Raditya, Prakseologi Karangdowo, dan Pertanian Organik

Saat itu malam Jumat di warung Bu Nani, utara Makam Eyang Ronggo, Dukuh Kedon, Palar, Trucuk, Klaten. Setelah perbincangan, saling kenal, saya kembali terlibat dalam pokok-soal: Bertani, khususnya bertani padi yang organik. Saya lebih banyak bertanya dan Mas Raditya –ia memperkenalkan dirinya– menjawab pertanyaan saya dengan konteks pengalaman di Karangdowo. Sesekali, teman-temannya dari Karangdowo: Mas Lilik, Mas Nathan, dan sebagainya menimpali dan menguatkan panggilan pertanian organik, sambil menikmati segelas kopi, jadah bakar, dan tahu goreng.

Saya mencerap keterbukaan, keterlibatan, juga keberpihakan dari Mas Raditya dan teman-teman semeja tentang bagaimana memberdayakan komunitas basis petani organik. Mas Raditya juga mempersilakan saya untuk bertandang ke komunitasnya, beserta penjelasan rute perjalanan dari Palar ke Karangdowo, Klaten.

***
Usai pamit dari perbincangan di Kompleks Makam R. Ng. Ronggowarsito, saya menyusuri pematang yang menanda batas Dukuh Padangan dan Daleman, Desa Palar. Hamparan jagung, kacang panjang, dan tembakau tercerap menjadi lukisan, dengan lima buruh tani bercengkerama di bawah asuhan rembulan. Lukisan berjiwa tentunya, bukan indie-mooi a la agensi kolonialime 1930-an. Juga bukan sihir visual KML (Keyhole Markup Language) yang menginformasikan peta tanah di Indonesia: Sangat-sangat kritis, sangat kritis, kritis, agak kritis, tidak kritis.

Hamparan sawah Padangan-Daleman dan peta tanah kritis adalah sesuatu yang nyata sebagaimana kelas sosial para kuli di area pertanian adalah pribadi yang berdarah, berdaging, dan berikhtiar. Baik kuli kenceng, kuli setengah, kuli gundul, maupun pengindung. Kuli kenceng ditandai dengan kepemilikan rumah dan sawah. Kuli setengah adalah buruh tani yang tak bersawah. Kuli gundul bersawah tak berumah. Pengindung adalah warga tak berumah dan tak bersawah sehingga menumpang ke kuli kenceng.

***
Sawah, tanah kritis, kelas sosial sebagai hal-nyata dan sudah dinyatakan oleh Mas Raditya di Karangdowo sebagai prakseologi. Dan alhamdulillah, setelah saling berpesan singkat, siang hari Senin Legi, 14 September, saya bisa ngangsu kawruh di rumah Mas Pdt. Raditya Wisnhu P., S.Si., Gembala Jemaat GKJ Karangdowo, Klaten.
“Kita hidup di dalam kekerasan terhadap tanaman, dari yang kita asup sehari-hari. Satu lubang ditanam 10 benih, minimal 7, lha dia tumbuh sudah dalam suasana yang keras, dia harus mengalahkan satu dengan yang lainnya. Nah ini yang kita makan. Tanpa kita sadari, ini yang merangsang otak kita. Kalau kita mulai berpikir masa depan generasi, ya asupannya kita perhatikan. Itu sudah saya sosialisasikan di beberapa tempat. Salah satunya ya pertanian organik ini,” Mas Raditya, yang menyelesaikan Sarjana Teologi dari UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana), Yogyakarta, menegaskan kisahnya.

Pertanian organik adalah alternatif yang dipilihnya dan menjadi jalan pemerdekaan, dengan kisah mengharu-biru.

“Awal penjualan kita belum punya pasar. Kita cari-cari, kita telpon siapa yang mau membeli. Teman di GU, juga LSM Kertajaya, pernah kita hubungi untuk membeli. Terus gereja kota, … saya kontak teman, ‘bikin pasar di gerejamu itu’ untuk penjualan hasil pertanian organik”.

“Hambatannya di tingkat basis yang sama. Pertama, harganya kalau sama ya tak ada gunanya. Kedua, kenapa harus repot-repot. Iya, selalu alasannya kenapa harus repot dengan pertanian organik. Ini bukan hanya di kota, melainkan sudah berlangsung di desa. Mereka maunya instant. Misalnya jika ada hama, ya sudah mereka langsung toko untuk mencari (pembunuh hama)”.

“Ini juga yang saya kritik ke teman-teman PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan). Temuan saya, menurut cerita yang saya dengar, teman-teman PPL sebagai pegawai pemerintah –yang mengadakan MoU dengan perusahaan– mengatur misalkan di sini harus organik, di sini harus pupuk kimia, di sini harus menggunakan pupuk dari perusahaan tertentu. PPL hanya menjalankan apa yang sudah menjadi MoU pemerintah setempat dengan perusahaan. Makanya, warna yang dijual itu, menurut saya, ya hanya itu”.

***
Tanah yang mengandung bahan organik tinggi tentu akan menyerap unsur hara, tetapi tanpa air dan udara, zat-zat tersebut tidak akan bermakna bagi tumbuh-kembang tanaman. Air berfungsi untuk melarutkan zat-zat hara menjadi ion-ion serapan tanaman, sedangkan udara mendukung pertumbuhan bakteri pada akar tanaman yang menggaransi pertumbuhan menjadi cepat. Tentu dibutuhkan ikhtiar untuk memerdekakan tanah agar berbahan organik tinggi.

“Di ajaran kami, jika dilihat di Al-Kitab, nenek moyang sudah mengajarkan untuk memerdekakan tanah. Yaitu dengan 7 tahun menanam, maka tahun yang ke-7 tanah dibebaskan, dengan tidak boleh menanam sama sekali. Jadi, di tingkat teologis sudah selesai. Nah, yang belum terselesaikan adalah bagaimana menyampaikan pesan ini di tingkat grassroot,” terang Mas Raditya, yang kelahiran Kudus dan mengabdi di Klaten.

Saya teringat kliping 2008-an. Setelah Bank Dunia mengumumkan ancaman krisis pangan dunia, yang disebabkan faktor alam, terutama dampak dari pemanasan global, konflik sosial, ekonomi, dan politik, gereja terpanggil dan melibatkan diri bersama umat untuk Hak atas Pangan, kebutuhan pokok manusia yang dijamin haknya oleh Deklarasi HAM PBB. Dan Mas Raditya, bersama komunitas di tingkat basis di Karangdowo, Klaten, sudah berjawab dan menyatakannya.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: