Sumeleleh: Herman “Gus Her” Widianto dan Petanda yang Melampaui Realitas Kekerasan

GusHer

Herman “GusHer” Widianto. Foto: Koleksi Adib Susila-Siraj

Kamis Kliwon, 11 September 1980, saat menerima Theodor W. Adorno Prize di Frankfurt, Jürgen Habermas berujar tentang modernisme sebagai projek yang tak selesai (“Die Moderne: ein unvollendetes Projekt”). Pada Maret 1981, ujaran itu diantarkan lebih lanjut dalam perkuliahan di New York University dan dipublikasikan dengan judul “Modernity Versus Postmodernity” di New German Critique 22 (1981). Meme “Modernity: An Unfinished Project” pada 1980 yang dicetak-ulang menjadi “Modernity: An Incomplete Project” menanda ihwal modernitas dalam peradaban, terutama dalam pengalaman Barat. Pada awal tulisannya, Habermas menyoal Architecture Biennial, pegelaran dwi tahunan, di Venesia, yang juga diikuti pelukis dan pembikin film. Untuk lengkapnya, sila merujuk Maurizio Passerin d’Entrèves and Seyla Benhabib (Eds.), 1996.


Jauh sebelumnya, pada 1989 di Jogja, saya sempat mengikuti debat pasca-Gerakan Anti Kekerasan yang digulirkan Taufik Rahzen, Rizal Mallarangeng, dkk. Pada 2000-an, oleh Mas Adib Susila, saya diperkenalkan dengan Herman “Gus Her” Widianto. Dan melalui Pameran Tunggal Seni Rupa Herman, “Sumeleleh,” di Bentara Budaya Jakarta, 3-11 Desember 2015, Gus Her menggugat modernitas yang masih selalu dibayangi kekerasan:

Saya harap ketika Anda melihat karya ini, Anda akan bercermin. Tidak sekadar fisik, tapi kilatan ingatan kolektif dari beberapa waktu lalu. … termasuk ancaman nuklir di masa mendatang.

Modernitas, kekerasan, dan bagaimana umat manusia menyikapinya, telah menjadi pokok soal kebudayaan. Dalam penelusurannya tentang sejarah modernitas, Habermas juga menemukan bahwa lema “umat manusia” mulai lazim digunakan pada Abad ke-17 di Barat, terutama melalui surat-menyurat yang mengabarkan perjumpaan dengan penghuni dari benua bukan-Eropa. Tentunya juga catatan-catatan perjalanan tentang kekerasan.

***
Sungguh tak elok menulis tentang Pameran Tunggal Seni Rupa Herman “GusHer” Widianto yang sekaligus pameran perdananya Gus Her. Pasalnya, saya tidak melihat secara langsung. Saya meminta maaf ke perupanya, Gus Her, yang sebenarnya sudah berkirim pesan pendek pada Senin Pon, 30 November kemarin.

Dan alhamdulillah, dari Mas Adib Susila, saya sudah menerima undangan resmi pembukaan beserta katalog pameran. Cukuplah untuk menyulang proficiat.

***
Pada awalnya, ingatan tentang kekerasan yang dialami umat manusia bersifat kolektif. Kekerasan apapun yang dialaminya akan disikapi, dikisahkan, dan dikisahkan-kembali, agar modus kekerasan tak terulang. Linimasa modernisme merekamnya dengan media apapun. Dalam perkembangannya, dengan bergulirnya waktu, kekerasan menjadi sesuatu-tentang-kekerasan dan ingatan yang bersifat kolektif menjadi selektif.

Apa yang saya alami saat “Kusumanegara Berdarah,” Jumat Wage, 8 September 1989, dalam perkembangannya terseleksi dalam ingatan: Shalat jumat di jalanan depan Pengadilan Negeri Yogyakarta, tentara dengan M-16, sahabat BS, BIN dan BTN; juga sikap saya yang bersembunyi di warung setelah sejumlah demonstran dipukul dan ditarik paksa. Ingatan saya semakin terseleksi dan ini bukan hanya ihwal tentang kekerasan “Kusumanegara Berdarah” atau saat akan dipalak di dermaga Palembang.

Ingatan umat manusia yang selektif tentang kekerasan inilah yang hendak dibelajarkan oleh Gus Her dengan cermin penyikapan “Sumeleleh”. Dengan bergantinya waktu, kekerasan yang melekat di dalam gerak modernitas yang selalu melintas tempat, hendak didudukkan melalui karya rupa Gus Her. Pengunjung pameran tentu lebih bisa mencerapnya.

Jika Habermas masih dan tetap meyakini cermin tindakan komunikatif, Gus Her meniscahkannya pada cermin sikap ugahari: Sumeleh dan meleleh. “Sumeleh” adalah lema Jawa yang dituturkan sebagai “semeleh” berasal dari kata “seleh” dengan sisipan “um” [s-um-eleh] yang berarti meletakkan. Dalam tarekat Jawa, pemaknaan “sumeleh” beragam, tetapi bisa dikilas sebagai sikap berserah.

Saya tidak mengetahui apakah Gus Her lewat karya yang dipamerkan juga menelaah sudut-pandang kemanusiaan tentang kekerasan. Manusia sebagai orang, sebagai warga yang bernegara, sebagai makhluk ciptaan Tuhan, atau melulu sebagai konsumen dan/atau khususnya pembeli kekerasan. Ingatan yang selektif tentang kekerasan sebagai warga negara barangkali akan berbeda penyikapan dengan makhluk yang bertuhan. Sebagai warga negara, saya bisa menggugat kekerasan aparat di Indonesia, sebagai makhluk yang cenderung dikalahkan pemilik modal saya akan mendaras Kitab Tuhan di serambi masjid, dan sebagai pembeli konsumen? Inilah yang menjadi pokok-soal ketika modernitas melahirkan homo finansialis dan homo connectus, sehingga kita harus memakna-ulang sumeleh atau berserah diri di antara komoditas yang diperdagangkan, termasuk bisnis kekerasan.

Di Kompleks Makam R. Ng. Ranggawarsita, di Dukuh Kedon, Desa Palar, Trucuk, Klaten, Koh Hwat menulis sajak “ranggawarsita” (rame nggawa warna wursita), yang pada bait ke-3:

piye sajanjane maknane uriping manungsa / uger tumindake sumeleh ditampa dening sasama

Gus Her mengajak kita bercermin tentang kekerasan apapun dengan sumeleh, berserah: Penyikapan yang diterima oleh sesama, untuk melampaui realitas kekerasan.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: