Soto Gabluk Pak Jono: Kiringan dan Keberlanjutan Berusaha

Tiga meja panjang dengan sembilan kursi plastik tanpa sandaran dan dua lincak kayu memenuhi warung itu. Jam dinding, dua kalender, sebuah foto perempuan tua tertempel di tembok. Di meja terhidang tempe, tahu, dan hati ayam goreng; juga sate telur puyuh, telur dadar, kerupuk rambak berplastik, kerupuk di kaleng, dan kacang goreng. Di samping etalase kayu, terdapat sederet botol Sprite.

Nggih punika, … Wonten dusun nggih sak wontenipun,” kata Pak Jono Raharjo sambil menyodorkan semangkuk soto dari tempatnya meracik.* Saya berdiri di samping partisi tripleks, menerima dan meletakkannya di meja, serta menyapa deretan pembeli di samping dan depan. Saya langsung menyicipi kuahnya.

Alhamdulillaah, racikan bumbu soto sapi dengan citarasa kelas wahid. Saya menikmati beberapa saat rasa bumbu memenuhi mulut dan tenggorokan, sensasi yang “mak nyus” (meminjam kosakata Mas Bondan Winarno), dengan tambahan kesegaran teh tawar yang hangat. Saya sengaja tidak menambahkan garam atau kecap manis dulu.

“Saya belajar dari bawah, dimulai dari mencuci mangkuk saat itu sampai mengelolanya,” Pak Jono berkisah. “Saya membantu Pakde saya yang berjualan asem-asem di Pedan, Klaten. Warung dibuka pukul 05. Saat ramai, dari buka sampai pukul 10, rata-rata memasak 10 kali, kurang-lebih 50 kg beras”.

Saya mendengarkan kisahnya sambil menikmati soto bening. Pak Jono kembali meracik bumbu soto untuk pembeli baru, membungkusnya, sekaligus menyelesaikan pembayaran. Bukan pembeli sepertinya, tetapi pelanggan: Pergeseran yang ternyatakan dengan saling bertanya kabar keluarga dalam aksentuasi keakraban dan senyum.

“Pada 1957, saya kembali ke Kiringan sini, Desa Sumber Kecamatan Trucuk, Klaten, membuka warung di sini, dengan menu yang sama: Asem-asem. Saat itu, satu porsinya adalah Rp 25, harga yang terjangkau. Harga daging sapi saat itu juga murah. Karena pembeli menyebutnya dengan ‘soto,’ maka istilah ‘asem-asem’ pun tergantikan dengan soto,” lanjut Pak Jono sambil memperlihatkan mangkuk kecil. “Ini mangkuk yang pada 1957 saya gunakan”.

“Maaf, Njenengan datang sudah siang sehingga gabluk sudah habis,” Pak Jono bertutur tentang singkong yang berbumbu gurih dan digoreng itu juga menjadi tanda soto sapinya. Di Klaten atau Jogja, gabluk juga disebut “gandul,” sedangkan di Sukoharjo atau Solo dinamakan “gondomono”.

“Sejumlah orang urung membeli soto gara-gara gabluk sudah habis itu sudah biasa,” lanjut Pak Jono dengan merendah. Seorang ibu dengan dua anaknya yang berseragam SD datang, duduk di lincak yang masih kosong, dan memesan soto. Kehangatan sambutan pak Jono berjawab dengan keceriaan anak untuk ber-table manner dengan dibimbing ibunya: Makan di warung tidak bersendawa, sate telur puyuh dihabiskan dulu baru menambah tahu, plastik pembungkus kerupuk tidak dibuang sembarangan. Ah pembelajaran yang menggugah untuk menghormati semangkuk soto adalah barakah rezeki Tuhan.

“Jika pada 1957 harga soto Rp 25 dan sekarang adalah Rp 2.000 per porsi, apa tidak rugi, Pak?” tanya saya.

Pak Jono hanya tersenyum dan mempersilakan saya untuk menghitungnya. Kursi dan lincak terisi penuh 12 orang, satu atau dua pembeli mengantre di depan.

Dan warung soto Pak Jono, yang sekaligus rumah tinggal, tak terpasang papan nama, sebab petanda itu sudah ada di dalam benak para pelanggan dan tetangga. Rimbun dedaunan waru menyejukkan suasana warung. Jika berbelanja dipahami lebih dari sekedar kenyamanan, tetapi juga hiburan dan pengalaman menemukan barang yang diinginkan, maka mengasup soto Pak Jono adalah penghormatan terhadap manusia di dalam keseharian. Sebab, pembeli dan pelanggan sudah “dikategori” kembali menjadi manusia di dalam keseharian. Bersama manusia, Pak Jono Raharjo melanjutkan soto gabluk, mengusahakan kemanusiaan di Kiringan.

*(Ya beginilah, di dusun ya seadanya)
Palar, 21 Agustus 2015

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: