi generasi kedua) yang khas tahun 1990-an dan berbahasa Symbian. Saya dengan heroik menyebut sebagai bagian dari The people’s republic of #Symbian sebagai apologia terhadap plesetan “sing-biyen” (Jawa: yang dulu).

Saya menisbahkannya sebagai telpon genggam yang “go green” sebab sangat hemat listrik. Apa pasal? Sebab nge-charge baterai cukup saban 4-5 hari sekali. Ketika beberapa kali terjatuh di lantai, telpon genggam itupun tetap masih berfungsi. Fasilitas senternya juga penuh berkah bagi yang berkebutuhan: Bukan hanya saat aliran listrik terjadwal padam, sorot senter pernah membantu “penemuan” kunci teman yang terjatuh di parkiran, menyenter akik, dan sebagainya.

Jadi, dengan catatan penggunaan seperti itu, saya lebih adil menyebutnya sebagai telpon genggam yang “smart” (smart-phone) dan bukan HP “bodoh”. Anggapan dasarnya adalah saya-sebagai-pengguna yang berdaulat, termasuk untuk menafsirkan bagaimana “smart”-nya telpon genggam di dalam keseharian. Sebelum membelinya, saya sudah menggunakan telpon genggam berjaringan 3.5G (HSDPA, High Speed Downlink Packet Access). Saya hanya merasa agak repot, terutama dalam hal masalah daya baterai. Dalam sehari, rata-rata harus nge-charge dua kali. Kerepotan etis lebih sering saat di lapangan atau luar kota. Karena bersifat massal, kerepotan ini terwadahi dengan ungkapan “Stop Contact Society” atau masyarakat yang berkebutuhan stop kontak.

Sebagaimana gerak evolusi harus digulirkan para penyedia, “smart”-phone yang saya pilih pun niscaya akan ditamatkan oleh kebijakan terakhir pemerintah. Telpon genggam 2G hanyalah riak (-riak) kecil dalam gelombang sejarah bisnis global telefoni trilyunan rupiah. Kedatangan era baru sudah dikudang dengan hiruk pikuk dan puja-puji, serta nyaris tanpa cela: 4G sudah datang! Petanda dan penanda 4G sudah terang benderang di (sejumlah kota) Indonesia. Saya hanyalah pengguna gangan dengan rumusan kebutuhan yang rantah: Bertelpon dan berkirim pesan. Saya pun mafhum dengan klaim teori sistem pelik (complex system theory), 4G sudah mencakup dan melampaui 2G.

Walhasil, 4G (dengan dukungan kebijakan pemerintah untuk menamatkan 2G) adalah perkara dan cita Broadband Society, masyarakat berpita dan berdompet lebar. Alamiah saja, sebagaimana dulu 2G dibikin untuk melampaui 1G, evolusi negara berkembang akan berganti baju menjadi negara industri, telpon genggam (dan kearifan) “lokal” di-ada-kan oleh yang global. Kebijakan (4G) pun hanya direntangkan pada pememuhan dan penolakan (self fulfilling & self defeating), pro dan kontra, sebagaimana dialektika minus sintesa untuk cita Indonesia Raya itu sendiri. Di dalam linimasa keindonesiaan inilah, saya hanya bisa menjaga harap di dalam desain besar para Goliat: Sebab Indonesia semakin dianggap penting bagi para penyedia.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: