Sunduk Pak Be, Sektor Informal, dan Mewarga

Jika Puan dan Tuan tengah menikmati gurihnya setusuk rasa bakso ojek di Klaten atau tempura di Semarang, boleh jadi tusuk bambunya bikinan Pak Be. Atau, jika Puan atau Tuan sedang memegang es krim di Salatiga, barangkali pegangan bambunya buatan Mas Giyanto.

Pak Be, Mas Giyanto, atau Mas Gi –begitu saya biasa menyapanya– adalah warga Dukuh Daleman, Desa Palar, Trucuk, Klaten. Mas Gi lahir di Mandong, Trucuk, Klaten, anak kedua dari lima saudara, berbilang tahun blusukan di Papua, sekarang tinggal di Daleman bersama isteri dan dua anaknya. Dari Mas Gi, saya bukan hanya belajar bagaimana berjual-beli kambing, melainkan juga, dan ini yang terutama, mewarga.

Konsekuensi profesional dari berbisnis kambing adalah keharusan untuk mengenali peternak kambing dan pasar hewan di bilangan Klaten. Ketatnya persaingan bisnis antar-pedagang mensyaratkan relasi sosial antara Mas Gi dengan peternak kambing dimanapun dan sekaligus relasi bisnis Mas Gi dengan sesama pedagang di hari-hari pasaran di Klaten dan kabupaten sekitar Klaten. Dan perubahan kebijakan dari pemerintah, misalnya, adalah kondisi yang niscaya ditanggung Mas Gi dengan ukuran keberlanjutan berikhtiar untuk menafkahi keluarga. Perubahan dan percepatan perubahan mode berbisnis inilah yang membentuk etika profesi yang harus disikapi Mas Gi dengan cepat pula. Ada kepercayaan yang dibangun dengan jatuh-bangun, terdapat pengharapan yang berproses dengan satuan tahun. Dan begitulah bisnis sebagaimana keseharian bergulir.

Hatta, dari “ijtihad” Mas Gi pada pertengahan 2000-an juga terbangun skema bisnis “sunduk”. Sunduk adalah bilahan bambu dengan ukuran tertentu berdasarkan pesanan. Sunduk bakso berbeda ukuran dengan sunduk atau tusuk es krim dan seterusnya. Meminjam trias-economica Romo B Herry-Priyono, Mas Gi yang membikin sunduk dari bambu petung membutuhkan relasi tiga faktor: Modal finansial (money/capital), tenaga kerja (labour), dan tanah (land) sebagai situs produksi sunduk maupun lokasi dari mana bahan dasar bambu diperoleh. Jadi, Mas Gi membutuhkan modal uang, 19 perempuan di Desa Palar yang membikin sunduk, serta tanah Daleman untuk membikin sunduk dan tanah Ponorogo tempat bambu petung dibudidaya. Dilihat dari Desa Palar, Dukuh Daleman adalah partikularitas spasial atau wilayah geografis tempat hidup komunitas pembikin sunduk berproduksi. Daleman menjadi “patria,” kosakata Latin untuk menisbahkan tanah air di mana manusia mewarga dengan bekerja. Sedang “tenaga kerja” merupakan istilah ekonomi mikro bagi “warga negara” (citizen) Desa Palar untuk lingkup makro. Dan Mas Gi sudah memilih “teknologi” sebagai evolusi dari faktor “tenaga kerja” berupa gergaji dan pisau, bukan mesin.

Sunduk sebagai penanda bakso ojek, cimol, atau es krim, sekaligus menjadi petanda ikhtiar Mas Gi untuk kerja, kerja, dan kerja. Tidak ada pidato berjura-jura, tak ada pemotongan pita oleh pejabat. Ke-19 perempuan yang membikin sunduk di rumah selanjutnya akan menyetorkannya ke Mas Gi. Di warung mas Gi yang sekaligus berfungsi sebagai gudang, kualitas sunduk dijaga dan akan dibeli oleh pedagang dari Klaten, Salatiga, Semarang, dan dari manapun. Trias-economica sunduk bergulir, dari Ponorogo, di Daleman, menyebar di sejumlah tempat di Jawa Tengah. Dari sunduk Mas Gi, identitas Daleman dibangun dan disebarluaskan. Trias-economica sunduk dilampaui klaim manusia yang berikhtiar untuk mencari nafkah. Manusia itu menjadi warga negara Indonesia: Pembudidaya bambu petung di Ponorogo, sopir truk yang mengangkutnya ke Klaten: Juga Mbah Kuwat yang menggergaji bambu untuk menyiapkan bahan dasar sunduk, Mbah Sipi yang membilah bambu dan menghaluskannya dengan injakan kaki menjadi sunduk, atau Pak Parno yang mengantarkan ikatan sunduk.

Jika Puan dan Tuan tengah menikmati lezatnya setusuk rasa penganan, ada proses panjang dari suatu tempat di Republik ini. Tempat itu adalah “tanah-air” Dukuh Daleman, Desa Palar, Trucuk, Klaten: Satu dari 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. Salam dari Palar.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: