Upacara, Juga Keberpulangan

Kali pertama membaca novelnya, “Upacara,” saat saya masih kelas 1 SMA Purwodadi. Beruntung ibu, yang lulusan SMA BC Purwodafi, mewariskan “Azaz-Azaz Ilmu Bangsa-Bangsa” nya Ali Basja Loebis yang berejaan van Ophuijsen. Om Kartijan, paman yang saat itu bekerja sebagai Jupen Kantor Penerang Purwodadi, juga selalu mengabari jika ada buku baru. Pun, Bu Nik, saat itu guru Bahasa Indonesia yang diperbantukan di SMP Muhammadiyyah Purwodadi menyilakan baca koleksi bukunya.

Dan “Upacara” adalah penjelajahan imaji saya yang pertama tentang Dayak. Saya sudah lupa rincian dan lema ritualnya. Yang saya camkan adalah perjalanan riwayat “aku” dalam novel yang menggugah serta identitas kedayakan mendapatkan kepenuhan makna untuk menanda Indonesia.

Ketika beberapa kali bisa bertandang di tanah-air Borneo, ekstraks “Upacara” selalu memanggil. Liturgi yang ketat dan berjawab dengan pokok soal tokoh “aku” menjadi kekuatan ingatan dan energi gerak. Belakangan saya mendudukkan urutan ritual apapun sebagai “password’ untuk masuk, dengan syarat dan ketentuan berlaku. Ada protokoler untuk bisa sowan di Wantimpres pun ada ketentuan urutan untuk bisa meng-install Corel Video Studio atau Adobe Audition.

Saya beruntung saat Mas Denny Paulus, yang temannya Mas Dian Ade Permana dan Mina Nila Riwut, berkenan untuk mengilas sesuatu-tentang-Dayak berdasar sudutpandang episteme warga Dayak. Borneo pun terbayang dengan imaji, juga dengan lapisan-lapisan nalar yang tak di-resmi-kan. Misal, bagaimana teoritisasi hasil wawancara tentang tatoo dengan Damang Salilah sekian dekade yang lalu tetap dirujuk sampai sekarang di Eropah.

Beranjak dari password “Upacara,” saya memberinya kode script-to-Borneo. Demikian halnya script-to-Java adalah penghormatan saya ke Mas Hangno Hartono, Syafaad Noor Rohman, Agus Sulistijono dan para penghayat yang hendak mewakafkan karya Kakawin Lempuyangan.

Hatta, Allah berketetapan novelis “Upacara” sudah terpanggil dalam perjalanan suci ke sorga, pada Kamis 19/11. Sugeng kondur, Pak Korrie Layun Rampan. Matur sembah nuwun untuk susastra yang menggugah.

Sugeng kondur juga untuk Mas Jadi, Semarang, Rabu 18/11. Ingatan masa kecil saban bersilaturahmi ke keluarga Pakde & Bude di rumah Bongsari, Semarang Barat adalah isian panjang riwayat saya. Melihat lukisan cahaya perbukitan Semarang, jalan kaki ke Gedung Batu Simongan, menonton balapan trail di Manyaran, menyusuri tambak Kendal, menjemput di Museum Ronggowarsito: Dan menjadi sahabat saat saya dalam situasi pelik. Ya Rabb, tempatkan almarhum di tempat terbaik dan teradil. Al-Fatihah.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: