Nasi Goreng Pak Mrajak

mrajak1

Lokasi: Dukuh Geneng, Desa Palar, Trucuk, Klaten

Rabu Kliwon, petang hari, 2 Desember 2015, baru beranjak menuju Kamis Legi. Sisa hujan sore meninggalkan aroma yang khas di jalanan konblok di Dukuh Geneng, Desa Palar. Pelan dan pasti saya langsung menuju ke Pak Mrajak.

Sejumlah ibu-ibu sudah menunggu di samping gerobak Pak Mrajak. Tak lama berselang, seorang bapak, dengan bersepeda, berhenti, menyodorkan rantang, dan memesan mi rebus. Saya pun memesan nasi goreng, yang oleh Mas Bondan “Mak Nyus” Winarno disebut dengan “menu darurat”.

“Kok sore banget, pak?” Sapa seorang ibu. Saya mengiyakan dan sebenarnya tidak tahu harus menjawab apa. Tikar digelar di teras rumah, tepat di belakang gerobak. Pak Mrajak masih sibuk meracik bumbu untuk mi goreng, yang sudah ditunggu pemesannya. Tidak lama berselenag, setelah membungkus mi goreng, Pak Mrajak membuatkan teh terubuk bergula batu untuk saya, dan kembali menyiapkan nasi goreng pesanan sebelumnya.

Saya mencerap interaksi yang terbangun di warung. Ada Pak Mrajak, ada sejumlah pembeli/penunggu, sesekali pengendara motor menyapa dengan anggukan kepala, dan ada sejumlah teman yang saya tunggu. Saya juga mengingat kuliah Sejarah Filsafat dari Pak (Alm.) Endang Sukarlan di kampus Karangmalang: Ruang terbuka di negara-kota Athena Kuno dinyatakan kehidupan publik di pasar. Ruang (sphere), terbuka (koine), negara-kota (polis), kehidupan publik (bios politikos), dan “agora” (semacam pasar). Di ruang terbuka, warga Athena memperoleh pengakuan dengan sejumlah ujian debat. Model Athena itu, oleh Jürgen Habermas, dilacak saat Abad Pertengahan di Eropa melalui warisan hukum Roma Kuno, selanjutnya melintasi Abad ke-14, Abad ke-17, ke-18, sampai abad ini.

Dan di abad ini, di awal Desember 2015, saya menemukan petanda kepublikan di warung Pak Mrajak dengan nasi goreng dan teh terubuk bergula batu sebagai penandanya. Ada interaksi yang ternyatakan dengan kosakata keakraban dan bahasa tubuh yang ramah antara penjual, pembeli, dan antar-pembeli.

“Saya memulainya di Klender pada 1978, dengan berjualan keliling mi goreng atau rebus. Harganya? Rp 50 per porsi,” Pak Mrajak atau Pak Dirjo berkisah sambil menyiapkan pesanan mi rebus. “Saya termasuk warga Klaten yang merintis jualan mi di Jakarta”.

“Baru setahunan ini saya memulai kembali berjualan mi dan nasi goreng di Geneng. Memang sebelumnya saya sudah berjualan di sini, tetapi saya ke Jakarta. Anak-anak mengabari bahwa sejumlah pembeli atau pelanggan berkeberatan ketika saya tinggal. Akhirnya, saya memutuskan untuk kembali di sini,” lanjut Pak Mrajak.

Waktu terasa melambat di warung Pak Mrajak saat sejumlah bapak-bapak berdatangan, memesan nasi goreng, mi, atau teh. Perbincangan terselenggara, dengan bahasa yang sesekali melampui Indonesia. Kosakata “dunia” dan “umat manusia” yang baru lazim pada Abad ke-17 diulang di Geneng, di Abad ke-21 ini, dunia-para-pembincang. Indonesia hanyalah satu bahasan di warung Pak Mrajak, di samping pergerakan harga tembakau, biaya produksi pengasapan tembakau, budidaya kacang panjang, juga undangan pernikahan dari teman atau mencari kejelasan satu atau dua pokok-soal.
mrajak5
Rabu Kliwon pun besok diganti dengan Kamis Legi, dan seterusnya, serta diisi dengan ikhtiar. Di warung Pak Mrajak, kerja diseimbangkan melalui interaksi dengan tetangga. Kepublikan terjaga dengan silaturahmi teh terubuk sampai tengah malam, kedaruratan rasa lapar terasup dengan nasi goreng. Di Dukuh Geneng, tak jauh dari makam Eyang Ronggowarsito, di Dukuh Kedon, Desa Palar, saya mencerap ruang-ruang publik yang diikhtiarkan Habermas.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: