Bank Sampah Sari Kreatif, Gusyanto, dan Panggilan Sosial

Rabu Legi, 9 September. Berbekal informasi dari Ibu Setyawati/Kasi PMD Kecamatan Trucuk, saya melanjutkan perjalanan ke Desa Pundungsari, masih di Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Info Bu Wati tentang rintisan Bank Sampah di Pundungsari layak ditelusur dengan niatan belajar. Saya menyimpan dulu rencana untuk bertandang ke Bank Sampah Putri Mandiri, Bogor, Cawas, Klaten, yang beliau rintis sejak 10 Oktober 2009.

Sampai di Balai Desa Pundungsari, oleh Bapak Mayar, Carik Pundungsari, saya diminta ke RT Jagalan dan menemui Bapak Gusyanto, ketua bank sampah sekaligus ketua RT. Layanan berdaring kebetulan tidak lancar di Pundungsari, sehingga Google Maps tergantikan dengan kembali meluring: tanya-berjawab ke warga untuk menuju koordinat Jagalan. Alhamdulillah, saya sampai di rumah besar dan asri, dengan petanda LKM Sari Manunggal, Desa Pundungsari.

“Saya kelahiran Pundungsari, kebetulan dipercaya menjadi Ketua RT Jagalan sini. Tentang bank sampah, saya terinspirasi dari kisah-kisah di Internet. Saya merasa sendirian awalnya, kemudian sharingsharing dengan sejumlah teman, untuk mengelola sampah di RT Jagalan sini. Jika dibuang sembarang, misalnya di sungai di belakang rumah sini, yang repot ya kita sendiri. Di sini, kita bisa mengolah sampah plastik dan unorganic lainnya, kecuali pampers dan pembalut. Saya belum tahu apakah sudah ada teknik untuk mengolahnya,” Pak Gusyanto membuka pembicaraan.

“Saya belum melakukan sosialisasi ke seluruh dukuh di Desa Pundungsari sini. Dukungan peraturan desa, sebagaimana yang Njenengan tanyakan, juga belum ada di Desa Pundungsari. Bank Sampah Sari Kreatif di RT Jagalan merupakan rekomendasi program PNPM Mandiri ‘Sari Manunggal’ yang direalisasikan pada Juli 2015. Secara pribadi dan sebagai ketua RT, saya sudah kehabisan kata-kata untuk melarang warga dari RT lain untuk tidak membuang sampah di sungai di belakang rumah saya”.

“Pada Rapat RT yang mengagendakan pengolahan sampah dan difasilitasi Ibu Setyawati, warga RT sini secara aklamasi menyetujui bank sampah sebagai alternatif pengolahan sampah. Keuntungan warga sebagai nasabah akan diwujudkan dalam bentuk Tunjangan Hari Raya (Idul Fitri) tahun depan, sehingga saldo dari tabungan tidak diambil sampai menjelang hari raya 2016. Agenda rapat RT langsung dilanjutkan dengan pelatihan tatakelola bank sampah. Lingkup kegiatan masih di tingkat RT dengan waktu menabung 2 minggu sekali pada hari Minggu pagi, baik sampah plastik, kertas, pecahan kaca, dan besi/aluminium. Untuk penampungan sampah dari nasabah ya di rumah mertua saya sini”.

Ketika saya menanyakan bagaimana proses mengajak warga untuk memilah sampah dari masing-masing rumah tangga, Pak Gusyanto berkisah bahwa tidak membutuhkan waktu lama dan lancar-lancar saja: Sampah rumah tangga yang terkelola akan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan serta sampah itu bisa ditabung dan diuangkan.

“Karena masih awal, perjalanan kami masih terseok-seok. Tapi berkat dukungan warga, kami berjalan, berbenah, dan terus memperbaiki diri. Sampah plastik apapun diterima, dari yang jelek, kotor, … ya apapun; di samping kertas, botol, kaca, besi, aluminium. Untuk sampah daun ‘kan tidak berbahaya dan bisa diolah menjadi kompos”.

“Saya tidak merasa repot memilah sampah dari rumah. Pengurus bank sampah membagikan 2 bagor (kantung plastik) untuk menyimpan hasil pilahan sampah, untuk sampah plastik dan kertas. Pemilahan sampah juga menjadi proses pembelajaran bagi anak-anak untuk menjaga kebersihan,” tutur Ibu Harjanti, warga yang menjadi nasabah Bank Sampah Sari Kreatif.

***
Minggu Kliwon, 13 September. Ketika sampai gerbang Pulo Pundungsari RW 4, Pak Gusyanto menanyakan keberadaan saya lewat layanan pesan singkat. Iya, hari itu saya sudah berjanji untuk mengambil gambar tatakelola Bank Sampah Sari Kreatif, terutama saat warga-yang-nasabah menyetor sampah.

“Maaf, karena ada acara pengajian siang ini, banyak warga yang menitipkan sampah,” sambut Pak Gusyanto sambil memindah bagor berisi sampah ke timbangan gantung.

Alhamdulillah, saya bisa menjadi penyaksi atas peristiwa sosial yang sangat historis ini. Bukan “nouvel sonnante” (ledakan-seketika) meminjam kosakata Braudel, melainkan jawaban-kecil dari masalah besar sesampahan di negeri ini. Dan di Desa Pundungsari, di RT Jagalan, Bank Sampah Sari Kreatif sudah move-on, tanpa liputan media, minus jepretan kamera, dengan ketulusan untuk berjawab dengan masalah sesampahan.

Saya menyerahkan tas kresek besar berisi gelas dan botol plastik minuman, Pak Gusyanto menerima dan menggantungkannya di timbangan, seorang pengurus menimbang dan yang lain mencatat. “Ini dari Pak Imam, nasabah kehormatan, yang datang jauh-jauh dari Desa Palar,” gurau Pak Gusyanto.

Kesan visual tentang kantor “bank” yang serba wah menjadi berbanding terbalik ketika diimbuhi menjadi bank “sampah”. Halaman rumah mertua Pak Gusyanto dipenuhi bagor yang terisi sampah dari nasabah, di teras depan tergantung timbangan: Para pengurus sibuk mendekatkan bagor ke timbangan, ada yang menimbang, selanjutnya seorang pengurus mencatat, terakhir memindahkannya ke dapur rumah yang berfungsi sebagai gudang. Pendingin ruangan tak dibutuhkan untuk bank sampah sebab kantor berada di teras rumah, dasi sebagai representasi kelas profesional di-glokal-kan di Pundungsari –meminjam istilah Ritzer– dengan baju kasual yang mendukung gerak kerja, sepatu bersemir tersimpan dan tergantikan sandal. Saya memahami “mobile” dalam lema manajemen modern mendapat kepenuhan pemaknaan di Bank Sampah Sari Kreatif: Aset kantor yang tak-bergerak menjadi elastisitas layanan yang mengedepankan layanan ke warga sebagai nasabah atau customer.

“Sejauh ini, norma sosial dari kerja di bank sampah masih terjaga,” kata Mas Eko, anggota LKM Sari Manunggal, lembaga yang merekomendasi berdirinya bank sampah di Desa Pundungsari. “Konsekuensi kerja sosial adalah kesediaan pengurus bank sampah untuk menyisihkan waktu pribadi ke waktu sosial, di antara kesibukan sebagai warga”.

Siang itu, saya mencerap suasana guyub dari para pengurus bank sampah, yang tetap melayani satu, dua warga yang menyetorkan sampah. Di antara kegiatan menimbang, mencatat, dan memindah bagor, tetap ada candaan yang memupuk keakraban dan menjaga bangunan sosial di RT Jagalan. Saya mengenali kehadiran Indonesia di Pundungsari sebagai “nation & social building” sebagaimana saya temukan di Bank Sampah Pandanaran, Dukuh Kabo, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten, pada Jumat Pon, 7 Agustus yang lalu.

Dan di Jagalan, Pundungsari, saya belajar dari praktik sosiologi kedaruratan. Keberlanjutan kerja-sosial di tengah jalinan serba bisnis dewasa ini mensyaratkan dukungan “penghargaan yang layak” kepada pengelola bank sampah. Jamak tahu, 1 bank sampah di tingkat desa akan berhimpun bersama 391 desa lainnya dari 30 bank sampah di Klaten, turut menurunkan kerusakan lahan seluas 65.556 Ha, menjaga kesehatan lingkungan 1.569.253 jiwa. Apalagi jika dukungan dari 3.682 RT dan 9.570 RW ternyatakan, tentu akan mendukung secara langsung keberhasilan 11 Kluster UMKM yang tengah digadang di Klaten, yang meliputi Batik, lurik, konveksi, mebel, keramik, handycraft, makanan olahan, logam, lereng Merapi, minapolitan, dan desa wisata. Dan sungguh, Pak Gusyanto sudah menjawab panggilan itu.

Gusyanto, Ketua Bank Sampah Sari Kreatif, LKM Sari Manunggal, Desa Pundungsari, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: