Dul Day Martabak: Ikhtiar Besar Mas Dayat

Musik: Caravanes (Spectacle de Danse Orientale)
2016

Buat Mas Widayat, berjualan martabak, adalah ikhtiar besar untuk bertanggung jawab sebagai kepala rumah tangga. Dan ikhtiar itu telah menjadi narasi besar, sejak dari Bayat, Klaten; merantau di Jalan Budi Utomo, Timika, Papua, 2008. Jatuh bangun karena kondisi keamanan, dua kali berpindah lokasi jualan pada 2010; dan pilihan etis untuk merantau di Banguntapan, Bantul, 2015.

Narasi martabak dimulai di Yaman, saat para diaspora India berjualan “mutabbaq,” kosakata Arab yang berarti “melipat”. Penganan ini awalnya merujuk pada istilah “murtabak”atau roti lipat yang dijajakan oleh para “mamak” (sapaan “paman” dalam bahasa Tamil, India). “Murtabak” atau “mutabar” adalah dialektika istilah yang berakar dari dua kata: “muta” (telur) dan “bar” atau “barota” (roti bratha). Jamak tahu, roti dari gandum merupakan asupan harian di Asia Selatan dan Timur Tengah, yang selanjutnya menyebar ke Malaysia, Brunei, Singapura, Indonesia, dan seantero dunia.

Dan Mas Dayat terlibat dan melibatkan diri dalam narasi martabak ini sehari-hari, dari sore sampai malam: Martabak telur dan martabak manis (terang bulan). Narasi yang telah menyesuaikan diri dengan citarasa konsumen, baik pembeli atau bahkan pelanggan. Narasi yang dijaga dengan bahan-bahan pilihan, bumbu terbaik, adonan terelok, dan keramahan yang terjaga. Sebab segigit martabak telur dan martabak manis adalah keterhubungan yang menjaga hati, juga keberlangsungan penjualan, antara Mas Dayat dan pelanggan.

Jika Puan dan Tuan di Malaysia, “apam balik” atau martabak manis adalah sarapan yang terasa legit dengan segelas teh tarik. Sedangkan martabak telur, yang disebut “murtabak” atau dengan variasi “martabak kosong,” adalah pengantar bincang-bincang nan lezat. Maka jika Puan dan Tuan di Bantul, Indonesia, martabak dan terang bulan tentulah penganan “mutabbaq” yang menghargai citarasa. Citarasa “mutabbaq” yang menanda keunikan masing-masing tempat dan linimasa riwayat sosial. Citarasa “mutabbaq” yang mengakrabkan perbincangan Puan dan Tuan dengan silaturahmi tatap-muka, yang tetap tak tergantikan oleh smartphone.

Buat Mas Dayat, berjualan martabak adalah ikhtiar besar, pengelolaan dengan sepenuh hati, dan menjaga sesrawungan. Dan inilah ikhtiar besar atau narasi besar Dul Day martabak sebagaimana dicerap Mas Dayat. Jadi, bila Puan dan Tuan bertandang di Bantul, dengan sebungkus tanda cinta martabak Dul Day? Tabik.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: