Kang Maman


maman

Koleksi foto: Agus Subagyo

Minggu 5/2/2017

Saya berada di posisi yang berhadapan dengan njenengan pasca-lobi setengah kamar yang gagal mencapai kesepakatan. Macet dan cenderung ke “zero zum logic”. Permainan kian ramai di sejumlah pemberitaan media Jogja ihwal pemilihan pimpinan Dewan 1999-2004, Malioboro 54. Saya hanyalah politikus muda satu kursi dari partai gurem dan tanpa latar partai politik sebelumnya.

Pada akhirnya, PPP yang berkursi tiga gagal menjadi unsur pimpinan Dewan dan “dikalahkan” oleh PK yang satu kursi. Saya memahami kekecewaan njenengan dan saya maklum saat dianggap menjadi faktor penggagal. Sebagai penghayat Habermasian, saya juga tak menginginkan kemacetan. Saya percaya dialog dan bukannya monolog. Tetapi senyatanya njenengan adalah politikus yang menyerang. Dan petarung beramunisi banyak.

Jadwal yang sudah ditetapkan Panmusy pun bisa njenengan lobi untuk disesuaikan sebagaimana risalah Pansus yang administratif banget bisa menjadi anekdot saat hendak dijadikan Pendapat Akhir Fraksi dalam Rapat Paripurna. Setiap anggota dan terutama pimpinan Dewan selalu njenengan rentangkan sebagai komedi dan sekaligus tragedi: Apalagi jika sudah terhidang tengkleng bersama Muspida DIY.

Tetapi njenengan menjadi penyambut pertama bersama Pak (alm.) Marhabban Fakih ketika saya keluar dari “suaka” kampus UII. Adalah Kang (alm.) Khairuddin yang meminta saya untuk secepatnya keluar dari TKP ruang Fraksi sebab saya menjadi target utama pencarian oleh salah satu ormas. Saya tak mungkin ke DPW di Kotabaru atau pulang ke kontrakan di Banguntapan. Setelah berhening di serambi Wotgaleh, saya ke kampus Cik di Tiro, almamater njenengan. Petang menjelang dimulainya Rapat Komisi, Kang (alm.) Khairuddin menelpon bahwa kondisi sudah aman. Saya kembali ke Dewan, numpang mandi tanpa berganti pakaian, dan njenengan sudah menunggu di depan ruang FTNI-Polri.

Kang Maman, njenengan sudah memilih jalan parpol itu dan mempertahankannya dengan kehormatan. Saya sungguh belajar banyak dari njenengan selama lima tahun, meski saya sudah lama tak melewatinya lagi. Sugeng kondur, Kang Abdurrahman. Dunia partai politik Jogja kehilangan salah satu penggeraknya. Semoga Bu Lilik dan keluarga tabah. Kita telah teraudit oleh para malaikat yang akan melaporkan hasilnya ke Pemberi Order, Allah yang Maha Rahman. Al-Fatihah.

Iklan

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: